Perasaan lega Raya rasakan saat mendengar penjelasan dari mamanya. Pukul 20.30 Rose dan yang lain baru pulang. Aktivitas mereka hari ini membuahkan hasil, teman Mitha yang berprofesi sebagai dukun itu sanggup menindaklanjuti laporan Mitha secepatnya.
Sebut saja dukun kenalan Mitha itu dengan nama Bu Suli. Usianya sudah cukup renta, sekitar 72 tahun. Beliau tinggal di Kota Bandung.
Menurut arahan Bu Suli, mulai jam 12 nanti beliau akan mencari keberadaan Nyai Beta. Mitha hanya perlu menunggu maksimal 2x24 jam. Di samping itu, mereka harus menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk ritual penyembuhan Aletta.
Ya. Tujuan mereka melakukan semua ini hanyalah untuk menyembuhkan Aletta.
Satu kali dua puluh empat jam berlalu. Alat dan bahan untuk keperluan ritual sudah terkumpul. Ada garam kasar, 2 buah gunting, cermin, daun kelor, dan bambu kuning.
Semua orang masih menunggu kabar dari Bu Suli untuk tindakan selanjutnya.
Kini, Raya sedang berada di kamar tamu. Lebih tepatnya, kamar tempat Aletta berada. Sampai semuanya tuntas, Aletta memang akan tetap tinggal di kediaman Bimantara.
"Hai." Aletta yang memang sedang duduk bersandar di atas kasur, menyapa terlebih dahulu saat melihat kedatangan Raya.
Raya tersenyum hangat. Gadis itu mengambil posisi duduk di pinggiran kasur tempat Aletta berbaring. "Gimana keadaan lo, Al? Membaik?"
Aletta tersenyum kecil. "Ya, lumayan. Masih jam sebelas siang soalnya."
Tanpa perlu mencerna lebih lama, Raya tau maksud di balik ucapan Aletta. Ia menghela nafas berat. "Lo yang sabar ya, Al. Gue yakin, semuanya pasti selesai sebentar lagi. Lo pasti baik-baik dan bisa balik seperti semula."
Melihat raut sedih di wajah Raya, Aletta tersenyum. Kepalanya mengangguk yakin, membenarkan ucapan Raya. "Gue juga yakin. Gio beberapa kali cerita ke gue kalau keluarga kalian lumayan sering menghadapi kasus kayak yang lagi gue alami. Bahkan, cerita waktu tante Rose masih kecil. Gue inget banget. Sejak saat itu, gue kagum banget sama nyokap lo, Ray."
"Hm, mama gue emang sekeren itu," ucap Raya.
Aletta tersenyum manis, membayangkan kembali cerita tentang Rose yang pernah ia dengar dari Gio. Kemudian, ia melanjutkan, "Dari semua cerita Gio, belum pernah ada aksi yang keluarga lo gagal lakuinnya. Mangkanya gue yakin banget, kali ini juga pasti berhasil."
Raya tersenyum lega. "Gue lega banget dengernya. Nggak nyangka, ternyata abang gue yang tengil itu bisa juga ngetreat ceweknya dengan baik."
"Masa sih?" Aletta tertawa. "Emang Gio belum pernah bucin sebelumnya?"
Dengan cepat Raya menggeleng. "Lo pacar pertamanya."
"Waw! Spesial dong gue?"
"Yes, you are!"
Dua gadis itu tertawa. Membicarakan hal-hal random di tengah situasi tegang begini memang diperlukan. Setidaknya, mereka bisa sejenak mengenyah pikiran-pikiran negatif tentang hal-hal buruk yan terjadi belakangan ini.
"Ngomong-ngomong, gimana kabar Nadia dan Malika?" tanya Aletta. "Kayaknya udah lama gue nggak lihat mereka."
Pertanyaan Aletta yang satu itu membuat Raya terdiam. Benar. Rasanya sudah lama dia tidak melihat mereka. "Kalau Malika, dia sibuk bantuin ibunya. Kemarin terakhir gue masih ketemu sih. Tapi kalau Nadia, entahlah."
🥑🥑🥑
Lokasi keberadaan Nyai Beta sudah ditemukan. Waktu menunjukkan pukul 23.36 saat Genta dan pasukannya berhasil membawa Nyai Beta ke kediaman keluarga Bimantara.
KAMU SEDANG MEMBACA
RALILAC
Horror"Ada yang bisa bikin kamu pergi dari aku nggak?" "Ada." "Apa?" "Kalau bola mataku ketemu." *** Ini kisah 'sederhana' antara Raya dan teman tak kasat matanya, Lilac. Si setan gemoy yang selalu ada di setiap momen dalam hidup Raya, meski Lilac sendiri...
