BAGIAN : 16

2.9K 49 4
                                        

"Angga?"

"Ya Aku Rangga yang tadi siang bertemu denganmu"

Linggar tak bisa mempercayai jika pertemuan itu terulang kembali. Ah betapa bahagia hati gadis SMA itu ketika memandang wajah Rangga yang kini sedang duduk di teras rumahnya. Lampu teras yang cuma 10 Watt itu cukup terang perlihatkan wajah tampan Rangga. Tapi pemuda itu lebih suka menunduk menghindari lampu yang sangat terang. Linggar menengok ke kamar dalam mengecek apakah Bu kades ada, Ketika yakin di rumah tidak ada siapa- siapa Linggar berani melangkah keluar mendekati Rangga untuk duduk bersanding.

"Bagaimana kamu bisa tahu rumahku?"

"Gadis secantik kamu gampang sekali mencari rumahnya"

"Ah bisa saja kamu"

Mata kedua remaja itu saling bertemu dan Rangga suka menatap lama tanpa kedip hingga Linggar tersipu dan menunduk.

"Rumahmu dimana sih?"

" Dijauh. Tapi aku bisa datang menemui kamu kapan saja jika kamu bayangkan aku dan sebut namaku" kata Rangga.

Ah semudah itu ingin bertemu dengan Rangga yang sangat tampan itu. Kata Linggar dalam hati.

"Bagaimana kalau aku mau kau antar aku besok ke sekolah?"

"Bisa kok."

"Bisa? Bener ya?"

"Tapi aku sekarang mau pulang dulu." kata Rangga yang beranjak dari duduknya.

"Kok buru- buru sih?"

"Aku gak mau ganggu kamu belajar."

"Ooo oke deh."
Linggar menjabat tangan Rangga yang dingin seperti es, kemudian melepas pemuda itu berjalan dibalik kegelapan pohon mangga.

**"
Linggar ingat dongeng mamanya kala ia masih balita tentang gendruwo yang sebenarnya sangat tampan itu suka menggoda gadis secantik Linggar. Linggar memang terlahir sangat cantik mirip putri sinderella.Kulitnya yang putih bersih dengan bibir merah belah pinang, dan bulu mata yang lentik sangat sempurna. Madihbdalam gendongan saja, tetangga suka gemes memandangi pipi Linggar yang chubby.

"Gendruwo itu bisa menjelma manusia yang sangat tampan jika melihat putri secantik Linggar." kata mamanya.

"Tapi Iga takut ma sama Uwo." kata balita Linggar.

"Ya udah Iga bobok dulu ntar Uwo datang kalau gak bobok"

Ingatan Linggar tentang gendruwo jadi berubah sejak Linggar bertemu dengan Rangga. Tapi kenapa sih aku jadi teringat cerita tentang gendruwo? gumam Linggar dalam hati ketika mau tidur.

***

Esoknya seperti biasa habis mandi Linggar masuk kamar berdandan dan menyiapkan peralatan sekolah seperti tas gamblok dan buku, serta labtop yang dimasukkan ke dalam tas.

"Nih Nggar, sarapan dulu" kata Bu kades yang sudah siapkan nasi liwet dengan lauk ayam bakar.

"Inggar mau minum susu aja ma."

"Sedikit saja, yang penting perutmu harus isi"

"Aachh.males"

Akhirnya Linggar mau juga walau cuma dua sendok nasi dan menggado sepotong ayam bakar.

"Tuh kan.Kebiasaan. Kamu nanti kalau olah raga gak kuat lho perut kosong"

"Kan jajan."

Gara- gara anak semata wayang sangat dimanja pak kades tiap berangkat sekolah dikasih sangu/ bekal 100 ribu.

DIHAMILI GENDRUWOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang