7. Elbara dan Shella

11.8K 799 10
                                        

Elbara terus mengumpat di dalam hatinya karena mobil seseorang yang dia benci memasuki lingkungan SMA Dirgayaksa. Elbara tidak memedulikan orang tersebut yang terus memanggil namanya. Cowok itu terus berjalan sembari menggandeng tangan Raymond.

"Elbara! Berhenti!"

Elbara sama sekali tidak menggubris orang itu. Raymond menarik-narik baju papanya. Anak kecil itu seperti penasaran dengan seseorang yang sejak tadi terus memanggil papanya.

"Papa, itu capa, Pa? Kok anggil-angil Papa?"

"Bukan siapa-siapa. Ayo cepet jalannya, Sayang. Nanti kita beli sosis sama susu di kantin, ya."

"Mau loti oklat, Pa," pinta Raymond.

"Iya, nanti Papa beliin," balas Elbara.

Orang itu berhasil menyusul Elbara. Elbara menyimpan barang dagangannya terlebih dahulu, lalu cowok itu membiarkan Raymond untuk berlindung di belakang punggungnya. Anak kecil itu terus menatap seorang lelaki yang mengenakan setelan jas hitam.

"Papa," panggil Raymond. "Capa, ia, Pa?" Raymond menunjuk ke arah Ryan———omnya Elbara.

Elbara menyejajarkan tubuhnya dengan Raymond. Tangan kekarnya bergerak membuka topi Raymond, lalu Elbara mengusap keringat anaknya. "Raymond tunggu di sini, ya. Papa ada urusan sebentar," kata Elbara.

Raymond menggeleng. "Ikut, Pa! Lay ikut!" serunya.

"De Raymond mau ini, gak?" Seorang siswi mengarahkan satu es krim cokelat ke Raymond. Raymond melirik ke arah papanya seolah meminta izin. Raymond melompat kala papanya mengangguk. "Maacih, Papa," ujarnya.

"Raymond ikut dulu sama Kakaknya, ya."

"Ciap, Pa." Raymond menarik tangan seseorang yang berdiri di sampingnya. "Ayo, Kak! Kita pelgi!"

"Mau ngapain Om ke sini?"

Ryan terkekeh. "Ngapain juga kamu malah juallan cilok kayak gini, Elbara Arjuna Ragaspati!" Ryan menendang barang dagangan Elbara sekuat tenaga. "Malu-maluin!"

Rahang Elbara mengeras. Cowok itu melayangkan pukulannya ke rahang lelaki di depannya. "Masalahnya di mana kalau gue jualan cilok, Om? Om bilang tadi malu?" Elbara terkekeh. Dia tidak menyadari kalau ujung matanya mengeluarkan air mata. "Kenapa Om harus malu? Kan, yang jualan gue bukan Om!" murkanya.

"Elbara seharusnya kamu sadar diri kalau istri kamu itu cuma jadi benalu di hidup kamu!"

"Istri yang kamu bangga-banggakan yang menyebabkan hidup kamu jadi miskin kayak gini!"

"Seharusnya Om juga sadar diri! Om enggak seharusnya ngurusin kehidupan orang lain! Sebaiknya, Om urus tuh istri-istri Om yang enggak keurus! Atau jangan-jangan Om Ryan mau nambah istri lagi, ya?"

Raut wajah Ryan memerah. Ryan menampar pipi keponakannya dengan sekuat tenaga. Bunyi tamparan yang sangat keras itu membuat siapa saja yang menyaksikan hal tersebut berdesis ngilu.

"Papa!"

"RAYMOND!"

Siswa-siswi meneriakki Raymond yang berlarian menghampiri Elbara yang sejak tadi masih dijadikan samsak oleh Ryan. Tidak ada satu pun yang berani memisahkan mereka karena Ryan dan Elbara sama-sama keras kepala. Emosi Ryan masih belum padam. Lelaki itu mengangkat kaki yang berbalut sepatu kulit warna hitam untuk menendang Elbara. Namun, tendangan keras itu malah mengenai kaki Raymond.

"OM!" sentak Elbara.

Elbara langsung menggendong  Raymond. Anak kecil itu  menangis. Raymond mengusap matanya yang basah. Sorot mata Elbara menghunus tajam memasuki netra Ryan. Napas Elbara memburu. Tangannya bergerak mencengkeram kerah kemeja Ryan dengan kencang.

ELBARAKAYLA [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang