39. Kabar buruk

4.4K 417 49
                                        

Pintu kamar terbuka lebar. Seorang pria paruh baya menghampiri putrinya yang tengah menangis di tempat tidur. Shella mendongak ketika papanya mengusap rambut Shella dengan lembut. Dia dengan cepat memeluk papanya. Menumpahkan tangisnya di sana.

"Shell, kenapa?"

"Kacau, Pa. Semuanya kacau," balas Shella. "Kayla berhasil merebut Elbara lagi. Sekarang mereka sudah baikkan, Pa," lanjut Shella terdengar pilu.

"Jangan menyerah, Shell. Papa yakin kalau suatu saat nanti kamu bakal kembali memiliki Elbara." Ridwan melepaskan pelukannya dengan Shella. Tangannya terangkat memegang kedua sisi kepala putri satu-satunya. Tangan kanannya terangkat mengusap buliran bening yang jatuh dari mata Shella. "Dengerin Papa baik-baik. Pokoknya kalau bayi ini sudah lahir, Papa pastikan Elbara akan ada di samping kamu dan anak kalian," ucap Ridwan menenangkan putrinya yang tengah bersedih.

"Nanti anak Shella bakalan punya papa, kan, Pa?"

Ridwan mengangguk diiringi dengan air mata yang tiba-tiba mengalir. Ridwan tahu kalau anaknya ini sangat mencintai Elbara. Shella ingin memiliki Elbara. Lebih tepatnya Shella terlalu terobsesi dengan Elbara. Ridwan sendiri terlalu memanjakan putrinya. Apa yang diinginkan putrinya akan selalu dirinya perjuangkan. Meskipun akhirnya kebahagiaan orang lain yang harus dikorbankan.

"Kasian Elbara hidupnya menjadi menderita setelah dia menikah dengan Kayla, Pa," ujar Shella. "Papa bisa bantu Elbara? Lepaskan papa anak Shella dari Kayla. Kayla itu jahat, Pa. Dia Jahat banget." Tangannya terkepal. Napasnya memburu. "Dia sudah menghancurkan kebahagiaan Elbara! Papa ingat? Dulu Elbara hidupnya baik-baik saja, tapi sekarang? Dia menderita, Pa! Bahkan gara-gara Kayla, Elbara yang seharusnya memimpin perusahaan yang dimiliki papanya malah menjadi pedagang cilok." Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Shella menggeleng. "Shella gak tega lihat Elbara kayak gitu, Pa! Papa harus bantu Elbara. Elbara berhak bahagia dengan Shella, Pa. Bukan menderita dengan Kayla!"

***
Raymond terbangun dari tidurnya. Balita itu melangkahkan kaki kecilnya Keluar dari kamar menuju kamar orang tuanya. Raymond mengerutkan keningnya ketika dirinya tidak melihat orang tuanya di kamar.

"Mama! Papa!"

"Mama, Lay na mimi cucu, ma. Lay aus."

Anak kecil itu tidak lama kemudian menangis lantaran mamanya sama sekali tidak menghampirinya. Raymond tidak tahu kalau mamanya tidak ada di rumah. Anak kecil itu menoleh ketika ada seseorang yang menepuk pundaknya. Orang itu tidak lain adalah neneknya.

"Mama ana? Lay na mimi cucu." Raymond mendongak. Menatap wanita paruh baya yang menggendong Bella.

"Mamanya lagi pergi jemput papa. Raymond mau minum susu?" Raymond mengangguk. "Biar Nenek bikinin, ya, Sayang. Raymond tunggu dulu di sana!" Dinda menunjuk sofa. Dinda menghela napasnya lantaran anak kecil itu menggeleng.

"Lay na papa. Lay na ain baleng papa."

"Bentar. Biar Nenek telepon papa kamu."

Dinda mengurungkan niatnya untuk menghubungi menantunya lantaran ada seseorang yang terus mengetuk pintu. Wanita paruh baya itu melangkah mendekati pintu rumah. Dinda menatap bingung seorang pria paruh baya yang berdiri di depan pintu.

"Bu, Dinda, ya?"

Dinda mengangguk. "Ada apa?"

"Tuan Aditya sama nyonya Rania nyuruh saya untuk jemput Ibu dan dua cucu Ibu ke sini," ucapnya.

"Bentar. Saya mau ajak cucu saya yang pertama dulu. Kamu tunggu aja di mobil," kata Dinda ke sopir Aditya.

Pria paruh baya itu mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu, Bu," ucapnya diakhiri senyuman.

ELBARAKAYLA [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang