Alvano menyelimuti Raymond sampai batas dada. Alvano membiarkan keponakannya tidur satu kamar dengannya. Dia tidak peduli kalau keponakannya akan buang air kecil. Cowok yang mengenakan piyama warna hitam membaringkan tubuhnya di samping Raymond. Tangan cowok itu terlipat di belakang kepala.
"Bos kecil," ucap Alvano. Tangannya terangkat mencubit pipi Raymond dengan pelan. "Jagoannya papa Elbara."
Alvano menurunkan tangannya dari pipi Raymond lantaran ponsel yang dia taruh di meja berdering. Cowok itu tanpa menunggu lama mengangkat panggilan masuk dari asisten pribadinya, Riska. Alvano sama sekali tidak sadar kalau Riska terobsesi memiliki dirinya dan Elbara.
"Kenapa?"
"Selamat malam, pak Alvano. Sebelumnya, saya minta maaf karena sudah mengganggu waktu istirahat pak Al. Tujuan saya menghubungi pak Alvano adalah ingin memberitahu kalau besok pagi jam 9 ada jadwal pak Al bertemu dengan produser Ardian Pradipta."
Alvano menepuk jidatnya. Bisa-bisanya dia melupakan hal itu. Cowok yang menempelkan handphone di telinganya itu menoleh, menatap keponakannya yang tertidur pulas. Alvano sudah janji akan mengajak keponakannya pergi ke kebun binatang, besok pagi.
"Pak Al masih di sana, kan?"
"Iya, masih. Makasih untuk informasinya. Selamat malam, Riska," kata Alvano mengakhiri pembicaraan.
***
Elbara menurunkan istrinya dari gendongannya. Keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Semua mata lebih tertuju ke Kayla. Bahkan, ada orang yang beraninya ngata-ngatain Kayla. Orang itu tidak sadar kalau di hadapannya ada singa galak.
"Aduh! Digendong? Nyusahin banget tuh ceweknya!"
"Gak usah gitu! Mungkin, ceweknya lumpuh."
"Itu cowoknya masa mau sih ngurusin cewek lumpuh? Cantik sih, tapi kalau lumpuh percuma."
"DIEM LO, BANGSAT!" Dada Elbara naik-turun. Matanya yang sudah memerah menatap tajam orang-orang yang tadi membicarakan Kayla di depan minimarket.
Kayla yang berdiri di samping Elbara bergerak cepat menggenggam tangan suaminya. Dia tidak mau kalau nanti suaminya akan kelepasan menampar satu persatu tiga cewek yang ada di hadapan mereka.
"Jangan marah, Sayang."
"Mereka keterlaluan, Sayang. Aku gak terima kalau istri aku dihina seperti itu, Kay. Aku udah janji sama kamu kalau aku akan selalu menjadi orang pertama yang maju kalau ada orang yang berani nyakitin kamu, Kay," kata Elbara yang menatap mata milik istrinya. "Aku akan menepati janji itu tanpa memandang gender, Kay."
Senyum dari bibir Kayla secara perlahan terbit. Cewek itu sedikit berjinjit dan membisikan sesuatu yang bisa membuat cowok itu luluh dengan ucapannya.
"Jangan marah lagi, ya. Nanti aku peluk kamu."
Elbara menggeleng. "Gak mau nanti. Maunya sekarang."
Elbara memejamkan matanya ketika istrinya mencubit lengannya. Cowok itu memasukan tangannya ke saku celana miliknya dan dia mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya. Kayla sendiri merasakan pasokan napasnya habis lantaran jarak Elbara yang sangat dekat. Bahkan, hidung Elbara menyentuh hidung Kayla.
"Nurut atau aku cium kamu di sini?"
"Cium aja kalau berani." Cewek itu menjulurkan lidahnya. Seolah menantang keberanian Elbara.
Kayla terdiam ketika bibir suaminya berhasil menyentuh pipi tembam miliknya. Rona merah dari wajah cewek yang mengenakan kaus oversize itu terlihat begitu jelas di pipi. Elbara sendiri dengan cepat menarik tangan istrinya yang malah diam seperti patung.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELBARAKAYLA [ENDING]
RomanceYang sudah membaca cerita ini, tolong jangan spoiler alur cerita dan endingnya! "𝐋𝐨 𝐧𝐲𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐠𝐮𝐞 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐢𝐧 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐠𝐮𝐞? 𝐋𝐨 𝐠𝐢𝐥𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐠𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚?" Sejak kecil, Elbara sudah ditinggal mamanya. Mamanya lebih...
![ELBARAKAYLA [ENDING]](https://img.wattpad.com/cover/324124535-64-k268887.jpg)