40. Hubungan

3.8K 437 59
                                        

Wanita paruh baya itu tersenyum bangga kepada orang-orang yang berdiri di hadapannya. Setidaknya ada  empat orang pria berbadan besar yang ada di sana. Mereka tidak lain adalah orang suruhan Dinara untuk mencelakai orang-orang yang ada kaitannya dengan Elbara. Hal tersebut dilakukan untuk balas dendam.

"Rencana selanjutnya apa, Bu?"

"Tidak ada yang harus kita lakukan lagi. Selain menunggu hari kematian itu tiba," balas Dinara.

"Nih, ini uang buat kalian. Kalian harus bisa tutup mulut. Saya gak mau reputasi saya hancur gara-gara terlibat dalam kasus kecelakaan yang dialami——" Ucapannya terjeda lantaran handphone miliknya tiba-tiba berdering. Dengan cepat, wanita paruh baya itu merogoh handphone miliknya. Bibir berwarna merah itu tersenyum tipis ketika mengetahui siapa yang menghubunginya. Tanpa menunggu lama, wanita paruh baya itu mengangkat panggilan masuk dari Ryan.

"Mbak, tolong datang ke rumah sakit."

Dinara sama sekali tidak menggubris perintah Ryan. Dinara malah mematikan ponselnya. Wanita paruh baya itu buru-buru masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat ini, arah tujuannya bukan menuju rumah sakit. Melainkan, tempat peristirahatan terakhir Antony Ragaspati.

***
Berbeda dengan Dinara. Vinsilla sudah sangat lelah dengan perbuatan dua anak laki-laki yang sejak tadi tidak bisa diam. Raymond dan Arshaka sejak tadi terus main kejar-kejaran di depan Vinsilla yang tengah menyuappi Bella makanan pendamping ASI.

"Buka mulutnya, Sayang," titah Vinsilla dengan lembut.

Bayi perempuan itu menurut. Hal tersebut membuat Vinsilla tersenyum lega. Setidaknya salah satu anak sahabatnya masih mudah diatur. Beda dengan Raymond yang sedikit keras kepala. Vinsilla terkejut ketika Devano———suaminya menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Cowok yang mengenakan kaus abu-abu yang dipadukan dengan celana jeans warna hitam sama sekali tidak melirik istrinya yang tengah duduk di ruang tengah.

Tidak lama kemudian ponsel Vinsilla berbunyi. Kernyittan di dahinya tercetak jelas ketika mata miliknya menangkap nama seseorang yang menghubunginya.

"Kenapa, Kay?"

"Vin, gue titip Raymond dan Bella, ya. Gue mau nemenin suami gue ke rumah sakit. Sekarang gue dan Elbara lagi di taksi. Motor Devano ada sama pak Satpam yang kerja di rumah sakit jiwa, Vin."

"Elbara kenapa?"

"Suami gue baik-baik aja, Vin. Keluarga Elbara ada yang kecelakaan satu jam yang lalu, Vin. Maaf banget kalau gue ngerepotin lo kayak gini."

"Kayak sama siapa aja, Kay. Pokoknya anak-anak lo aman banget sama gue. Sekarang Bella lagi makan dan Raymond lagi main sama anak gue."

"Lay na mama. Lay na peluk mama."

Raymond menghampiri Vinsilla. Anak kecil itu duduk di samping Vinsilla. Cewek cantik itu tersenyum, tangannya terangkat mengusap rambut Raymond dengan lembut.

"Raymond main dulu sama Arshaka, ya, Sayang."

Raymond menggeleng. "Lay na ulang. Mama inggalin Lay cendilian di ini. Lay na ain baleng mama," kata Raymond.

"Sayang, sama tante Vinsilla dulu, ya. Mama sama Papa ada urusan sebentar. Nanti, Mama beliin mainan sama cokelat, mau?"

"Nanti habis ini kita main sama-sama. Raymond jangan nakal, ya, sayang. Selamat sore jagoan Mama yang paling ganteng mirip Papa."

***
Elbara menarik kepala istrinya agar bersandar sepenuhnya di pundak miliknya. Tangan kekarnya bergerak mengusap rambut istrinya dengan sayang. Usapan lembut dari tangan suaminya berhasil membuat Kayla yang memejamkan matanya karena nyaman.

ELBARAKAYLA [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang