50. Ini serius?

7.7K 479 57
                                        

Jam menunjukan pukul satu dini hari. Shella masih menunggu jawaban dari Alvano. Dia benar-benar penasaran dengan jawaban dari Alvano sehingga dirinya sama sekali belum tidur. Shella mengambil ponselnya yang tiba-tiba berdering. Helaan napas berat terdengar dari bibirnya lantaran yang masuk bukan pesan dari Alvano. Namun, kenapa kini dirinya seakan berharap sama Alvano? Shella mengubah posisinya menjadi setengah duduk. Matanya tertuju ke foto dirinya dan Alvano ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Shell?" Pintu kamar Shella terbuka. Seorang pria paruh baya berdiri di ambang pintu. "Belum tidur?"

Shella menggeleng. "Shella gak bisa tidur, Pa. Shella masih menunggu jawaban dari Alvano. Kira-kira Alvano mau tanggung jawab sama anak ini." Shella mengusap perutnya dengan lembut. "Kayaknya gak bakalan mau. Kan, Alvano cuma mau sama Kayla," lanjut Shella.

Ridwan melangkah ke kamar putrinya. Pria paruh baya itu mendudukan tubuhnya di kasur. Ridwan meraih pergelangan tangan Shella dan menggenggamnya.

"Shell," panggilnya. "Alvano akan tanggung jawab sama bayi yang ada di kandungan kamu," ucap Ridwan meyakinkan putrinya. "Sekarang kamu tidur, Shell. Jangan banyak begadang biar gak sakit." Ridwan mengusap rambut Shella dengan lembut.

***
Alvano naik ke kasur. Cowok itu tiduran dengan posisi tengkurap. Apa yang dikatakan Kayla benar-benar membuat dirinya ikut kepikiran. Alvano takut kalau yang dikatakan Kayla benar-benar terjadi.

"Kak, lo akan bangun lagi, kan? Lo gak akan tidur selama-lamanya, kan? Bangun, kak. Gue gak mau kalau harus kehilangan lo, kak." Air mata Alvano secara perlahan mulai mengalir membasahi pipinya.

Tangis Raymond menggema di rumah besar itu. Alvano mengerutkan keningnya, merasa aneh lantaran keponakannya nangis dini hari seperti sekarang ini. Alvano takut terjadi sesuatu sama keponakannya.

Sementara itu, saat ini Kayla tengah menggendong buah hatinya yang paling besar. Tangis Raymond makin kencang ditambah kini Bella ikut menangis. Kayla menghampiri Bella, cewek cantik itu mengusap rambut Bella biar bayi itu kembali tertidur. Namun, bukannya tidur, bayi itu tangisnya semakin kencang.

"Kay, kenapa?" tanya Alvano. "Siniin Raymond biar sama gue. Lo gendong Bella dulu." Alvano merentangkan tangannya. Bersiap menerima keponakannya.

Raymond menggeleng. Balita menggemaskan itu menjatuhkan kepalanya di pundak mamanya.

"Lay na papa!"

"Iya, Sayang. Sekarang Raymond sama Om pahlawan super dulu, ya. Mama mau gendong Dede Bella."

"Lay na papa! Lay na ain baleng papa, Ma," rengeknya.

Kayla menghela napas berat. Raymond ini keras kepala. Dia ingin keinginannya terpenuhi saat ini juga. Kayla mendongak, menahan bulir bening yang hampir saja lolos membasahi pipinya.

"Sayang, jangan kayak gini."

"Al?"

"Kenapa, Kay?" sahut Alvano yang kini menggendong Bella. Cowok itu duduk di kasur.

"Badan Raymond semakin panas. Gue takut kalau Raymond kenapa-kenapa, Al."

***
Kayla tidak sanggup melihat putra kecilnya yang terus menangis ketika seorang suster memasang infus ke tangan mungil Raymond. Anak kecil yang itu terus menangis dengan sesekali memanggil papanya.

"Al, gue harus gimana?"

"Berdoa biar suami lo cepet sadar, Kay." Alvano menatap sendu keponakannya. Cowok itu berdiri di dekat ranjang, tangannya terulur mengusap rambut Raymond.

Demam Raymond semakin meninggi. Hal tersebut membuat Alvano dan Kayla bersikeras membawa Raymond ke rumah sakit jam tiga pagi.

"Kay, lo istirahat aja. Raymond biar gue yang jagain."

ELBARAKAYLA [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang