Embusan angin malam menerpa kulit wajah seorang cowok yang tengah berada di balkon kamarnya. Cowok yang mengenakan hoodie warna hitam menyilangkan kaki kanan di atas paha sebelah kirinya. Dengan nikmat, Alvano memakan pizza dengan keju ekstra kesukaanya.
"Alvano Admadja."
Alvano menoleh. Bibirnya yang berlepotan melengkung ke atas tatkala mata miliknya menangkap objek seorang wanita yang sudah tidak muda lagi berjalan ke arahnya.
"Mama, sini duduk di samping Al."
Nadin mengangguk. Dia mendaratkan tubuhnya di samping Alvano. Nadin mengusap bibir Alvano yang berlepotan sembari geleng-geleng kepala. Hal tersebut membuat Kernyittan di dahi Alvano tercetak jelas.
"Mama kenapa?" tanya Alvano.
"Mama gak kenapa-kenapa, Al. Kamu makan pizza sampai berlepotan kayak gini." Nadin tertawa kecil.
"Bentar, Al. Papa kamu nelepon," kata Nadin ketika handphone yang digenggamnya bergetar.
Alvano mengangguk. Alvano membiarkan mamanya untuk menerima telepon dari papanya. Alvano sendiri sibuk memerhatikan balita berumur tiga tahun yang tersenyum ke arah kamera di galeri handphone-nya.
"Gemes banget."
"Al?"
"Iya, kenapa?" Alvano menaruh handphone di meja.
"Kita dinner sekarang sama papa dan rekan bisnisnya."
Alvano menggeleng. "Al tau banget pasti ini ujung-ujungnya membahas perjodohan Al dan Ghea. Alvano gak mau!" tolak Alvano mentah-mentah.
Nadin mengusap rambut Alvano. "Nurut sama Mama, ya, Al. Kamu harus bisa membuka hati kamu untuk orang lain. Sudah lima tahun kamu kayak gini, Al," kata Nadin.
***
Akhir-akhir ini Sari sering mimpi anaknya yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Dia, Antony Ragaspati yang meninggal karena kecelakaan. Peristiwa itu masih terekam jelas di memori otaknya karena Sari menjadi orang yang menyaksikan kecelakaan yang menimpa anak pertamanya. Jujur saja, Sari sangat merindukan Antony. Dia ingin memeluk raga putranya.
Sari mengambil foto Antony yang dia taruh di laci lemari kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Wanita tua itu duduk di tepi kasur sembari mengusap foto Antony bersama istrinya. Cairan bening berhasi lolos dari ujung matanya dan ikut membasahi foto Antony.
"Tiga tahun, kamu ninggalin Mama sendirian di sini, Tony. Mama kangen banget sama kamu, Tony," kata Sari terdengar pilu. "Mama gak bisa menyayangi Elbara seperti kamu menyayangi dia, Tony. Mama benci dia, Mama kecewa dengan kelahiran dia, Ton." Sari terdiam sejenak. Dia tidak mampu melanjutkan ucapannya.
Sari mengusap matanya yang basah. Wanita tua itu menaruh kembali foto ke dalam laci. Mata miliknya sedikit menyipit kala matanya menangkap objek amplop cokelat bertuliskan 'Surat untuk Elbara'.
"Bahkan, surat dari mantan istri kamu untuk Elbara pun masih Mama rahasiakan. Mama gak mau Elbara tau kalau mamanya peduli sama dirinya."
***
Shella melempar apa pun yang bisa dia gapai. Bahkan, satu gelas susu ibu hamil untuk dirinya pun menjadi sasaran Shella. Shella menepis nampan yang dibawa asisten rumah tangganya sehingga menyebabkan gelasnya hancur berantakan. Dada Shella naik-turun tatkala dirinya mengingat kalimat penolakan dari Elbara.
"GUE GAK BISA TANGGUNG JAWAB SAMA LO, SHELLA SANJAYA. GUE GAK PERNAH NYENTUH LO! LAKI-LAKI YANG SELAMA INI DEKAT DENGAN LO ITU OM GUE, OM RYAN!"
"JANGAN GANGGU GUE! GUE CUMA MILIK KAYLA."
Shella menarik rambutnya dengan sekencang-kencangnya. "Kayla mulu yang ada di otak lo, Elbara Arjuna Ragaspati!" geram Shella. "Seharusnya yang lo pikirin itu gue dan anak lo!" Lagi dan lagi Shella mengacak rambutnya. Bukan itu saja. Shella menggertakkan giginya. Tangannya bergerak meninju tembok yang ada di depan matanya. "Kayla Tyas Adhitama, pelakor siallan lo!" murka Shella.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELBARAKAYLA [ENDING]
RomanceYang sudah membaca cerita ini, tolong jangan spoiler alur cerita dan endingnya! "𝐋𝐨 𝐧𝐲𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐠𝐮𝐞 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐢𝐧 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐠𝐮𝐞? 𝐋𝐨 𝐠𝐢𝐥𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐠𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚?" Sejak kecil, Elbara sudah ditinggal mamanya. Mamanya lebih...
![ELBARAKAYLA [ENDING]](https://img.wattpad.com/cover/324124535-64-k268887.jpg)