Terpampang senyum di wajah seorang pria paruh baya yang tengah duduk di sofa. Pria paruh baya itu bangkit dari duduknya, dia mendekati istrinya. Nadin menoleh tatkala tangannya digenggam suaminya.
"Alvano lagi di perjalanan."
"Elbara gimana, Mas? Dia ke sini juga sama anak kita, Alvano?" Nadin mengguncangkan tangan Robby lantaran pria itu tidak menggubrisnya. "Mas Robby, aku tanya sekali lagi, Elbara akan ke sini, kan? Aku kangen banget sama anak aku, Mas." Air mata mengalir di pipinya. Wanita paruh baya itu menyesali perbuatannya yang sudah meninggalkan Elbara kecil. Nadin tidak menyangka kalau nasib Elbara akan seperti ini.
Robby mengangguk. Tangannya terangkat mengusap air mata yang mengalir di pipi Nadin. "Alvano dan Elbara lagi di perjalanan ke sini, Nad. Bentar lagi kamu bisa meluk anak kita, Elbara Arjuna Ragaspati," kata Robby.
Mata Nadin berbinar mendengar apa yang dikatakan suaminya. Mulutnya melengkung membentuk senyuman. Nadin tidak menyangka kalau sebentar lagi dirinya akan menatap mata Elbara dari jarak dekat. Nadin benar-benar merindukan Elbara.
"Nad, anak-anak kita datang," ucap Robby penuh semangat lantaran pintu kamar VVIP nomor satu terbuka. Robby begitu yakin kalau itu dua putranya.
"Aku gak sabar pengen peluk anak aku, Mas."
"Anak kita, Nad. Elbara juga anak aku."
Kebahagiaan yang terpancar di wajah Nadin sirna ketika seorang wanita paruh baya masuk ke kamar VVIP nomor satu. Wanita paruh baya itu melepaskan kacamata yang bertengger di depan matanya. Kakinya melangkah, mendekati ranjang yang ditempati Nadin. Namun, Robby buru-buru menahan tangan wanita paruh baya itu.
Dinara menghentakan tangan Robby dengan kesal. "Rob, kamu gak usah ikut campur urusan aku sama dia!"
"Urusan Nadin urusan aku juga, Dinara!"
Dinara memutar bola matanya. "Kamu lupa dia siapa, Robby Admadja?" Dinara menunjuk Nadin. "Dia itu orang yang sudah merebut mas Anton! Dia yang sudah menggagalkan pernikahan aku sama mas Anton!"
Nadin tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan sahabatnya. Iya, Dinara Agustin adalah sahabat Nadin. Nadin sebenernya waktu itu sama sekali tidak ada niatan untuk merebut Antony dari tangan Dinara.
"Din, kalau aku ada salah sama kamu——" Nadin menjeda ucapannya. "Aku minta maaf," sambung Nadin.
"Kesalahan kamu itu banyak, Nadin! Kamu sudah merebut mas Anton dari aku! Kamu yang menghancurkan kebahagiaan aku, Nad!" Dinara mengatakan kalimat tersebut dengan suara yang bergetar hebat karena menahan tangis.
"CUKUP!"
***
"Bi, De Bella udah tidur?"
Bi Susi mengangguk. "Non Kayla mau makan apa? Biar Bibi masakin sekarang juga," ucap Bi Susi.
"Papa ana, Ma?"
"Papanya lagi sama om Alvano. Raymond tidur siang dulu, ya, Sayang. Biar nanti kalau udah tidur siang bisa main sama papa dan om Alvano," kata Kayla.
"Om pahlawan cupel, Ma!"
Kayla tersenyum tipis. Cewek itu terus mengusap rambut Raymond dengan sayang. Raymond yang tiduran menggunakan paha mamanya sebagai bantalan pun mulai nyaman. Mata Raymond mulai menutup.
Di waktu yang bersamaan, tetapi di tempat yang berbeda lebih tepatnya di depan gedung sekolah SMA Dirgayaksa ada seseorang yang masih berdiri di sana. Padahal, acara reuni sudah berakhir satu jam yang lalu. Namun, orang itu seperti enggan meninggalkan tempat itu. Tempat yang dulu pernah menjadi tempat terindah. Banyak momen yang dirinya lewati di sana bersama seseorang yang kini sudah menjadi milik orang lain.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELBARAKAYLA [ENDING]
RomanceYang sudah membaca cerita ini, tolong jangan spoiler alur cerita dan endingnya! "𝐋𝐨 𝐧𝐲𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐠𝐮𝐞 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐢𝐧 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐠𝐮𝐞? 𝐋𝐨 𝐠𝐢𝐥𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐠𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚?" Sejak kecil, Elbara sudah ditinggal mamanya. Mamanya lebih...
![ELBARAKAYLA [ENDING]](https://img.wattpad.com/cover/324124535-64-k268887.jpg)