Yang sudah membaca cerita ini, tolong jangan spoiler alur cerita dan endingnya!
"𝐋𝐨 𝐧𝐲𝐮𝐫𝐮𝐡 𝐠𝐮𝐞 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐢𝐧 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐠𝐮𝐞? 𝐋𝐨 𝐠𝐢𝐥𝐚 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐠𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚?"
Sejak kecil, Elbara sudah ditinggal mamanya. Mamanya lebih...
⚠️ Extra part ini bukan kejadian setelah ending, ya. Soalnya untuk yang setelah ending akan nyambung ke sequel ELBARAKAYLA.
Elbara menghampiri istrinya yang tengah memotong bawang merah. Air mata cewek cantik yang mengenakan dress motif bunga-bunga warna jingga itu menetes. Elbara bergerak cepat menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. Khawatir kalau istrinya kenapa-kenapa. Padahal, itu cuma efek dari memotong bawang merah.
"Siapa yang bikin kamu nangis, Kay? Bilang sama aku. Aku akan hajar orang itu sampai habis. Jahat banget dia sudah bikin istri aku nangis. Aku gak rela!"
Tangan milik Kayla terangkat mengusap pipi suaminya. Bibir cewek cantik itu melengkung dan matanya yang indah itu sedikit menyipit. Kayla benar-benar merasa beruntung memiliki suami seperti Elbara.
"Bawang merah, Sayang. Dia jahat banget."
"Ya, udah. Siniin biar aku yang lanjutin. Kamu duduk manis aja, Sayang," kata Elbara. Cowok itu mengecup kening istrinya sebelum melanjutkan pekerjaan Kayla.
Kayla berdiri di samping Elbara yang kini tengah memegang pisau. Bersiap akan memotong bawang merah yang sudah membuat air mata Kayla keluar. Elbara menoleh sekilas ke istrinya. Tatapannya begitu dalam membuat rona merah di pipi Kayla terlihat.
"Mau lihat istri dulu. Kan, mata aku butuh vitamin."
*** Menunggu Elbara selesai memasak akan menghabiskan waktu yang lama. Kayla, cewek cantik itu memilih pergi meninggalkan Elbara sendirian di dapur. Cewek cantik itu masuk ke kamar dan mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di sudut kamar. Kayla tersenyum. Tangannya terangkat mengusap perutnya yang kini membesar.
"Nak, jadi anak yang baik, ya. Mama sama Papa sayang banget sama kamu. Mau bagaimana pun nanti rupa kamu, Mama sama Papa akan selalu sayang sama kamu. Mama sama Papa gak akan membiarkan kamu terluka. Pokoknya kamu akan bahagia sama Mama dan Papa."
Rasanya baru kemarin dirinya menikmati masa-masa remajanya, tapi kini sebentar lagi Kayla akan berperan sebagai orang tua. Kayla berdiri dari duduknya ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamar.
"Kay, suami kamu nangis di dapur. Papa bingung harus ngapain. Coba kamu tenangin suami kamu," kata Antony.
"Siap, Pa. Papa mau dibikinin apa sama Kayla? Kan, Papa baru pulang kerja. Pasti capek banget."
Antony menggeleng. Pria paruh baya itu memilih untuk melanjutkan langkahnya. Namun, sebelum itu Antony mengatakan sesuatu yang membuat Kayla terdiam.
"Kay, kalau Papa sudah gak ada. Kamu harus selalu ada di samping anak Papa, ya. Papa gak mau kalau nanti anak Papa sedih, Kay," kata Antony. "Elbara itu dari kecil sudah ditinggal mamanya. Papa mohon banget sama kamu, Kay. Kamu jangan menanyakan soal mamanya Elbara ke Elbara, ya. Papa gak mau kalau Elbara mengingat lagi kejadian itu," lanjut Antony.
Kayla mengangguk. Cewek cantik itu sama nasibnya dengan Elbara. Kayla paham gimana rasanya menjadi Elbara dan Kayla pun sama halnya dengan Elbara. Namun, bedanya Kayla masih bisa berkomunikasi dengan mamanya yang ada di luar negeri.
*** "Kata Papa, suami aku nangis."
Elbara membalikan badannya. Mata miliknya benar-benar sudah basah. Cowok yang mengenakan kaus hitam polos yang dipadukan dengan celana kolor warna hitam itu pun bergerak cepat menghampiri istrinya yang berdiri di belakangnya dan memeluknya.
"Bayi Besarnya Kayla kalah sama bawang merah."
"Bawangnya jahat banget, Sayang."
Kayla mengusap punggung suaminya dengan sayang. Elbara semakin mengeratkan pelukannya dengan Kayla. Cowok itu begitu nyaman ketika memeluk istrinya.
"Jangan dilepas, Kay. Masih pengen meluk."
"Nanti lagi. Sekarang aku mau masak buat makan malam. Kamu juga lapar, kan?" Kayla tersenyum ketika suaminya mengangguk. "Lepasin, ya, Sayang," katanya.
Elbara menggeleng. "Masih pengen meluk. Kan, masaknya bisa sambil aku peluk, Kay. Aku kangen banget sama kamu. Pengen peluk yang lama."
Karena tidak mau membuat Elbara bersedih. Cewek cantik itu mengangguk. Menyetujui keinginan Elbara untuk memeluk dirinya ketika memasak. Elbara tersenyum bahagia. Cowok berparas tampan itu berdiri di belakang istrinya. Tangan kekarnya melingkar di pinggang istrinya. Dagunya dia tumpukan di pundak istrinya. Kayla sendiri dibuat salah tingkah dengan suaminya. Bibir cantik itu terus melengkung, membentuk senyuman yang begitu indah.
"Kay, habis ini bikinin susu buat aku."
"Iya, Bayi Besarnya Kayla."
Elbara melepaskan pelukannya dengan Kayla lantaran ponsel miliknya yang dia simpan di meja tiba-tiba berdering. Cowok itu pergi sejenak untuk mengambil ponselnya dan kembali lagi memeluk istrinya.
"Siapa?" tanya Kayla yang baru menyalakan kompor.
"Haikal, dia nyuruh aku untuk ke markas."
"Kamu mau ke sana?"
"Boleh?"
Kayla mengangguk pelan. "Gak boleh lama-lama. Pokoknya jam sepuluh malam harus sudah ada di rumah. Aku gak mau kamu kaya dulu lagi."
*** Jam menunjukan pukul dua belas malam. Elbara baru menginjakan kakinya di rumah. Elbara menghela napasnya berat ketika pintu rumah terkunci. Elbara mengusap tenggorokannya yang terasa kering karena belum sempat meminum susu dari tumbler gambar sapi. Cowok yang mengenakan kaus hitam yang dibalut hoodie warna hitam itu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi istrinya. Elbara benar-benar panik ketika istrinya sama sekali tidak merespons pesannya.
"Aduh!" katanya.
"Sayang, bukain pintunya!"
Elbara terus berteriak, berharap kalau Kayla akan membukakan pintu untuknya. Kenyataannya saat ini Kayla sudah tertidur dengan pulas sambil memeluk boneka sapi milik Elbara. Di samping cewek itu ada ponsel yang data selulernya masih menyala dan menampilkan room chat dirinya dengan Elbara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Elbara mengusap wajahnya dengan gusar. Cowok berparas tampan itu sudah tidak mampu lagi menahan matanya yang sudah tidak mampu melek. Pada akhirnya Elbara memutuskan untuk tidur di mobil.
"Simulasi jadi duda," gumamnya.
Elbara menutup pintu belakang mobil dengan kasar. Hening, itulah yang Elbara rasakan. Rasanya ada yang kurang kalau dirinya tidak memeluk istrinya. Elbara memikirkan berbagai macam cara agar istrinya mau membuka pintu. Menyuruh papanya? Itu tidak mungkin karena Antony pasti ada dipihak Kayla. Elbara menghela napasnya berat. Dia pasrah kalau malam ini dirinya tidur sendirian di mobil.
Elbara mengatakan kalimat tersebut lantaran hujan deras turun. Cowok itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi belakang pengemudi. Tangan kekarnya dia silangkan di depan dada bidangnya. Elbara berharap kalau istrinya akan keluar dan menghampirinya.