33. Semakin merenggang

4.3K 414 118
                                        

Kayla mengikat rambutnya menjadi satu. Cewek cantik yang mengenakan piyama warna merah muda tengah berdiri di dekat jendela kamar. Menatap sendu langit kota Jakarta yang tampak mendung. Helaan napas berat terdengar dari bibirnya ketika apa yang terjadi semalam malah berputar lagi di benaknya. Kejadian yang membuat rasa kecewa ke suaminya muncul.

"Mama."

Kayla menoleh. Bibir merah muda itu melengkung ke atas ketika mata cantiknya menangkap objek buah hatinya yang terbangun. Balita menggemaskan itu merubah posisinya menjadi duduk.

"Iya, Sayang. Kenapa?" Kayla berjalan mendekati buah hatinya. Kayla mendudukan tubuhnya di kasur. Cewek cantik yang mengenakan piyama merah muda menyuruh buah hatinya untuk mendekat dan Raymond menurut.

Kayla membiarkan buah hatinya duduk di pangkuannya. Tangannya bergerak mengusap rambut Raymond dengan penuh kasih sayang. Usapan lembut tersebut tiba-tiba berhenti ketika Raymond bertanya ke Kayla.

"Papa ana, Ma? Lay na belenang cama papa!"

"Berenangnya sama Mama aja, ya, Sayang. Nanti Mama beliin boneka Spongebob yang besar. Mau?"

Raymond menggeleng. "Lay na baleng papa! Papa ana, Ma? Lay na belenang baleng papa." Raymond mendongak. Menatap wajah mamanya. "Mama--"

"Raymond mau minum susu, gak?" Kayla kembali membujuk buah hatinya dengan caranya sendiri. Kayla menghela napas dengan lega ketika Raymond mengangguk antusias. Bahkan, senyuman dari bibirnya secara perlahan mulai terbit. Senyum yang membuat mata cewek cantik itu sedikit menyipit.

"Lay na mimi cucu. Mimi cucu telus belenang."

Kayla mengangguk. "Berenang sama Mama, ya, Ray?"

"No! Lay na baleng papa."

"Papanya sib--"

"Mama tipu Lay! Papa dah ilang ke Lay na belenang baleng Lay! Mama tipu Lay!"

Tangis Raymond berhasil memecahkan keheningan di rumah itu. Air mata yang sejak tadi menumpuk di pelupuk matanya sudah mengalir deras membasahi pipi gembul Raymond. Tangan mungil itu bergerak menggosok-gosok matanya yang basah. Hidungnya yang putih berubah menjadi memerah.

***
Pagi sudah mengepung ibu kota. Orang-orang berlalu-lalang menghiasi jalanan kota Jakarta seperti segerombolan semut yang mencari gula. Motor pespa warna kuning melaju dengan kecepatan sedang. Melewati hutan-hutan beton yang berdiri kokoh di tanah kota Jakarta dengan seorang penumpang yang begitu nyaman menyandarkan kepala di punggung pengemudi.

"Kita cuang sarapan heula di payun," ajak Mang Dayat ketika melihat penjual bubur ayam yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari posisinya sekarang.

"Terserah Mamang aja. Elbara cuma pengen makan masakan istri Elbara sendiri, Mang."

Mang Dayat mengajak Elbara untuk turun ketika mereka berhenti di depan penjual bubur ayam. Elbara menurut. Cowok yang masih mengenakan kemeja hitam dengan tiga kancing bagian atas yang dibiarkan terbuka dan bagian lengan yang digulung sampai batas siku mengikuti seorang pria paruh baya yang lebih dulu berjalan mendekati penjual bubur ayam.

"Idrus!"

"Naon, Mang?"

"Bubur dua mangkok!"

Idrus mengangkat dua ibu jarinya. "Beres! Mangga caralik heula dina korsi." Idrus mempersilakan mang Dayat dan Elbara untuk duduk di kursi panjang yang sudah dirinya sediakan. Tepatnya di belakang gerobak.

Lima menit kemudian bubur ayam sudah ada di depan meja. Elbara sama sekali tidak menyentuh bubur ayam itu meskipun hanya sekali. Elbara hanya melamun sambil bertopang dagu. Dia masih memikirkan nasib hubungannya dengan istrinya sendiri. Elbara takut kalau dirinya akan kehilangan istrinya.

ELBARAKAYLA [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang