Ketika jam pulang sudah tiba, Elenor baru menyadari bahwa ponselnya kehabisan daya baterai. Elenor tidak sempat mengisi daya baterai karena hari ini dia terlalu sibuk. Maka dia pun bertanya pada satu persatu perawat yang mempunyai jam praktik malam, apakah mereka membawa charger atau tidak. Elenor hanya butuh benda itu sebentar, hanya agar dia bisa menelepon Ethan dan meminta jemput.
"Elenor,"
Perempuan itu menoleh ketika dia nyaris putus asa karena tidak ada seorang pun yang membawa charger di dalam ruangan itu.
Cristian yang sudah melepaskan jas dokter pun menghampirinya. Elenor langsung membuang ekspresi anehnya dan tersenyum simpul.
"Kok belum pulang?"
"Ya, aku mau nelepon Ethan, tapi handphoneku mati. Kamu bawa charger nggak, Cris? Pinjam sebentar dong."
"Aku nggak bawa, tadi pagi aku berangkatnya buru-buru banget. Tapi aku bisa nawarin tumpangan buat kamu kalau Ethan nggak bisa jemput. Kebetulan aku ngelewatin daerah rumah baru kamu, Mama nyuruh aku ngambilin kue pesanannya dan kebetulan tokonya ada di sekitar daerah sana."
Elenor melirik jam tangannya, sudah jam delapan dan dia benar-benar ingin cepat sampai di rumah. Menerima tawaran Cristian bukan pilihan yang buruk. Toh, itu hanya sebatas mengantar pulang saja.
"Boleh deh. Tapi nggak ngerepotin 'kan?"
"Enggak. Santai, kamu kayak sama siapa aja."
Setelah pamit kepada beberapa perawat yang memiliki tugas malam, Elenor dan Cristian pun melangkah beriringan menuju basement—tempat mobil Cristian di parkirkan.
Selama perjalanan Elenor mati-matian menahan kantuk. Beberapa kali dia hampir menjatuhkan dagu karena matanya yang berat.
"Aku dengar kemarin kamu ngambil cuti sehari penuh." Untunglah disaat dia berusaha mengusir kantuk, akhirnya Cristian mengajaknya berbicara. "Kamu pergi honeymoon bersama Ethan ya? Kok perginya cuma sehari?"
Elenor mengernyit. Demi Tuhan, dimana Cristian mendapatkan gosip itu?
"Aku dan Ethan nggak pergi honeymoon. Aku ambil cuti karena kakak iparku melangsungkan pernikahan."
"Serius? Padahal orang-orang di rumah sakit dari kamarin sibuk nebak-nebak kamu pergi honeymoon kemana."
"Ngaco banget. Enggak usah didengerin, Cris."
Cristian tertawa pelan, "Oya, Ele, kemarin Papa kamu datang ke rumahku."
Elenor menoleh pada Cristian namun tidak terlalu terkejut mendengar pernyataan itu. Papa Elenor dan Papa Cristian memang menjalin hubungan bisnis. Dulu, saat Papa Elenor masih merintis perusahaan kecilnya tanpa dibantu oleh Kakek, Papa Cristian lah yang menjadi investor pertamanya.
Hanya karena Cristian adalah teman Elenor, Papa Cristian memberikan kepercayaan kepada Papa Elenor. Sejak saat itu hubungan pertemanan kedua orang tuanya terjalin erat. Dan Cristian pula yang selalu menjadi mata-mata agar Elenor tahu bagaimana kelakuan Papa di belakang Mama.
"Bisa nggak suruh Papa kamu nggak usah jalin kerja sama dengan perusahaan Papaku lagi? Bikin Papaku bangkrut kayaknya ide yang jauh lebih cemerlang."
"Jangan bicara gitu, sejelek apapun beliau di mata kamu, beliau tetap Papa kamu, Elenor." Dan, begitulah Cristian. Dari dulu tidak juga pernah berubah, selalu mengingatkan Elenor untuk tidak menjadi anak yang pembangkang. Cristin berdeham pelan, "Apa aku boleh nanya sesuatu yang lebih pribadi?"
"Tanya aja."
"Hubungan Papa kamu dan Ethan enggak baik ya?"
"Kata siapa?"

KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE OF MY LIFE
Roman d'amourSemua bermula dari Elenor, Si Dokter cantik yang tidak pernah percaya akan adanya cinta sejati di dalam hidup. Penyebabnya adalah keluarga. Dia lelah melihat Papa yang selalu merasa insecure dengan apa yang Mama miliki. Dia juga lelah melihat Mama m...