[Irreplaceable Love 51]

767 29 0
                                        

Dirra berdiri dihadapan cermin, menatap dirinya dengan seksama, betapa manisnya dia. Siapa yang menyangka jika ia akan mengandung di usia nya yang masih sangat muda. Siapa juga yang akan menyangka jika seorang om om jatuh cinta kepadanya. Itu semua adalah kebetulan yang membuat Dirra amat bersyukur. Walaupun kedua orang tuanya sedikit jahat kepadanya, namun ia mendapatkan pasangan yang sangat baik.

Darren sedang berada di kantor. Ya ini bahkan baru jam 6 pagi. Tapi Darren punya alasan khusus mengapa ia datang ke kantor sepagi ini. Sebab ada beberapa berkas yang harus di bereskan. Amoura sudah tidak lagi mengusik keluarga kecilnya. Entahlah membayangkannya saja Dirra malas.

Dirra menarik tas kecil yang ada di atas ranjang, lalu berjalan keluar dan turun ke lantai dasar. Bersama supir suruhan Darren ia pergi untuk memeriksakan kandungannya yang tak terasa perutnya sudah semakin membesar. Dirinya bahkan sudah kesulitan untuk melakukan kegiatan berat. Nafasnya sudah terengah engah walau hnya berjalan sebentar saja.

Dirra sampai di rumah sakit. Menunggu antrian namanya kan di panggil. Ia melihat ada banyak ibu hamil disana, yang datang bersama suami mereka. Ah sudahlah, lagipun Darren bekerja untuk dirinya dan juga anaknya. Tak apa, lagi pula Dirra tidak merasa keberatan jika harus memeriksakan kandungannya seorang diri.

Langkah kaki yang terdengar sangat keras membuat Dirra menoleh, ralat hampir semua yang berada di luar ruangan menoleh. Betapa terkejutnya Dirra saat melihat Darren berlari ke arahnya. "Hei, harusnya ku bilang untuk tunggu di rumah sampai aku kembali," ucap Darren dengan nafas yang terengah engah.

Dirra mengelus pundak Darren, "duduk sini, kamu ngapain lari-lari."

"Aku kira aku telat, jadi aku lari."

Dirra menggeleng, kelakuan suaminya ini ada ada saja.

"Mrs. Darren, silahkan masuk." Ujar susternya. Darren dengan sigap membantu Dirra untuk berdiri dan berjalan memasuki ruangan. Dirra di intruksikan untuk berbaring. Hari ini mereka sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya.

"Dia laki-laki."

Pernyataan dokter tersebut membuat Darren membekap mulutnya tak percaya. Ia akan benar benar menjadi seorang ayah. Ia menggenggam erat tangan Dirra, tak terasa air matanya turun begitu saja saat suara detak jantungnya terdengar melalui alat pendeteksi.

---

"Kamu mau makan apa habis ini?" Tanya Darren di dalam perjalanan pulang.

"Uhm, Dirra mau masakan Darren, apapun itu."

Darren mengangguk. Mobil membawa mereka untuk kembali ke apartemen. Darren menyuruh Dirra untuk duduk dan menunggu dirinya memasak untuk makan siang hari ini.

"Darren gak kerja?" Tanya Dirra yang dengan tenang duduk di kursi.

"Kerja, tadi pagi," jawabnya sambil berjalan mencari bahan bahan di kulkas.

"Darren kalo emang sibuk, gak usah temenin Dirra periksa kandungan juga gak apa apa kok," jawabnya. Membuat Darren berhenti dan menatapnya.

"Kamu melarang ku untuk bertemu anak ku Dirra?" Tanyanya.

Dirra terkejut, itu jelas berbeda dengan apa yang Dirra maksud, Dirra menggeleng keras, "bukan gitu maksud Dirra. Uhmmm Dirra takut aja ganggu pekerjaan Darren."

Darren menatapnya dengan tajam, "jika itu untuk mu dan anak ku, aku rela meninggalkan semua yang aku punya hanya untuk kalian."

Dirra tersenyum malu, "aaaa jangan seperti itu! Nanti sedih lagi! Sudah masak yang benar. Dirra lapar, awas kalo masakannya gak enak, gak akan Dirra kasih jatah!"

Damn!

Ucapan Dirra membuat Darren benar-benar khawatir dengan bakat masaknya kali ini. Biasanya ia cukup percaya diri dengan hasil masakannya, namun seketika itu semua runtuh saat jatah malamnya di jadikan taruhan.

Dirra memilih untuk menunggu di ruang tv. Sambil memakan camilan yang sudah di perbolehkan jika di konsumsi oleh ibu hamil. Tak lama Darren selesai dengan masakannya. Ia membawanya ke ruang tv agar Dirra tak perlu berjalan.

Suapan pertama jujur membuat Darren sangat deg-degan. Beruntunglah saat Dirra tidak mengomentari masakannya dan justru memakannya lagi.

Darren berjalan ke arah dapur untuk mengambilaj Dirra segelas air.

"Dirra, kamu sudah memikirkan namanya?" Tanya Darren membuat Dirra terkejut.

"Ku rasa kamu memang benar benar menginginkannya untuk segera lahir Darren."

"Jelas. Aku yakin dia akan sama tampannya dengan ku."

Dirra menatapnya malas. Betapa percaya diri sekali suaminya ini. Benar benar Darren yang Dirra kenal.

"Ku harap kelak dia tidak memiliki tingkat percaya diri yang tinggi seperti mu Darren."

"Tidak, dia pasti punya, diakan anakku Dirra."

"Dia juga anak Dirra. Kan Dirra yang mengandung."

"Dia juga anakku Dirra, tanpa sperma ku dia tidak mungkin ada disana."

"Ish! Iya tapi ah sudahlah, dia akan kita."

"Ahahahha kau lucu Dirra, lanjutkan makan mu. Habiskan, aku tidak akan memintanya. Makan yang banyak agar anak kita menjadi anak yang sehat nantinya."

Dirra mengangguk dan melanjutkan makannya. Darren tak henti mengelus perut Dirra. Ia benar benar ingin segera melihat wajah anaknya. Pasti akan tampan setampan dirinya. Bagaimana tidak, ayah dan ibunya memiliki wajah yang hampir sempurna. Begitupun dengan anaknya nanti.

Yang nantinya akan memiliki kecerdasan yang sama seperti Dirra. Kira kira apa nama yang pas untuk anak mereka ya?

---
To be continued

Irreplaceable LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang