"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
Baca sambil putar video clip diatas yaa. Sama kayak Zahra, Force marriage juga.
Warning: 20+ (Haram utk bocil)
"LEPAASS" Teriak Zahra sambil terus memberontak. Berusaha untuk melepaskan kedua tangan kekar Abhizar yang memeluknya dari belakang. Namun, tentu saja tidak akan dikabulkan.
Abhizar justru semakin mengeratkan pelukannya dan memanggul tubuh mungil Zahra dipundaknya seperti karung beras kearah ranjang. Perlawanan Zahra bukanlah perkara besar untuk Abhizar. Dan begitu sampai disamping ranjang, Abhizar langsung membanting tubuh Zahra keatas ranjang besar tersebut. Tidak sakit memang, mengingat ranjang dikamar hotel itu sangat empuk, namun tetap saja Zahra terpekik karena terkejut.
Tanpa memberikan kesempatan pada Zahra yang terkejut setelah dilempar keatas ranjang. Abhizar langsung menaiki ranjang dan langsung mengukung Zahra. Menunduk dan membungkam bibir Zahra dengan ciuman paksa. Kedua tangan Zahra lantas bekerja untuk mendorong serta memukul dada Abhizar. Namun Abhizar berhasil mencengkram kedua tangan mungil itu dan meletakkannya diatas kepala Zahra.
Bak orang yang tengah kehausan, Abhizar terus menghisap dan mencecap bibir Zahra. Disaat Abhizar merasa Zahra kehabisan pasokan udara, barulah ciuman itu dia hentikan sekadar memberi jeda untuk mereka berdua bernapas.
Hanya dengan ciuman, Abhizar sudah dapat merasakan sakit dibagian pangkal pahanya. Miliknya itu seperti sudah memberontak untuk meminta bagiannya sendiri. Namun Abhizar masih belum mau langsung ke inti. Zahra memang benar-benar membuat Abhizar menggila.
"ABHIZAR LEPASKAN SAYA" Teriak Zahra.
"Tidak. Saya tidak akan melepaskan kamu Zahra" Tegas Abhizar. "Kamu istri saya sekarang, saya berhak atas kamu" Sambung Abhizar.
"Tapi tidak dengan memaksa saya. Itu sama saja dengan kamu kembali memperkosa saya" Ucap Zahra dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
Abhizar tentu saja tidak senang dengan ucapan Zahra. Mereka adalah suami istri mana ada istilah pemerkosaan, pikir Abhizar.
"Saya hanya meminta hak saya sebagai suami kamu" Ucap Abhizar dengan masih berada diatas tubuh Zahra.
"Kamu tidak sedang meminta. Kamu memaksa.."
"KARENA KAMU SELALU MENOLAK SAYA" Bentak Abhizar memotong ucapan Zahra. "Jadi jangan salahkan saya. Kalau kamu tidak menolak saya, saya tidak akan memaksa kamu Zahra" Sambung Abhizar dengan menatap tajam kearah Zahra.
"Saya mohon Abhizar, beri saya waktu" Ucap Zahra dengan penuh permohonan.
Melihat raut sendu sang istri, Abhizar justru semakin merekatkan tubuh mereka. Membuat Zahra juga dapat merasakan sesuatu dipangkal paha Abhizar yang mengeras. Wajah Zahra lantas menampilkan raut ketakutan, yang dalam pandangan Abhizar malah semakin menggoda.
"Kamu bisa merasakannya kan?" Bisik Abhizar tepat ditelinga Zahra. "Kami tidak bisa menunggu lagi Zahra. Dia ingin kembali menyatu dengan rumahnya. Dan saya tentu saja dengan senang hati mengabulkannya" Sambung Abhizar dengan seringai diujung bibir sebelah kirinya.
Ucapan Abhizar terkesan sangat menjijikan ditelinga Zahra. Zahra lantas kembali berteriak dan memberontak saat Abhizar mulai berusaha untuk melepas baju ditubuh Zahra. Dengan sekali sentakan Abhizar merobek baju tidur yang dikenakan Zahra. Membuat seluruh kancingnya terlepas, sehingga menampilkan kedua payudara yang dibungkus oleh bra berwarna biru langit.
Setelahnya salah satu tangan Abhizar menyelip kebelakang punggung Zahra untuk melepaskan pengait bra tersebut, lalu menariknya dan membuangnya sembarangan. Kedua payudara itu kini terpampang dengan nyata didepan Abhizar. Abhizar langsung meremas salah satunya dengan tangan kirinya, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
Setelah dari pakaian bagian atas Zahra. Abhizar langsung menuju kepakaian bagian bawah Zahra. Sekali lagi, sama sekali tidak ada kesulitan untuk Abhizar menarik celana yang dikenakan Zahra, pun dengan benda segitiga yang menyembunyikan tempat paling inti milik Zahra. Kini, sama sekali tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mungil Zahra.
Abhizar menegakkan tubuhnya, duduk diatas paha Zahra. Sengaja untuk menikmati pemandangan didepannya sebelum kembali merasakannya. Sementara Zahra, dengan kedua tangannya dia berusaha menutupi tubuhnya yang tentu saja itu percuma. Dengan terisak Zahra berusaha memeluk tubuhnya. Dia kembali merasa hina, kembali merasa dilecehkan oleh Abhizar. Meski lelaki itu kini berstatus sebagai suaminya, tidak bisakah lelaki itu memberikannya waktu untuk sembuh dari rasa trauma akibat perbuatannya yang telah memperkosanya.
"Tolong Abhizar, tolong lepaskan saya. Saya mohon" Zahra menangkupkan kedua tanggannya didepan dada sambil berusaha memohon pada Abhizar, berusaha mengais rasa iba pada diri lelaki besar itu.
Namun, sepertinya gagal karena saat ini Abhizar justru kembali mencekal kedua tangannya dan mengikatnya pada kepala ranjang. Berjaga agar Zahra tidak memberontak.
"Kamu cukup menikmati apa yang akan saya lakukan sayang. Saya pastikan malam ini akan menjadi malam kesekian yang tidak akan pernah bisa kita lupakan" Ucap Abhizar dengan senyuman yang justru terlihat mengerikan bagi Zahra.
Setelahnya Abhizar melebarkan kedua kaki Zahra lalu merunduk kebagian pangkal paha Zahra. Zahra tersentak saat merasakan sesuatu menjilat bahkan menghisap bagian intim miliknya. Tidak tinggal diam, Zahra berusaha kembali merapatkan kedua kakinya. Namun, tenaga Abhizar jauh lebih kuat darinya. Suara cecapan yang dihasilkan oleh Abhizar membuat Zahra ingin muntah.
Zahra berfikir, lelaki itu memang gila. Bagaimana bisa dia melakukan itu pada bagian yang dianggap menjijikan. Namun Zahra benci saat tubuhnya seakan mulai menikmati apa yang sedang dilakukan oleh Abhizar. Zahra tidak bodoh, tentu saja Zahra sadar bahwa itu adalah murni reaksi alami dari tubuhnya yang sedang mendapat rangsangan. Ini berbeda dengan saat Abhizar memperkosanya. Saat itu, Abhizar dengan kasar langsung memasukinya. Sama sekali tidak ada rangsangan sebelumnya, membuat Zahra merasakan sakit yang amat sangat. Berbeda dengan saat ini, Zahra menggigit bibirnya, berusaha dengan keras untuk tidak mengeluarkan suara yang pastinya akan membuat lelaki yang seakan sedang kehausan dibawah sana merasa senang.
"Ahh" Desah lirih berhasil keluar dari mulut Zahra bersamaan dengan sesuatu yang mengalir hangat dari pangkal pahanya.
Abhizar tentu saja tersenyum senang. Merasa telah berhasil menaklukkan sang wanita. Abhizar lantas berujar.
"Mulut atas kamu selalu menyemburkan penolakan. Tapi mulut bagian bawah kamu justru menyemburkan sesuatu yang membuktikan kalau kamu menikmati permainan saya Zahra"
"Saya benci kamu Abhizar" Dengan nafas yang tersengal akibat orgasmenya Zahra berucap.
"Benarkah?" Salah satu alis Abhizar menukik keatas dengan senyum meremehkan. "Kamu tidak akan keluar sebanyak ini jika kamu membenci saya" Sambung Abhizar dengan mengusap kasar milik Zahra. Membuat Zahra kembali mendesah.
"Saya tidak akan membiarkan kamu tidur malam ini" Ucap Abhizar dengan mulai melucuti pakaiannya sendiri. "Ini akan menjadi malam yang sangat panjang untuk kamu dan saya" Sambungnya membuat Zahra menggeleng dengan raut ketakutan. Abhizar dapat merasakan tubuh Zahra bergetar ditambah dengan tangisan wanita itu. Oh ayolah, apa yang harus ditakutkan oleh Zahra, saat kenikmatanlah yang akan Abhizar bagikan pada wanita itu, fikir Abhizar.
💞💞💞 Gimana gimana😏. Jujur othor buat bab ini deg²an loh🤣. Kira² mau dilanjut sampek bab 18 atau nggak yaa🤭
Jangan lupa vote plus komen. Ntar othor males uplode kalau yng vote ama komennya sepi😒
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.