Bab 50

753 69 22
                                        

Matahari mulai tenggelam ketika mobil sedan putih milik Mita memasuki pelataran rumah keluarga Albirru.

Mesin dimatikan. Namun wanita itu tidak langsung turun. Kedua tangannya masih menggenggam kemudi dengan pandangan kosong menatap halaman rumah yang mulai diselimuti cahaya senja.

Hari ini... hatinya kembali terasa berat. Sudah tiga hari Abhizar, anak yang akhirnya bisa dirinya akui, menghilang menyembunyikan diri. Putranya itu tidak datang kerumah sakit menjenguk Zahra. Padahal tujuannya datang kerumah sakit, selain untuk memastikan keadaan menantu dan calon cucunya, juga untuk melihat sang putra. Namun hasilnya nihil, sama seperti dua hari lalu. Abhizar masih tidak menunjukkan muka. Lelaki itu bahkan sengaja menon aktifkan ponselnya.

Tadi, ketika berada di rumah sakit, dirinya sempat bertanya kepada Zahra.

"Abhizar belum datang cantik?" Tanya Mita sambil meletakkan buah yang dirinya bawa ke atas nakas samping brankar Zahra.

Zahra hanya menggeleng pelan. Sambil berkata "Tidak, Ma."

Jawabannya begitu singkat. Wajahnya pun datar. Tidak terlihat sedih. Tidak terlihat marah. Tidak pula terlihat khawatir.

Saat itu Mita hanya berpikir mungkin pasangan muda itu sedang bertengkar. Hal yang menurutnya sangat wajar dalam rumah tangga. Lagipula dirinya percaya...Abhizar sangat mencintai Zahra. Sebesar apa pun pertengkaran mereka, cepat atau lambat lelaki itu pasti akan datang meminta maaf. Begitulah yang selalu Mita yakini.

Mita sama sekali tidak mengetahui kenyataan pahit yang selama ini disembunyikan di balik rumah tangga Abhizar dan Zahra. Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam pikirannya bahwa pernikahan itu lahir dari sebuah pemaksaan. Apalagi sampai membayangkan bahwa menantunya terbaring di rumah sakit bukan semata-mata karena terpeleset seperti yang diceritakan Abhizar.

Mita mengusap pelan sudut matanya lalu turun dari mobil.

Rumah mewah itu terasa lenggang. Hanya suara langkah kakinya yang menggema di ruang tamu.

Baru saja Mita meletakkan tas di atas meja, suara berat seseorang terdengar dari ruang baca.

"Sudah pulang?"

Mita menoleh dan mendapati Zaki keluar sambil melepas kacamata bacanya. Masih mengenakan pakaian rumah yang rapi. Ekspresi lelaki paruh baya itu tetap datar seperti biasanya.

"Sudah." Jawab Mita pelan.

"Bagaimana keadaan Zahra?" Tanya Zaki sekedar basa basi, karena sebenarnya dirinya tidak terlalu perduli dengan wanita yang berstatus istri dari putra sulungnya itu.

"Alhamdulillah lebih baik." Jawab Mita.

Mendengar jawaban Mita, Zaki hanya mengangguk singkat sambil berjalan menuju mini bar. Memeriksa laporan keuangan perusahaan hampir seharian membuat tenggorokannya kering.

"Dokter bilang beberapa hari lagi mungkin sudah boleh pulang." Ucap Mita dengan pandangan mengikuti pergerakan sang suami.

"Hm." Jawab Zaki sambil meminum air putih untuk menyegarkan tenggorokannya.

Tidak ada lagi tanggapan. Keheningan mulai memenuhi ruangan. Sampai akhirnya Mita kembali membuka suara.

"Abhizar sudah menghubungimu?" Tanya Mita.

Zaki mengangkat pandangan lalu menjawab "Tidak." Dengan posisi membelakangi sang istri.

"Dia juga tidak mengangkat teleponku." Ucap Mita dengan nada khawatir.

"Kalau memang dia tidak mau dihubungi, ya sudah biarkan." Ucap Zaki sambil berjalan kearah Mita yang berada diruang tv.

Lelaki itu dengan santai duduk bersandar pada sofa panjang sambil menumpukan satu kaki kanan diatas paha kirinya. Lalu menghidupkan tv.

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang