"Jadi..semua senyummu..semua kata kata cinta kamu pada saya...hanya sandiwara?" Tanya Abhizar. Ada sorot kepedihan terlintas dimata lelaki itu, namun Zahra tidak perduli. Dengan tegas wanita itu menjawab "YA".
PLAK
Tamparan itu datang sebelum Zahra mengatupkan bibirnya. Tubuh Zahra terhuyung dan jatuh terjerembab kembali kelantai, telinganya berdengung dan kepalanya pusing.
Sementara Abhizar tampak tidak menyesali perbuatannya. Perkataan Zahra benar benar menghancurkan hatinya.
Abhizar lantas menarik tangan Zahra dan sama sekali tidak perduli dengan kaki Zahra yang terseok seok mengikutinya. Tarikan itu begitu kasar hingga bahu Zahra nyeri. Ia tidak sempat berteriak saat Abhizar mendorong tubuhnya ke atas kasur. Punggungnya menghantam seprai, napasnya tersedak oleh ketakutan yang tiba-tiba membanjiri dada.
Meski seluruh tubuhnya terasa sakit, namun Zahra berusaha untuk bangun. Didepannya, Abhizar sedang membuka kancing kemejanya satu persatu. Tiba tiba seperti ada alarm tanda bahaya yang berbunyi dipikiran Zahra. Memberi tahu bahwa yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang mengerikan.
"Kamu mau apa?" Suara Zahra gemetar, nyaris tak terdengar.
Abhizar telah berhasil melepas kemeja yang membungkus tubuh besar tegapnya, dadanya naik turun cepat. Wajahnya gelap, rahangnya mengeras, matanya menatap Zahra seolah perempuan itu adalah pengkhianat paling keji.
"Apa saja yang kalian lakukan di belakang saya?" Tanyanya dingin dengan tangan yang membuka gesper dipinggangnya.
Zahra membeku saat melihat Abhizar yang dengan santainya meloloskan kedua kakinya dari celana panjang navy yang membalutnya. Tubuh Zahra bergetar hebat. Bibirnya terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ada satu kata pun yang keluar. Hanya ketakutan yang menjalar dari ujung rambut sampai ke tulang belakangnya.
"Saya tanya" Ucap Abhizar dengan nada pelan namun dalam. Giginya terkatup, rahangnya mengeras. "APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH?" Sambung Abhizar sambil mencengkram erat kedua bahu Zahra.
"Tidak…" Lirihnya. "Tidak ada…" Zahra menggeleng cepat, air matanya mengalir deras. Isaknya pecah.
Namun jawaban itu justru menyulut amarah Abhizar lebih dalam.
"Jangan bohong!" bentak Abhizar. "Saya sudah tahu semuanya!"
Tangan Abhizar mencengkeram lebih keras, membuat Zahra meringis kesakitan. Tubuhnya menegang, nalurinya ingin melawan, tapi dia terlalu lemah. Terlalu takut.
"Saya sudah membiarkan kamu terlalu bebas," Desis Abhizar di telinga Zahra.
"Kamu lupa siapa saya." Sambung Abhizar sambil membuka kain penutup terakhir ditubuhnya membuat Zahra panik dan bergegas berusaha melarikan diri. Namun Zahra terlambat. Dengan gesit Abhizar berhasil menangkap pergelangan kakinya dan menariknya. Membalikkan tubuh Zahra lalu menindihnya.
Dengan kekuatan yang tersisa Zahra terus memberontak. Kedua tangannya dia gunakan untuk memukul wajah dan tubuh Abhizar, barangkali bisa menyingkirkan tubuh besar itu dari atas tubuhnya. Namun tampaknya Zahra lupa seberapa jauh perbedaan ukuran tubuh mereka. Dengan tatapan yang menyala, Abhizar mencengkram kedua pergelangan tangan Zahra dan dengan mudah menggenggamnya dalam satu tangan lalu menariknya keatas. Serta dengan lihai Abhizar membelit kedua kaki Zahra dengan kakinya, sehingga mengunci seluruh pergerakan Zahra. Jarak mereka begitu dekat. Nafas Abhizar panas, deras, seperti hembusan badai yang tak bisa dihentikan.
"Tolong… Abhizar… aku mohon…" Ucapan Zahra tidak terselesaikan. Dengan kasar Abhizar membungkam bibir Zahra dengan bibirnya.
Ciuman itu sangat menyakitkan bagi Zahra. Nafas Zahra tercekat. Saat akhirnya Abhizar melepaskan bibirnya, dengan rakus Zahra meraup oksigen diruangan itu. Sementara Abhizar dengan gesit mengikat tangan dan kaki Zahra di masing masing sudut ranjang menggunakan baju, dasi dan ikat pinggangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Romance"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
