"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
Perawat yang sedari tadi berdiri disamping brankar membeku dengan wajah pucat.
Sementara Zahra menunduk dengan kepala sedikit menoleh kekiri akibat tamparan itu. Bekas telapak tangan Abhizar terlihat jelas di pipinya. Kulit putihnya memerah. Sudut bibirnya sedikit lecet hingga menimbulkan garis darah tipis. Namun Zahra memilih untuk tidak menangis meski pipinya terasa berdenyut perih.
Perlahan Zahra mengangkat wajah. Zahra berusaha dengan keras untuk menyunggingkan senyum sinis yang berhasil menciptakan kerutan didahi Abhizar. Menatap nyalang pada Abhizar. Zahra benar benar muak dengan lelaki itu.
"Kenapa? Tersinggung?" Lirih Zahra serak.
"Kamu keterlaluan Zahra" Ucap Abhizar dengan rahang mengeras.
"Keterlaluan?" Tanya Zahra dengan terkekeh pelan meski bibirnya sakit. "Lalu bagaimana dengan yang kamu lakukan?...Keterlaluan, BRENGSEK, MENJIJIKKAN, KEJAM, BIADAB!!" Lanjut Zahra dengan teriakan frustasi.
Kalimat itu menghantam telak. Bahkan sang perawat refleks menahan napas. Tangan Abhizar mengepal dengan wajah keruh.
"Kamu boleh memaki saya. Tapi tolong...jangan menyumpahi anak saya. Anak kita. Setidaknya tolong terima dia" Ucap Abhizar dengan menekan emosinya. Dia mengasihani anaknya yang baru mereka ketahui namun telah mendapat penolakan dari ibunya. Istrinya itu bahkan dengan tega menyumpahi kematian untuk anak mereka. Cukup dirinya yg tidak diinginkan, jangan anaknya, pikir Abhizar.
Dengan getir Zahra tertawa sambil meneteskan air mata. Begitu sial Tuhan mengatur hidupnya, pikir Zahra. Diperkosa, dipaksa menikah dengan pemerkosa, dan sekarang harus mengandung anak dari sipemerkosa. Matanya mulai memerah menahan emosi yang selama ini ia kubur sendiri.
"Kamu ingin saya menerima anak ini?" Tanya Zahra sambil menunjuk perutnya. "Bagaimana caranya, Abhizar?..Setiap kali saya ingat ada darahmu di dalam tubuh saya…saya merasa sesak." Sambungnya.
Abhizar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Gejolak emosi didalam dirinya seakan ingin diledakkan. Air matanya menetes saat mendengar bukan hanya dirinya yang tak diinginkan, tapi anaknya juga.
"Saya tidak pernah meminta semua ini,," Lanjut Zahra. "Saya punya hidup saya sendiri. Saya punya masa depan saya sendiri. Tapi kamu menghancurkan semuanya hanya karena obsesi gilamu".
"Saya tidak terobsesi. Saya mencintai kamu Zahra" Bantah Abhizar.
"Cinta? Cinta seperti apa yang kamu maksud?.. Cinta tidak seharusnya semenyakitkan ini Abhizar" Ucap Zahra dengan tangis yang semakin pecah.
"Saya bahkan tidak berani melihat wajah saya sendiri di cermin tanpa teringat malam itu!" Kembali Zahra berucap disela tangisnya.
"CUKUP ZAHRA" Bentak Abhizar menggema memenuhi ruang rawat itu.
Sang perawat kembali tersentak menyaksikan pertengkaran antara suami istri tersebut. Merasa bingung mau melakukan apa. Pergi, namun tugasnya untuk memastikan pasien untuk minum vitamin belum terlaksana. Diam disini justru membuatnya seperti menguping permasalahan rumah tangga sang pemilik rumah sakit tempatnya bekerja ini.
Zahra sama sekali tidak mengalihkan pandangan meski mendapat bentakan sekeras itu. Dirinya berusaha untuk tidak tampak takut. Matanya justru menatap Abhizar dengan dingin.
"Lihat? Beginilah kamu selalu bersikap padaku. Memperlakukanku dengan kasar layaknya wanita murahan. Membentak bahkan kamu tak segan memukulku. Itukah cinta yang kamu maksud?" Ucap Zahra lirih.
Napas Abhizar memburu. Ia merasa dadanya seperti ditekan sesuatu yang berat.
"Saya tidak pernah berniat menyakiti kamu." Ungkap Abhizar.
"Tapi kamu melakukannya" Zahra tertawa kecil sambil menggeleng.
Sunyi. Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian.
Perawat yang sejak tadi berdiri kikuk akhirnya memberanikan diri bicara pelan.
"Dok… mungkin ibu Zahra sebaiknya istirahat dulu…" Ucapnya dengan sangat takut.
"Keluar" Suara Abhizar datar kali ini.
Tanpa perlu mendengar dua kali, perawat itu langsung pergi tanpa berani menatap keduanya lagi.
Kini hanya tersisa mereka berdua. Abhizar menatap Zahra lama. Sangat lama. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat sesuatu yang selama ini tidak ingin ia akui. Zahra tidak hanya membencinya. Perempuan itu hancur karenanya.
Namun bahkan setelah mengetahui itu…ada bagian gelap dalam diri Abhizar yang tetap tidak rela melepaskannya.
"Saya tidak akan membiarkan anak itu kenapa-kenapa" Ucap Abhizar akhirnya dengan suara rendah.
"Sekali lagi saya katakan. Ini anakmu. Bukan anak yang saya inginkan." Zahra langsung menjawab tanpa ragu.
Kalimat itu kembali menusuk hati Abhizar. Tetapi kali ini Abhizar tidak marah. Ia hanya menatap Zahra dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.
Marah. Terluka. Dan takut.
Takut bahwa jika pada akhirnya dia harus kehilangan semuanya. Anaknya maupun istrinya.
💞💞
Huhuuuu syediiihh. Zahra ih kejam banget jadi perempuan. Anak sendiri masak nggak mau diakui😡😡
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.