Pagi yang cerah dengan udara yang masih segar. Sepasang suami istri tengah berdiri didepan rumah mereka, dengan suami yang mendekap sang istri. Sang istri mengantarkan suami sampai depan rumah adalah aktivitas rutin yang mulai Abhizar dan Zahra lakukan sejak mereka berjanji memulai hubungan mereka. Abhizar sendiri sudah tidak mengantar jemput Zahra lagi karena permintaan sang istri tersebut. Menurut Zahra hal itu akan memakan waktu bagi Abhizar yang arah rumah sakitnya berlawanan dengan tempat mengajar Zahra. Meski merasa keberatan, Abhizar terpaksa mengalah karena tidak ingin dianggap egois. Toh istrinya hanya tidak ingin merepotkannya, benar benar manis sekali bukan? Fikir abhizar. Meski begitu Abhizar tidak serta merta membiarkan Zahra harus menaiki kendaraan umum, tentu saja itu akan membuat Zahra kesulitan dan pastinya berdesakan nantinya. Alhasil Abhizar membelikan Zahra motor sebagai alternatif Zahra menuju ketempat mengajarnya. Tadinya Abhizar ingin membelikan mobil untuk istri tercintanya itu agar Zahra lebih nyaman dan tidak harus kepanasan. Namun ternyata Zahra justru lebih merasa nyaman dengan mengendarai motor. Wanita mungil itu bilang, dengan motor dia lebih mudah menyalip kendaraan lain saat lalu lintas sedang macat.
"Mas berangkat kerja ya. Kamu nanti hati hati bawa motornya" Pesan Abhizar sambil menangkup wajah mungil sang istri, dan diakhiri dengan kecupan di dahi, pipi dan bibir wanita kecintaannya itu.
Zahra yang mendapat perlakuan tersebut hanya menerima seperti biasa dengan sesekali tertawa karena merasa geli dengan bulu bulu wajah Abhizar yang bergesekan dikulit mulus wajahnya.
Suara klakson dari mobil Abhizar dan juga lambaian tangan Zahra mengakhiri aktivitas harmonis itu. Senyum yang tadinya terukir manis diwajah Zahra menghilang seketika.
Memasuki rumah, Zahra bergegas menaiki tangga menuju kamar mereka. Pagi ini dia belum meminum obat penunda kehamilannya lantaran Abhizar yang terus mengekorinya. Lelaki itu berubah seperti bayi besar yang tidak bisa ditinggal oleh ibunya. Bedanya disini Abhizar tidak bisa ditinggal oleh Zahra yang notabenenya sebagai istrinya. Entah kemana wajah sangar menyeramkan Abhizar yang dulu. Kini wajah Abhizar selalu tersenyum ceria dan sifatnya begitu manja pada Zahra. Dan jangan lupakan kebiasaan mesum lelaki itu seperti meminta jatah setiap malam, menyusu pada Zahra atau tangannya yang suka meraba. Dan saat Zahra menolak atau marah karena tingkah lelaki itu, bukan paksaan seperti dulu yang akan dilakukan Abhizar, namun lelaki itu akan diam dengan wajah murung yang jujur, justru membuat Zahra merasa gemas dan kasihan.
Mengingat itu membuat Zahra tersenyum geli. Namun langsung seketika berubah saat dia menyadari sesuatu. Tidak seharusnya Zahra tersenyum hanya karena mengingat tingkah Abhizar, lelaki itu adalah monster dalam hidupnya. Itu yang harusnya Zahra ingat dan tanamkan didalam otaknya.
Mencoba mengenyahkan pikirannya yang penuh dengan tingkah polah Abhizar, Zahra lantas bergegas turun. Mengambil tasnya yang terletak dikursi meja makan lantas berjalan keluar rumah. Mengunci rumah besar milik Abhizar, Zahra kemudian menaiki motor matic berwana pink muda dengan body mengkilat yang dibelikan oleh Abhizar.
---
Tok tok
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Abhizar dari berkas berkas yang memenuhi meja kerjanya. Seorang perawat yang menjabat sebagai sekertarisnya memasuki ruangannya dan memberi tahu Abhizar bahwa Viona ingin bertemu dengannya.
Viona? Sudah lumayan lama Abhizar tidak mendengar kabar wanita itu, mungkin sudah ada 3 tahun wanita itu menghilang tanpa kabar. Abhizar pikir mungkin Viona telah menemukan tambatan hatinya, seorang laki laki yang bisa membalas perasaannya, bukan seperti Abhizar. Abhizar pantas mempersilah sekertarisnya untuk memperbolehkan Viona masuk.
Wanita dengan rambut pirang bertubuh tinggi dan ramping bak seorang model itu berjalan dengan anggun memasuki ruangan Abhizar. Tidak lupa dengan senyum menawan yang tersungging dibibir merah meronanya. Jika dilihat tidak mungkin ada lelaki yang mau menolak pesona seorang Viona Nick. Namun nyatanya ada 1 laki laki yang mematahkan pendapat tersebut. Dan laki laki itu adalah Abhizar Albirru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Romance"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
