Tiga hari. Tiga hari penuh sejak kejadian itu. Dan selama tiga hari itu pula, Zahra tidak melihat batang hidung Abhizar sama sekali.
Awalnya Zahra mengira Abhizar mungkin sedang sibuk di rumah sakit. Lagipula sebagai dokter bedah sekaligus pemilik rumah sakit besar, belum tentu membuat pekerjaan Abhizar sedikit, bisa saja justru lebih banyak. Itulah yang ada dipikiran Zahra.
Namun ketika hari pertama, kedua bahkan ketiga berlalu tanpa kehadiran lelaki besar itu, Zahra mulai menyadari sesuatu. Abhizar benar-benar tidak datang. Tidak ada sosok lelaki itu yang biasanya duduk diam di sudut ruangan sambil mengawasinya. Tidak ada suara berat yang selalu membuat dirinya tegang. Tidak ada tatapan tajam yang selama ini menghantuinya.
Kosong. Rasanya..begitu sunyi. Seharusnya Zahra merasa tenang. Karena ketiadaan lelaki itu adalah keinginannya selama ini.
Tetapi anehnya, sesekali Zahra malah melirik pintu ketika mendengar suara langkah kaki di koridor. Namun ketika pintu terbuka, yang masuk hanyalah perawat, atau mama Mita, atau kedua orang tuanya. Bukan Abhizar. Dan itu menghadirkan sedikit rasa kecewa didalam diri Zahra.
Tidak. Zahra tidak menunggu. Apalagi menunggu Abhizar, tentu saja tidak mungkin. Zahra hanya...sedikit penasaran. Iya..penasaran. Karena selama ini Abhizar hampir tidak pernah absen menjenguknya. Bahkan ketika mereka sedang bertengkar hebat sekalipun.
💞💞
Guyyss🤗
Ini othor bela²in upload malam² ya😮💨.
Sayang² othor, othor seneng banget bacain komentar dari kalian. Othor liat ada pro dan kontra. Dan othor seneng, karena itu tandanya othor berhasil narik kalian masuk kedalam cerita othor🥰.
Last..othor minta maaf kalau ada balasan komen othor yg menyinggung hati kalian ya. Maklum bumil, mood swing parah🤭. Yaahh sekali lagi makasih udah selalu setia nunggu update cerita anak² othor. Luv yu😙
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Romansa"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
