Bab 4

8.4K 181 1
                                        

Lima hari setelah kejadian itu, Abhizar masih memikirkan tentang wanita yang dia temui direstoran ayam saat makan siang bersama Fadlan. Wanita itu benar-benar berkeliling dipikiran Abhizar, bahkan menjadi bunga tidur Abhizar setiap malam. Semakin membuat Abhizar ingin bertemu dan menjalin kedekatan pada wanita bertubuh mungil itu.

Sejak lima hari yang lalu Abhizar selalu datang kerestoran yang sama tempat mereka pertama bertemu, berharap dapat bertemu untuk kali kedua. Namun ternyata hasilnya nihil.

Saat ini Abhizar berjalan hendak keluar dari rumah sakit, lantaran jadwalnya yang tidak padat, sehingga membuatnya dapat pulang lebih cepat. Ketika berada di lobby rumah sakit, langkah Abhizar terhenti. Didepan sana, sosok wanita yang menjadi bunga tidurnya baru saja memasuki rumah sakit dengan langkah tergesa lalu melewati Abhizar.

Abhizar yang tersadar lantas berbalik dan memegang lengan wanita itu. Yang tentu saja membuat sang wanita terkejut dan menatap bingung kearah lelaki besar, berwajah brewok, dengan rambut yang di ikat dan setelan jas putih. Tidak lupa stetoskop yang tergantung dileher lelaki itu. Yang menunjukkan dengan jelas profesi lelaki itu sebagai seorang dokter.

“Maaf, bisa lepaskan tangan saya? Saya sedang buru-buru” Ucap sang wanita dengan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria besar didepannya. Sepertinya wanita itu lupa pada Abhizar.

“Oh maaf” Abhizar berkata sambil melepaskan genggamannya. “Saya Abhizar. Kamu lupa?” Sambung Abhizar bertanya.

“Maaf saya tidak kenal anda. Saat ini saya sedang buru-buru. Permisi”

Sepertinya wanita itu memang sedang terburu-buru, karena setelah mengucapkan kalimat itu, dia langsung pergi berjalan setengah berlari meninggalkan Abhizar yang menatap punggung wanita tersebut.

Abhizar yang tidak ingin menyianyiakan kesempatan bertemu kembali dengan wanita sang penggetar hati pun melangkah mengikuti. Lelaki itu penasaran pada alasan yang membuat wanita itu tergesa-gesa dengan wajah yang.... khawatir?

Saat jarak diantara mereka sudah semakin dekat, wanita itu memasuki suatu ruangan. Abhizar lantas berjalan menuju ruangan tersebut dan berdiri didepan pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.

Dari tempatnya berdiri, Abhizar dapat melihat wanita itu menangis di depan brankar yang diatasnya terbaring seorang lelaki paruh baya. Di dalam ruangan itu ada satu orang wanita paruh baya berjilbab panjang dan seorang lelaki. Dari kesimpulannya, sepertinya lelaki dan wanita paruh baya itu adalah orang tua dari wanita yang belum dia ketahui namanya.

“Dokter Abhizar” Seorang dokter wanita yang hendak masuk keruangan itu bingung melihat Abhizar yang berdiri didepan ruangan pasiennya. Sang dokter lantas memanggil Abhizar yang sontak membuat lelaki itu terkejut.

“Dokter sedang apa?” Tanya dokter wanita yang ternyata senior Abhizar.

“Ah dokter Vika. Saya cuma sedang melihat-lihat. Dokter sendiri sedang apa?” Tanya Abhizar setelah berhasil mengendalikan diri dari rasa terkejutnya.

“Ini ruangan pasien saya. Dan saya datang untuk mengecek keadaan pasien saya setelah tadi dilarikan ke UGD karena kembali kambuh” Jawaban yang dilontarkan oleh seniornya tersebut, membuat Abhizar lantas berspekulasi bahwa lelaki paruh baya yang terbaring diatas brankar di dalam, menderita penyakit jantung. Karena setahu Abhizar, Dokter Vika adalah spesialis jantung yang Cuma menangani pasien penderita jantung.

Setelahnya dokter wanita itu izin kepada Abhizar lalu memasuki ruangan tersebut. Abhizar masih setia menunggu di depan ruangan pasien, bahkan setelah dokter Vika keluar. Setelah dua puluh menit menunggu, akhirnya Abhizar bisa melihat wajah jelita itu kembali. Namun wanita itu keluar tidak sendirian, di sampingnya ada seorang lelaki. Abhizar tidak tahu siapa lelaki itu, mungkin saja saudaranya.

“Hai” Abhizar menyapa. Membuat kedua pasang manusia tersebut menoleh padanya.

Sang wanita lantas terkejut karena melihat sosok yang menghadangnya saat dia baru memasuki rumah sakit tadi. Kenapa sosok itu ada di depan ruangan inap ayahnya? Apa lelaki itu menunggunya? Tapi kenapa?

“Maaf. Dokter, yang tadi di lobby kan? Dokter sedang apa disini?” Ucap wanita itu bertanya.

“Sepertinya kamu memang tidak mengingat saya” Ucap Abhizar yang menimbulkan kerut pada kening sang wanita. Abhizar lantas melanjutkan dengan menceritakan kejadian pertama mereka bertemu.

Penjelasan Abhizar lantas membuat wanita itu memandangnya kaget. Lantaran baru ingat dengan sosok lelaki dengan tumpahan ice cream dicelana lelaki itu akibat ulah salah satu muridnya.

“Mas Abhizar” Kata wanita itu. Ahh Abhizar lega, akhirnya bisa kembali mendengar panggilan itu lagi.

“Mas Abhizar dokter?” Tanya sang wanita saat kembali melihat alat dokter yang melekat ditubuh Abhizar.

“Ya, saya dokter disini, spesialis bedah” Jawab Abhizar. “Hmm. Saya baru ingat kalau saya belum tahu siapa nama kamu” Ucap Abhizar setelah berdehem untuk melegakan sedikit tenggorokannya. “Saya boleh tahu siapa nama kamu?” Sambung Abhizar.

“Zahra. Zahrana Bilqis. Maaf karena lupa memperkenalkan diri sebelumnya Mas” Dengan nada lembut wanita bernama Zahra itu berucap.

Zahra. Abhizar kembali mengulang dalam hati. Dan debaran itu kembali dia rasakan, bahkan semakin menjadi. Debaran yang anehnya menyenangkan menurut Abhizar.

“Tidak masalah. Yang penting sekarang saya tahu nama kamu”

“Oh ya, dan ini Alzam, sahabat saya” Ucap wanita itu memperkenalkan sosok lelaki disampingnya yang terdiam menyimak sejak tadi. “Alzam, ini Mas Abhizar. Seperti yang Mas Abhizar bilang. Mas Abhizar ini orang yang nggak sengaja ditabrak sama salah satu anak didik aku waktu kami sedang acara outdoor di restoran ayam” Sambung Zahra. Sambil tersenyum dia menjelaskan kepada lelaki bernama Alzam yang juga tersenyum mengangguk membalas ucapan wanita itu. Alzam lantas mengangguk ramah kearah Abhizar yang dibalas tatapan datar oleh Abhizar.

Saat Abhizar melihat senyuman kedua pasang manusia tersebut. Lelaki bertubuh besar itu menyadari ada sesuatu diantara keduanya. Suatu hubungan yang bukan hanya sekedar sahabat, seperti yang dikatakan Zahra padanya.

Abhizar benci mengakui, saat dengan jelas dia dapat melihat bahwa keduanya memiliki perasaan yang sama. Tapi seorang Abhizar Albirru bukanlah orang yang pantang menyerah. Meski dididik dengan sangat keras oleh sang papa, itu justru membuatnya menjadi orang yang ambisius. Dia selalu mendapat apa yang dia inginkan. Dan kali ini, Abhizar pastikan bahwa Zahrana Bilqis akan menjadi miliknya. Harus.

💞💞
Haiii othor kembalii😄. Maaf yaa othor update nya lama. Soalnya rada bingung mau lanjutinnya 🤣🤣. Othor harap reader suka sama bab kali ini yes😄

Jangan lupa di vote reader sayaaanngg😚

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang