Bab 44

818 77 17
                                        

Enam hari Zahra dirawat di rumah sakit.

Enam hari yang berjalan lambat, berat, dan dipenuhi dengan keheningan.

Hari pertama, Zahra masih terlalu lemah. Tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Wajahnya pucat. Tatapannya kosong. Tapi meski dalam keadaan lemah, ternyata Zahra mampu menguras energi dan emosi Abhizar.

Bagaimana tidak, berbagai penolakan diberikan wanita itu. Dari mulai menolak untuk makan dan minum obat. Zahra bahkan menolak menatap Abhizar. Setiap lelaki itu masuk ke ruang rawat, Zahra akan memalingkan wajahnya ke arah jendela seakan akan wajah Abhizar adalah pemandangan yang sangat menjijikkan.

Zahra baru mau makan atau minum obat jika Abhizar keluar dari kamar rawatnya.

Kediaman Zahra membuat urat leher Abhizar semakin menonjol akibat berusaha menahan amarahnya yang ingin sekali ia ledakkan. Abhizar teringat ucapan Fadlan yang mengatakan bahwa dirinya harus lebih bersabar menghadapi Zahra. Terlebih saat ini wanita itu tengah mengandung.

Hari kedua dan ketiga, Abhizar terus berusaha menekan emosinya saat Zahra bertingkah mengancam tidak ingin makan jika ada dirinya. Alhasil Abhizar hanya bisa menuruti kemauan sang istri dengan berjalan keluar kamar.

Hari keempat, setelah selesai makan. Ketika perawat datang lagi dengan  membawa vitamin penguat kandungan, Zahra menatap gelas kecil itu lama. Sang perawat menjelaskan bahwa tiga hari sebelumnya dokter belum memberikan vitamin untuk kandungannya karena Zahra tengah meminum obat untuk pemulihan keadaannya. Itu dilakukan agar tidak terjadi kelebihan dosis.

Dan melihat keadaan Zahra yang sudah cukup membaik. Dokter mulai mengalihkan obat yang sebelumnya dikonsumsi Zahra ke vitamin penguat kandungan.

"Silahkan diminum vitaminnya ya bu. Ini untuk janinnya" Ucap perawat itu lembut.

"Saya tidak mau minum" Jawab Zahra tegas.

Perawat itu terdiam bingung beberapa saat.

"Maaf ibu, tapi ini resep dari dokter untuk ibu Zahra konsumsi. Agar janin ibu sehat dan kuat" Sambung perawat itu lagi dengan nada yang sama.

"Justru itu saya tidak mau minum" Kembali Zahra memberikan penolakan.

"Tapi ibu, kalau ibu tidak minum vitamin..."

Belum siap ucapan sang perawat, Zahra langsung memotong dengan kasar.

"Bayi ini akan mati. Itu yang saya mau"

Perawat terkejut mendengar ucapan Zahra. Dan bertepatan dengan itu terdengar suara pintu dibuka dengan kasar lalu disusul langkah kaki yang tergesa mendekati brankar Zahra.

PLAK

Kejadian itu begitu cepat. Dengan wajah memerah dan tatapan penuh amarah Abhizar tidak dapat lagi menahan dirinya saat mendengar ucapan Zahra.

Ternyata dari Abhizar sudah berada didepan pintu rawat Zahra sejak perawat hendak masuk membawakan vitamin wanita itu. Alhasil dengan sangat jelas Abhizar mendengar perkataan kejam sang istri untuk calon anak mereka.

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang