Bab 29

1.3K 66 14
                                        

Udara pagi terasa dingin menusuk, terlihat dari kaca jendela yang basah oleh embun. Suara adzan berkumandang bersamaan dengan bunyi alarm dari ponsel Zahra. Membangunkan Zahra yang langsung mematikan alarmnya lalu melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu. Setelahnya, Zahra lantas membangunkan Abhizar untuk melakukan yang sama.

Abhizar mulai rajin beribadah sejak hubungannya dan Zahra membaik, dalam sepengetahuan lelaki itu. Abhizar ingin menjadi suami yang baik bagi Zahra dan dapat mengimami wanita sholehah itu.

Membuka mata dan melihat wajah ayu sang istri dengan balutan mukenah membuat Abhizar semakin hanyut dalam lautan cinta Zahra. Bibirnya tersenyum manis menatap wajah Zahra.

"Bangun mas. Kenapa malah senyum senyum kayak gitu?" Tanya Zahra yang jujur sedikit salah tingkah.

"Jadi sayang maunya mas marah marah aja?" Tanya Abhizar dengan nada menggoda.

"Ya enggak. Ya mas ngapain dibangunin buat sholat malah senyum senyum" Balas Zahra.

"Habisnya yang bangunin bidadari, gimana mas nggak senyum" Ucap Abhizar diakhiri dengan kerlingan mata membuat Zahra langsung terdiam dan tersipu.

"Udah ah, buruan ambil air wudhu. Keburu shubuhnya habis. Atau Zahra sholat duluan ya" Ucap Zahra sambil beranjak yang berhasil membuat Abhizar langsung bangun.

"Mana boleh sayang. Sayangkan udah punya imam, sholatnya harus bareng imam. Biar pahalanya lebih banyak" Ungkap Abhizar.

"Awalnya dulu juga Zahra sholat selalu sendiri" Secara reflek Zahra menjawab. Membuat Abhizar tersenyum sendu lantaran mengingat dirinya yang dulu. Zahra yang tersadar telah menyinggung Abhizar lantas hanya terdiam, takut kalau lelaki itu akan marah.

Namun, alih alih marah Abhizar hanya meneruskan langkahnya memasuki kamar mandi dan keluar tidak berapa lama.

Mereka lantas melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Abhizar mengangkat takbir dengan suara pelan namun mantap. Sementara Zahra mengikuti dibelakang Abhizar sebagaimana seorang makmum.

Abhizar tidak sepenuhnya buta soal agama. Dia masih sedikit hapal setiap doa dalam gerakan sholat. Mama tirinyalah yang telah mengajarkan kepada Abhizar dari mulai cara berwudhu, tata cara pelaksanaan sholat beserta dengan doanya. Mengenalkan huruf-huruf hijaiyah, membimbing tangannya menelusuri lembar Al-Qur’an. Wanita itu secara lembut dan sabar mengajarinya. Abhizar masih tidak habis pikir, kenapa wanita itu bisa begitu baik dan peduli padanya. Wanita itu benar benar membuktikan bahwa tidak semua ibu tiri itu kejam.

Usai salam terakhir, Abhizar menunduk, menatap sajadah lalu menadahkan tangan. Hatinya bergetar, ada rasa haru, rasa syukur, sekaligus sedikit penyesalan. Abhizar mengucap rasa terima kasih kepada sang pencipta lantaran masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Disambung dengan doa lain yang dipanjatkan Abhizar seperti kebaikan untuk rumah tangganya, kesehatan dan rezeki.

Sementara Zahra memiliki doa yang berbeda. Wanita itu memanjatkan doa untuk kesembuhan Alzam, serta kelancaran rencananya. Zahra berharap dirinya bisa terbebas dari belenggu Abhizar yang menyesakkan.

Usai berdoa, Abhizar berbalik dan mengulurkan tangan. Zahra yang paham lantas mengambil uluran tangan Abhizar dan menciumnya. Meski dalam hati wanita itu dengan lirih mengucapkan permintaan maaf pada Alzam. Dia menekankan bahwa semua yang dirinya lakukan hanya sebuah sandiwara.

Abhizar mengecup kening Zahra. Lelaki itu berpiki nikmat Tuhan yang mana lagi yang akan dirinya dustakan. Kini hidupnya sudah lengkap, meski akan semakin lengkap jika mereka memiliki anak. Namun Abhizar tidak akan memaksa Zahra, karena dia tahu mereka tengah mengusahakan. Dan Tuhan yang memiliki ketentuannya.

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang