Bab 43

2.2K 96 34
                                        

Abhizar berdiri disudut ruang VIP itu. Zahra sedang dipeluk ibunya. Tangisnya pelan tapi belum benar-benar reda. Ayahnya duduk di kursi sudut ranjang, memandangi putrinya dengan mata berkaca-kaca.

Abhizar memilih mundur. Memberi ruang. Langkahnya baru mencapai pintu ketika suara lembut memanggilnya.

"Izar"

Abhizar menoleh. Mita, mama tirinya berdiri sambil menyodorkan sebuah paper bag berwarna cokelat muda. Tidak ada tatapan menghakimi dari sorot mata wanita paruh baya itu. Yang ada hanya tatapan lembut penuh kasih layaknya seorang ibu pada anaknya.

"Ganti pakaian kamu. Kamu terlihat..kacau" Ucap Mita dengan sorot sendu.

Abhizar terdiam. Dia bahkan tidak sadar sejak tadi pakaiannya masih berbekas noda darah.

"Didalam ada baju kemeja dan celana. Sengaja mama bawa dari rumah." Sambung Mita karena Abhizar hanya diam.

Entah bagaimana wanita itu bisa tahu. Seakan akan Mita punya insting bahwa pakaian bersih adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan Abhizar saat ini. Bukan hanya untuk tubuhnya, tapi mungkin untuk kewarasannya.

"Terima kasih" Ucap Abhizar singkat sambil berlalu meninggalkan ibu tirinya yang menatapnya dalam.

**

Air mengalir deras dari shower kamar mandi pribadinya. Abhizar berdiri lama di bawahnya, membiarkan air dingin menghantam kulitnya. Abhizar menggosok tangannya keras-keras.
Seolah darah itu masih ada. Seolah dosa itu bisa luruh bersama sabun.

Beberapa menit kemudian Abhizar keluar dengan kemeja bersih dan rambut masih basah. Tampangnya lebih segar, lebih terlihat seperti manusia.

Begitu membuka pintu ruang kerja, Fadlan sudah ada di sana. Duduk di sofa, satu kaki menyilang, ponsel di tangan. Tapi jelas dia tidak benar-benar sibuk. Fadlan menunggu. Saat melihat Abhizar, Fadlan menegakkan tubuh dan bersandar dengan tatapan tajam.

"Udah selesai nyegarin diri?" Tanya Fadlan.

Abhizar menghela napas. "Lo memang nggak sabaran ya."

"Gue mau tahu kenapa Zahra bisa babak belur kayak gitu?" Tanya Fadlan dengan kesal.

Kenibg Abhizar mengerut tanda tidak terima dengan istilah 'babak belur' yang diucapkan sahabatnya itu.

"Jangan pakai istilah itu." Ucap Abhizar.

Fadlan mengangkat alis. "Terus istilah apa yang cocok?"

Abhizar berjalan kearah meja kerjanya, menarik kursi, dan duduk perlahan.

"Gue nggak menghajar Zahra secara membabi buta." Tegas Abhizar.

Fadlan menatap Abhizar dengan tajam. Sahabatnya itu hanya mencari pembelaan untuk perlakuannya.

"Gue cuma… kehilangan kendali," Lanjut Abhizar lebih pelan. "Sedikit lebih kasar dari biasanya."

Kalimat itu membuat rahang Fadlan mengeras.

"Cuma lo bilang? Badannya lebam lebam kayak gitu lo bilang cuma bi?" Tanya Fadlan dengan emosi yang mulai naik. "Lo bahkan bisa masuk penjara karena perbuatan lo udah mengancam dua nyawa bego!!" Bentak Fadlan.

Abhizar menyandarkan punggungnya. Menatap langit-langit.

"Lo tahu,,dia bilang,,dia mau mulai semua dari awal sama gue. Dia bilang udah maafin gue dan mau terima gue sebagai suami. Dia mau memperbaiki rumah tangga kami." Ucap Abhizar masih dengan posisi menatap langit langit ruang kerjanya.

Fadlan diam mendengarkan.

"Gue seneng. Dan gue percaya sama semua kata katanya dia." Sambung Abhizar. Tangannya mulai mengepal dengan pandangan yang menajam. "Tapi ternyata..itu semua cuma tipu dayanya dia. Dia ngebohongi gue supaya bisa ketemu sama Alzam dibelakang gue"

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang