Bab 24

2.1K 87 19
                                        

Selesai dari swalayan, mobil Abhizar langsung bergerak menuju rumah mereka. Akibat jalanan yang cukup padat, membuat mereka sampai dirumah tepat pukul 5 sore.

Pintu gerbang secara otomatis terbuka ketika mobil Abhizar sampai didepan gerbang. Memasuki pekarangan rumah, Abhizar lantas memarkirkan mobil di garasi. Zahra keluar terlebih dahulu, yang kemudian disusul oleh Abhizar.

Saat hendak menaiki tangga, langkah Zahra terhenti saat mendengar suara Abhizar.

"Kamu mau makan apa malam ini?" Tanya Abhizar kepada Zahra.

Tidak perlu heran dengan pertanyaan Abhizar. Karena semenjak mereka menikah, memang Abhizarlah yang selalu memasak. Walau seharusnya itu merupakan tugas Zahra yang notabennya seorang istri.

Zahra tidak pernah menyuruh Abhizar untuk memasak, toh Zahra juga tidak berselera makan saat harus duduk berdua dengan lelaki itu.

Semua atas inisiatif Abhizar sendiri. Menurut lelaki besar itu, ini merupakan taktik yang dia ambil untuk membuat Zahra jatuh hati padanya. Jangan khawatir dengan rasa makanannya. Karena meski berprofesi sebagai seorang dokter, namun kemampuan memasak Abhizar layak untuk diacungi jempol. Bahkan bisa disandingkan dengan masakan cheff hotel bintang 5.

Kemampuan memasaknya dia dapatkan saat harus menempuh pendidikan dokter di Stanford University. Mendapatkan beasiswa dan dukungan penuh sang oma membuat Abhizar tidak berpikir dua kali untuk kuliah di salah satu universitas terbaik tersebut.

Meski mendapatkan kiriman uang jajan dari Oma Haya, lantas tidak membuat Abhizar menjadi boros. Abhizar memilih memasak sendiri makanan yang akan dia makan. Selain lebih hemat, dia jadi memiliki kemampuan baru.

Usai membalas gelengan atas pertanyaan Abhizar, Zahra melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamar mereka.

Abhizar sudah tidak terkejut lagi dengan respon sang istri. Karena selalu seperti itulah respon yang dia dapat. Awalnya dia akan marah, namun ketiga sahabatnya selalu mengatakan padanya bahwa Abhizar harus lebih melembutkan diri kepada Zahra. Karena wanita selalu menyukai kelembutan. Terlebih mereka menikah karena keterpaksaan dari sebelah pihak.

Jadi mengikuti perkataan para sahabatnya, Abhizar mencoba untuk lebih bersabar menghadapi Zahra. Dan akan melampiaskan kemarahannya dengan samsak tinju, atau mengajak seseorang berduel tinju.

Berjalan kearah dapur dengan menggulung lengan kemejanya sampai siku, Abhizar mulai menyiapkan bahan bahan masakannya.

Sementara dikamar, Zahra baru saja keluar dari kamar mandi usai mengambil air wudhu dan bergegas menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.

Usai menyelesaikan kewajibannya, Zahra bergegas mengambil ponselnya. Tadi dia sempat meminta nomor telfon Laras. Tidak lupa untuk menutup pintu terlebih dahulu, Zahra segera menghubungi Laras melalui chat. Sekedar memberitahu mengenai nomor barunya. Kemudian menghapus pesannya kembali, supaya tidak dapat diketahui oleh Abhizar.

Duduk di ranjang, Zahra kembali termenung. Jujur, keinginan untuk bertemu Alzam teramat besar. Dia sangat merindukan lelaki itu, terlebih saat Zahra mengetahui keadaan Alzam sekarang. Ingin sekali Zahra berada disamping Alzam dan membantu lelaki itu untuk pulih dan berjalan kembali.

Namun, dengan statusnya sekarang. Terlebih pengawasan Abhizar yang begitu ketat yang membuatnya merasa dibelenggu. Tentu saja untuk menemui Alzam begitu mustahil. Lelaki itu bahkan mengikuti Zahra kemanapun dan membuat Zahra merasa seperti tahanan.

Suara pintu mengalihkan perhatian Zahra.

"Makanan sudah siap" Ucap Abhizar memberitahu. "Kamu tidak mandi dulu? Saya pikir kamu bergegas naik keatas karena ingin mandi" Lanjutnya.

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang