Kafe itu terlihat biasa saja dari luar. Pengunjungnya tidak terlalu ramai, namun bukan berarti sepi. Sekilas terlihat normal jika dilihat oleh orang lain. Berbeda dengan sosok yang berada dibalik kaca mobil sedan hitam yang terparkir di seberang jalan, sebuah lensa kamera bergerak perlahan. Mengambil beberapa foto dengan hasil bidikan gambar yang begitu jelas. Sangat terlihat bahwa orang itu merupakan photografer profesional.
Kamera itu kembali menyorot kearah kafe, tepatnya pada dua sosok wanita yang tampak sedang berbincang serius. Fokus kamera menangkap wajah Zahra yang tegang. Lalu Viona yang bersandar angkuh. Amplop cokelat di atas meja. Serta gestur tangan Zahra yang gemetar.
Setelah berhasil mengambil beberapa gambar, pria itu lantas membuka aplikasi pesan, dan mengirim semua hasil jepretannya sekaligus.
**
Di ruang kerjanya, Abhizar menatap layar ponsel dengan kening berkerut. Zahra dan Viona. Kedua wanita itu bertemu. Untuk orang yang baru bertemu sekali, bukankah pertemuan ini menjadi sesuatu yang patut untuk dicurigai, pikir Abhizar. Dan dari gambar yang Abhizar lihat, zahra, istrinya seperti tengah gelisah. Ada juga beberapa gambar yang menunjukkan istrinya itu tengah menangis sambil bercerita sementara Viona terlihat serius mendengarkan. Apa yang mereka bicarakan. Dan amplop coklat diatas meja itu, apa maksudnya. Apa Viona mencoba mengancam istrinya untuk meninggalkannya. Jika benar begitu, sepertinya Viona mencoba menggali kuburannya sendiri.
"Cari tahu, kenapa mereka bertemu. Siapa yang memulai. Dan apa yang mereka bicarakan." Titah Abhizar pada orang suruhannya itu.
"Baik bos" Jawab suara di seberang dengan patuh.
Abhizar menatap gambar itu lagi tepatnya pada wajah sang istri. Entah kenapa firasatnya seperti mengatakan Zahra tengah merahasiakan sesuatu.
"Dan satu lagi...Mulai sekarang, awasi kembali istri saya. Seperti dulu." Tambah Abhizar dengan suara dingin.
Sementara orang suruhannya yang berada diseberang sana sedikit merinding saat mendengar suara Abhizar dan dengan tegas mengiyakan perintah tersebut.
Panggilan terputus.
Abhizar lantas berjalan menuju jendela besar yang ada diruangannya tersebut. Suasana kota terlihat dari atas ruangannya. Pandangan Abhizar menatap lurus keluar jendela. Pikirannya mencoba menerka nerka latar belakang perjumpaan Zahra dan Viona. Serta gerak gerik aneh yang ditunjukkan istrinya akhir akhir ini. Instingnya mulai awas. Seharusnya Abhizar tidak lengah selama ini. Pernyataan Zahra yang ingin memulai hubungan mereka dari awal melenakan Abhizar. Membuat Abhizar mengurangi pengawasannya pada Zahra. Dan sekarang dirinya malah dibuat penasaran dengan apa yang sedang disembunyikan oleh istrinya itu.
**
Di tempat lain, Viona duduk di dalam mobilnya yang masih berada diparkiran kafe tempat dirinya dan Zahra bertemu. Make-up-nya masih rapi. Rambutnya sempurna. Tapi matanya…menyorot dengan tajam kearah depan. Tangannya mengepal.
Viona mengingat kembali wajah Zahra saat mengaku bahwa dirinya diperkosa, dipaksa menikah, oleh Abhizar. Kata-kata itu berputar di kepalanya seperti racun yang membuat Viona bukannya iba justru malah muak.
"Perempuan sialan" Desis Viona.
Wajah Viona memerah akibat lonjakan emosi yang tak tertahan. Bagi Zahra, pengakuan itu mungkin sebuah luka. Tapi bagi Viona, kejujuran itu justru terdengar seperti kesombongan. Seolah Zahra berkata: Lihat? Sampai segitunya Abhizar menginginkanku.
"Aaarrrgghhh"
Buk
Buk
Buk
Dengan penuh kekesalan Viona berteriak kencang sambil memukul setir. Tak peduli rasa sakit yang menjalar pada kedua tanggannya akibat pukulan itu. Karena saat ini hatinya jauh lebih sakit.
Dirinyalah yang lebih dulu mengenal Abhizar. Bertahun tahun mencintai lelaki itu, memujanya, bahkan melakukan segala cara untuk mendapat perhatiannya. Dirinya telah menyingkirkan setiap wanita yang mencoba mendekati Abhizar dan percaya tidak akan ada wanita yang berhasil menarik perhatian Abhizar, melihat tingkah lelaki itu yang seperti mati rasa pada wanita.
Namun..mendengar kenyataan Abhizar bahkan berani memperkosa Zahra, seorang wanita kampung, serta memaksa wanita itu menikah dengannya membuat Viona marah. Ternyata setelah penantian panjangnya, dirinya tetap tidak pernah dipilih oleh Abhizar dan hal itu menghadirkan kebencian yang begitu besar pada Zahra.
Viona tertawa kecil, dadanya sesak, air matanya tiba tiba saja menetes. Dirinya menangis disela sela tawanya. Tatapannya lantas jatuh pada figura kecil diatas daskbor mobilnya yang berisi gambar dirinya yang tengah merangkul lengan Abhizar dengan kepalanya bersender di bahu lelaki itu.
Gambar itu diambil saat Abhizar berhasil mendapatkan gelar dokternya. Wajahnya terlihat tersenyum cerah di gambar itu, berbanding terbalik dengan Abhizar yang menampilkan raut datar. Siapapun dapat dengan jelas melihat bahwa sama sekali tidak ada ketertarikan dimata lelaki itu pada Viona. Namun Viona yang keras kepala dulu selalu meyakinkan dirinya bahwa suatu hari Abhizar pasti akan melihat kearahnya, mencintainya. Kepercayaan itu masih dipegang teguh oleh Viona sampai detik ini. Meski kenyataannya harapannya harus pupus lagi dan lagi. Tapi Viona tidak akan menyerah, dia sudah melangkah sejauh ini untuk mengejar cinta Abhizar. Dia akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan Abhizar.
Dan Zahra...Viona memang sudah berjanji pada Zahra akan membantu wanita itu untuk bercerai dari Abhizar. Harus. Tapi untuk merahasiakan pertemuan wanita itu dengan kekasih gelapnya tentu tidak akan menjadi pilihan Viona. Justru itu akan menjadi cara paling cepat untuk bisa melenyapkan wanita itu dari sisi Abhizar.
Viona meraih ponselnya, membuka galeri berisi foto-foto Zahra dan Alzam. Senyum tipis terukir di bibirnya. Menyalakan mesin mobil, Viona langsung meninggalkan pelataran kafe itu.
Di antara kebencian dan rasa cintanya yang menggila, Viona telah memilih untuk menghancurkan Zahra. Dan ironisnya, Zahra sama sekali tidak menyadarinya.
💞💞💞
Detik detik menuju perang duniaaaaaa😱😱 tapi akhir² ini othor nggak enak badan ditambah amandel yang kumat. Doain othor sehat² terus yaa🥲🥲
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Dragoste"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
