Bab 42

1.2K 67 6
                                        

Lampu ruang operasi masih menyala terang ketika Fadlan melepas sarung tangan medisnya dengan perasaan lega. Fadlan berhasil menghentikan pendarahan itu.

Butuh waktu. Butuh fokus. Butuh ketenangan yang hampir mustahil Fadlan jaga karena pasien di atas meja itu adalah istri sahabatnya sendiri. Banyak pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban setiap kali matanya melihat jejak lebam ditubuh istri sahabatnya itu.

"Perdarahan terkendali" Ucap Fadlan tegas pada tim.
“Janin masih memiliki detak jantung. Stabil untuk saat ini.” Sambung Fadlan.

Para tim medis yang mendengar merasa lega.

Janin itu kuat. Sangat kuat. Meski wanita yang merupakan ibu si janin telah terluka parah. Banyak luka ditubuh wanita mungil itu. Di lengan. Di pergelangan tangan dan kaki. Di paha bagian atas. Bekas cengkeraman. Bekas kekerasan. Menarik napas panjang. Amarahnya naik perlahan. Fadlan sendiri ngilu melihat bukti kebringasan sahabatnya. Entah apa yang melatarbelakangi tindakan kekerasan yang dilakukan Abhizar.

**

Pintu ruang operasi terbuka.
Abhizar berdiri dari kursi lorong begitu melihatnya. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Lengan kemejanya digulung, dan di sana terlihat jelas kulit tangannya memerah, bahkan sedikit berdarah. Sepertinya lelaki itu menjadikan dinding rumah sakit sebagai samsaknya untuk melampiaskan kemarahan. Fadlan dapat melihat jejak darah menempel didinding yang tak jauh dari posisi Abhizar duduk.

"Bagaimana?" Tanya Abhizar dengan suara serak.

"Istri dan anak lo selamat" Jawab Fadlan datar.

Mata Abhizar menutup sesaat. Napasnya terlepas seperti seseorang yang baru saja lolos dari jurang maut. Tapi sebelum dia sempat berkata apa pun..

BUGH!

Satu pukulan meluncur dengan sangat keras mendarat tepat diwajah Abhizar.

Beberapa perawat yang mendengar dan melihat langsung terkejut. Bagaimana tidak, ada orang yang berani memukul sang pemilik rumah sakit.

Abhizar terhuyung, namun hanya pasrah dan tidak melawan. Fadlan berdiri di depannya, napasnya memburu, matanya menyala penuh kemarahan.

"Sejak kapan lo jadi pengecut kayak gini?" Desisnya. "Terlebih sama perempuan yang lo kejer kayak orang gila. Dasar tai lo" Sambung Fadlan mencerca lantaran tidak habis pikir dengan sikap Abhizar.

Tidak pernah. Seumur hidup Fadlan mengenal Abhizar, Fadlan tidak pernah melihat Abhizar melayangkan tangan pada seorang perempuan. Terlebih Zahra. Perempuan yang Fadlan tahu sudah membuat Abhizar masuk dalam lingkaran obsesi gila. Seperti sesuatu yang tak ingin dia lepaskan.

Namun malam ini, Fadlan justru melihat keadaan Zahra hampir kehilangan nyawanya beserta janinnya. Dan itu karena sahabatnya, Abhizar, suami wanita itu, lelaki yang sangat terobsesi pada wanita mungil itu.

Abhizar menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Ia tidak membalas. Tidak membentak. Tidak memamerkan kuasa nya. Abhizar justru tertawa pelan, pahit.

"Thanks" Ucap Abhizar lirih.

Fadlan terdiam.

"Kalau lo nggak mukul gue" lanjut Abhizar pelan, "Gue mungkin udah mukul diri gue sendiri." Sambung Abhizar.

Abhizar menunjukkan buku-buku jarinya yang terluka.

"Tembok itu nggak cukup keras untuk menghukum gue." Ucap Abhizar lagi.

Untuk pertama kalinya, Fadlan melihat sesuatu yang jarang ada pada diri Abhizar, rasa bersalah.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Fadlan lebih tenang, tapi tetap tegas.

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang