"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
Zahra sedang duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar pada kepala ranjang, mata menatap kosong ke depan. Pertemuannya dengan Viona siang tadi masih berputar-putar di kepalanya. Kata 'kerja sama' terdengar seperti harapan, tapi entah kenapa Zahra masih belum merasa tenang. Ketakutan tetap bersarang didalam dirinya. Bahkan saat dalam perjalanan pulang usai bertemu dengan Viona tadi, Zahra merasa seperti tengah diperhatikan. Hal yang sama sekali Zahra tidak tahu, bahwa sejak sore, setiap langkahnya kembali diawasi.
Pintu kamar mandi terbuka. Abhizar keluar dengan handuk melilit dipinggangnya. Rambutnya masih basah. Berjalan menuju lemari disudut ruangan. Tatapan Abhizar sekilas tertuju pada Zahra yang langsung berpura pura membaca buku saat Abhizar keluar kamar mandi.
"Kamu capek?" tanya Abhizar datar setelah memakai pakaian dan duduk diranjang yang bersisian dengan Zahra.
Zahra tersentak kecil, lalu mengangguk cepat. "Iya Mas"
Abhizar mengamati istrinya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Wajah itu terlalu tegang untuk sekadar lelah. Tapi Abhizar tidak bertanya lagi. Ia hanya duduk di sisi ranjang, meraih ponselnya, lalu membuka pesan yang baru masuk. Dari nomor yang dia kenal, orang suruhannya.
+62... Setelah dari kafe..ibu zahra langsung pulang bos
Gambar.. Gambar.. Gambar..
Terdapat 3 gambar yang dikirim oleh orang suruhannya itu. Gambar Zahra yang keluar dari kafe. Lalu gambar wanita itu yang menaiki taksi. Dan terakhir gambar Zahra memasuki pagar rumah mereka.
Abhizar lantas mengunci layar ponsel, lalu meletakkannya di meja samping ranjang. Tatapannya kembali pada Zahra yang masih dengan buku ditangannya, wanita itu terlihat menghindar.
"Kamu bertemu siapa hari ini?" tanya Abhizar.
Zahra menegang. Tidak siap dengan pertanyaan Abhizar yang tiba tiba.
"Hm?" Zahra berusaha terdengar santai. "Nggak ketemu siapa-siapa mas. Habis selesai ngajar, Zahra langsung pulang." Sambung Zahra berusaha meyakinkan Abhizar.
Bohong. Zahra berbohong. Rahang Abhizar mengeras, tangannya mengepal. Namun Abhizar berusaha menahan luapan emosinya dan hanya mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu. Dirinya masih belum tahu apa yang disembunyikan sang istri, jadi Abhizar tidak akan mengambil sikap gegabah yang justru akan menghancurkan hubungan mereka.
"Tidurlah" Ucap Abhizar akhirnya. "Kamu kelihatan butuh istirahat." Sambung Abhizar dengan nada yang diusahakan setenang mungkin meski dadanya bergemuruh menahan amarah.
Zahra mengangguk, segera berbaring dan membelakangi Abhizar. Napasnya berusaha dia atur agar terdengar normal.
Namun Zahra tidak tahu kalau mata Abhizar menatap punggungnya lama, sangat lama. Dan teralihkan oleh suara getaran ponselnya sendiri.
**
Di sisi lain kota, Viona berdiri di balkon apartemennya. Segelas wine merah di tangan kanannya dan ponsel disebelah kiri. Ia menatap lampu-lampu kota dengan senyum tipis yang penuh perhitungan. Lalu setelahnya jemarinya mendial satu satunya nomor yang memiliki icon hati.
Viona tahu panggilannya sudah dijawab meski sama sekali tidak ada kata sapaan dari orang yang ada diseberang sana.
"Halo, Bhi," Suaranya lembut, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tidak ada balasan.
"Aku punya rahasia Zahra yang kamu nggak tahu" Sambung Viona memancing respon Abhizar.
"Katakan" Tegas Abhizar.
Mendengar suara Abhizar, Viona tersenyum miring, caranya berhasil namun ada sebagian hatinya yang sakit. Kenyataan bahwa dengan menyebut nama Zahra dapat menarik perhatian lelaki itu, membuat Viona kembali tertolak.
"Sepertinya Zahra memiliki pengaruh besar ya buat kamu" Ucap Viona.
"Aku matikan kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu katakan" Tegas Abhizar sambil hendak menurunkan ponselnya dari telinga.
"Kita perlu ketemu" Ucap Viona dengan cepat demi mencegah Abhizar mematikan panggilannya.
"Katakan sekarang..."
"Ada bukti yang perlu kamu lihat. Agar kamu tidak menuduhku berbohong Abhizar" Ucap Viona memotong kalimat Abhizar.
Hening. Untuk beberapa saat tidak ada balasan dari Abhizar.
"Bhi..."
"Ok. Datang ke kantorku besok" Ucap Abhizar. "Pastikan ucapanmu besok bukan omong kosong. Karena aku tidak akan mentolerir itu" Sambung Abhizar.
"Pasti" Jawab Viona dengan nada mantap. Dan setelahnya panggilan diputus. Oleh Abhizar.
Viona menapat nyalang ponselnya itu.
Aaaaarrrkkhhh
Brak
Ponsel dengan logo apel tergigit itu hancur seketika. Nafas Viona berhembus dengan cepat dan tak terkendali.
Kenapa? Kenapa selalu sikap dingin seperti itu yang ditunjukkan Abhizar padanya, pikir Viona. Tidak bisakah lelaki itu sedikit saja, tidak, secuil saja menaruh peehatiannya pada Viona. Wanita yang sedari lama mendambakannya.
Viona jatuh terduduk. Tubuhnya merunduk dan bergetar. Air matanya mulai jatuh melintasi pipi putih mulusnya.
"Kenapa? Kenapa bukan aku saja Bhi?" Ucap Viona dengan lembut, seolah Abhizar tepat berada disisinya.
**
Kembali kerumah besar Abhizar. Lelaki itu tengah berdiri didepan jendela.
Zahra telah terlelap diranjang besar mereka. Terlihat dari nafas wanita itu yang teratur.
Besok dirinya akan tahu semuanya. Abhizar berharap rahasia yang tengah disembunyikan istrinya itu tidak akan menghancurkan hubungan harmonis mereka.
💞💞💞
Next chapter bagian yg kita tunggu² yaaa.... sooo 50 komen othor gercep upload😆🤗
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.