Bab 34

1K 67 51
                                        

Lampu ruang keluarga menyala temaram. Zahra duduk di sofa dengan lutut dipeluk. Matanya menatap layar televisi yang memantulkan dirinya, pikirannya kosong. Sejak sore ia tak benar-benar tenang. Ada firasat buruk yang menekan dadanya, seperti awan gelap yang membawa badai.

Ponsel di sampingnya tiba-tiba bergetar. Satu notifikasi masuk dari nomor tak dikenal.

Zahra hanya melirik sekilas, lalu hendak mengabaikannya. Namun detik berikutnya, layar ponsel kembali menyala, kali ini dengan gambar.

Akhirnya dengan malas Zahra mengambil ponsel itu. Dan didetik berikutnya, seluruh tubuhnya seketika membeku.

Foto itu jelas.
Terlalu jelas.

Dirinya… berdiri di depan rumah Alzam.
Dirinya… mendorong kursi roda Alzam.
Dirinya… berlutut di hadapan lelaki itu, menggenggam tangannya.

Kejadian dirumah, dirumah sakit, bahkan saat dirinya hendak pulang. Semua di potret dengan sangat jelas.
Sudut pengambilan gambarnya begitu rapi. Satu hal yang terlintas dipikiran Zahra adalah dirinya tengah diawasi. Atau yang lebih mengerikan, diintai. Darah Zahra seolah surut dari wajahnya. Ponsel itu kembali bergetar.

Nomor Tidak Dikenal:
"How sweet. Si cantik dan si lumpuh. Sangat menarik"

Jari Zahra gemetar hebat.
Ia mengetik cepat.

Zahra:
"Siapa kamu?"

Balasan datang semenit kemudian.

Viona:
"So sad..Masa kamu lupa dengan saya Zahra?"

Napas Zahra tercekat.

"Viona…" bisiknya lirih, hampir tak bersuara.

Panik langsung menyeruak. Ia menoleh ke sekeliling ruang tamu, seolah takut ada orang lain yang membaca pesan itu bersamanya. Pertanyaan berikutnya menghantam kepalanya dengan keras. Dari mana dia dapat nomor aku?

Zahra belum pernah memberikan nomornya pada Viona. Mereka tidak sedekat itu untuk saling bertukar nomor. Tangannya bergetar semakin parah saat pesan berikutnya masuk.

Viona:
"Kamu pasti sedang bertanya tanya, dari mana saya bisa dapat nomor kamukan"
"Tenang aja. Buat saya, itu gampang."

Di tempat lain, Viona tersenyum sambil bersandar di sofa mahalnya. Ingatannya melintas pada sore itu saat ia hanya perlu satu perintah singkat.

"Cari nomor istri Abhizar. Sekarang."

Lima menit. Hanya lima menit. Dan nomor itu langsung muncul di layar ponselnya.

Sementara Zahra yang terduduk tegak di sofa ruang tengah merasa panik.

Viona:
"Sekarang coba kamu bayangin…"
"Gimana reaksi Abhizar. SU A MI kamu kalau foto-foto ini sampai ke tangannya?"

Air mata Zahra jatuh tanpa bisa ditahan.

Zahra:
"Tolong… jangan."

Viona:
"Kenapa? Kamu kan nggak salah."
"Atau… kamu sadar kalau kamu salah?"

Zahra menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak. Jantungnya berdetak terlalu cepat, terlalu keras.

Zahra:
"Saya mohon. Jangan beritahu Abhizar."

Titik-titik mengetik muncul cukup lama, seolah Viona menikmati kepanikan itu.

Viona:
"Saya bisa saja langsung kirim sekarang."
"Hanya sekali tekan."

Tiba-tiba...Suara pintu depan terbuka.
Zahra tersentak keras.

"Zahra?" Suara Abhizar.

Tubuh Zahra menegang seperti disambar petir. Ia refleks mematikan layar ponsel dan menggenggamnya dengan erat lalu menyembunyikannya dibelakang tubuhnya. Napasnya tersengal, kakinya lemas saat berdiri.

"Kamu udah pulang? Apa yang kamu lakukan diruangan gelap begini?" Tanya Abhizar sambil berjalan menuju Zahra yang berdiri mematung.

Tadinya Abhizar fikir istrinya itu belum pulang karena melihat rumah yang begitu gelap. Namun nyatanya istrinya telah berada dirumah.

Zahra telah berusaha berdiri, tapi lututnya seakan nyaris tak kuat menopang tubuhnya. Alhasil tubuhnya hampir saja jatuh jika Abhizar tidak sigap menangkap tubuh sang istri. Tatapan Abhizar menyapu wajah Zahra. Ia mengernyit.

"Kamu kenapa? Wajah kamu pucat sekali." Tanya Abhizar dengan nada dan raut khawatir. Bagaimana tidak, dari dekat ternyata wajah istrinya begitu pucat dan berkeringat. Dan seperti habis menangis.

"Kamu...menangis? Tanya Abhizar dengan langsung.

Zahra pantas dengan cepat melepaskan rangkulan Abhizar dan sedikit memberi jarak dengan lelaki itu.

"Capek..Zahra..cuma kecapekan mas" Zahra menjawab dengan cepat, terlalu cepat. "Zahra mau ke kamar duluan ya mas" Sambung Zahra.

Tanpa menunggu jawaban Abhizar, Zahra langsung melangkah pergi. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas serpihan kaca.

Di dalam kamar, Zahra langsung bergegas menuju kamar mandi. Karena tau Abhizar akan menyusulnya memasuki kamar. Ia mengunci pintu, lalu bersandar di belakangnya. Tubuhnya melorot ke lantai. Tangannya gemetar saat kembali menyalakan ponsel.

Pesan baru sudah menunggu.

Viona:
"Abhizar pasti sudah pulangkan?"

Zahra langsung mengetik dengan air mata membasahi layar.

Zahra:
"Saya mohon. Jangan bilang apa-apa ke Abhizar"
"Saya akan lakukan apapun yang mbak mau"

Viona:
"Kamu tau apa yang saya mau Zahra"
"Tinggalkan Abhizar"

Benar. Viona, wanita itu terlihat sangat mencintai Abhizar. Tentu saja Zahra akan dengan sangat senang hati memberikan Abhizar pada wanita itu. Tapi Zahra tau semua tidak semudah itu. Abhizar. Lelaki itu terlalu berbahaya. Dia bisa melakukan apa saja. Mengancam keselamatan siapa saja. Dirinya, orang tuanya, Alzam dan keluarganya. Zahra tidak peduli jika Abhizar menghancurkan atau bahkan membunuh dirinya. Tapi bagaimana jika Abhizar melakukan hal yang sama  pada orang orang yang dirinya sayangi. Zahra tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Zahra:
"Ada yang perlu saya bicarakan sama mbak"
"Kita harus ketemu mbak"

Detik menit, Zahra menunggu balasan sambil menggigit ibu jarinya. Pesan itu masuk 3 menit kemudian.

Viona:
“Besok.”
“Besok kita ketemu.”

Zahra:
“Di mana mbak?”

Viona:
“Tenang. Aku yang tentuin.”
“Datang sendirian.”
“Kalau kamu nggak datang…”

Tiga titik.
Lalu satu pesan terakhir.

Viona:
“Foto-foto ini akan menjadi hadiah buat Abhizar.”

Napas Zahra tersengal saat dirinya membayangkan Abhizar yang telah mengetahui perbuatannya dibelakang lelaki itu. Tangannya memutar pancuran shower. Ia memeluk lututnya, menangis tanpa suara.

Di balik pintu kamar mandi, langkah kaki Abhizar berhenti ketika mendengar suara air. Berfikir jika istrinya tengah mandi. Meski ingin bergabung namun ada pekerjaan yang belum dirinya selesaikan. Jadi menunggu sambil melakukan pekerjaannyalah yang dirinya pilih.

💞💞💞
50 komen othor upload next part besok pagi🤗

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang