Ruang kerja Abhizar sunyi. Meski diluar ruangan itu, disetiap penjuru rumah sakit yang sibuk, ambulans datang dan pergi, perawat berlalu-lalang, para pasien yang semakin banyak berdatangan, semua bergerak, kecuali pikirannya.
Abhizar duduk di kursi kerjanya, jas dokter masih melekat rapi. Berkas pasien terbuka di hadapannya, tapi sejak lima belas menit lalu tak satu pun halaman dibalik. Pikirannya penuh oleh satu nama. Zahra, istrinya.
Ia menghela napas pelan, menyandarkan punggung ke kursi. Tangannya terkatup di atas meja, jemarinya saling mengunci erat.
Meski telah berjanji memulai dari awal hubungan mereka. Tidak lantas membuat Zahra menjadi wanita yang ceria. Wanita itu tetap tidak banyak bicara, selalu pendiam, lebih sering mengalah, menunduk saat Abhizar menggoda. Meski tatapan ketakutan yang dulu sering wanita itu perlihatkan tatkala Abhizar mendekat sudah tidak ada.
Tapi yang sekarang berbeda. Akhir-akhir ini Zahra sering melamun.
Tatapannya kosong.
Wajahnya mudah pucat.
Dan yang paling mengganggu, ada ketakutan yang jelas di matanya. Terlebih saat Abhizar mencoba mendekat, tubuh wanita itu bergetar dan seperti tengah menahan tangis.
Abhizar mengingat pagi tadi. Cara Zahra terkejut berlebihan saat ia memanggil. Cara jemarinya gemetar saat menuang teh. Cara ia terlalu cepat menjawab, seolah takut salah.
Ada yang kamu sembunyikankah Zahra?
Pertanyaan itu bergema di kepalanya, tapi Abhizar menolaknya mentah-mentah. Tidak. Ia dan Zahra sudah berjanji. Memulai dari awal.
Melupakan masa lalu. Dan Abhizar untuk pertama kalinya dalam hidupnya, memilih percaya.
Bahkan ia sudah menghentikan satu kebiasaannya yang paling sulit dilepas:
mengintai. Tak ada lagi orang suruhan yang membuntuti Zahra. Tak ada laporan harian. Tak ada foto-foto rahasia. Karena menurutnya, seorang istri yang mencintainya tidak perlu diawasi.
"Jangan merusak semuanya Abhizar" Gumamnya lirih pada diri sendiri.
Ia mengepalkan tangan. Dalam hatinya ada konflik yang tak pernah ia akui, antara rasa percaya dan sifat posesif yang mengalir di darahnya. Jangan paranoid, ingat dia istri kamu. Ucapnya dalam hati.
Namun, jauh di lubuk hatinya, insting itu masih ada. Insting seorang lelaki yang terbiasa mengontrol segalanya.
Abhizar berdiri, menatap pantulan dirinya di kaca.
"Kalau memang ada yang Zahra sembunyikan" ucapnya pelan, hampir seperti janji pada diri sendiri, "Kamu pasti akan mengetahuinya. Cepat atau lambat."
**
Disisi lain. Zahra berdiri di depan rumah sederhana itu dengan jantung berdegup keras. Tangannya menggenggam tas kecil di dadanya, seolah itu satu-satunya pelindung yang ia punya.
Dua hari.
Dua hari ia menghilang tanpa kabar.
Dua hari ia menahan rindu, rasa bersalah, dan ketakutan sekaligus.
Tangannya mengetuk pintu dan tak lama kemudian pintu itupun terbuka. Menampilkan wajah gadis remaja dengan binar bahagia saat mendapati Zahralah yang mengetuk pintu rumahnya.
"Mbak Zahra" Seru Mala sambil memeluk Zahra. "Ayo masuk mbak" Ajak gadis itu.
"Umi sama Abah mana Mal?" Tanya Zahra saat mwlihat keadaan rumah yang sunyi.
"Umi sama Abah kepasar belanja mbak. Mbak Zahra 2 hari lalu kemana kok nggak dateng?" Tanya Mala.
"Sekarang mbak harus hati hati Mal. Mbak takut Abhizar tau mbak kesini" Jawab Zahra.
Mala yang mendengar jawaban Zahra merasa kasihan pada wanita yang seharusnya jadi kakak iparnya itu. Bertindak seperti tengah main kucing kucingan saat hendak menemui abangnya pasti melelahkan. Namun, jika mengambil sikap gegabahpun yang ada Zahra dan abangnya pasti akan hancur. Mala sudah mencari tau tentang Abhizar Albirru serta latar belakang lelaki itu yang tidak bisa disepelekan.
"Abang kamu mana?" Tanya Zahra menarik Mala dari keterdiaman gadis itu.
"Ra" Suara itu menjawab langsung pertanyaan Zahra.
Alzam yang keluar dengan kursi roda menghampiri Zahra. Sementara Mala memilih memasuki kamar untuk memberi ruang pada dua sejoli yang seakan terhalang takdir untuk bersatu.
"Kamu kemana aja?" tanya Alzam pelan. "Aku nungguin kamu".
Zahra langsung berlutut di hadapannya, tangannya reflek menggenggam tangan Alzam.
"Maaf," suaranya bergetar. "Aku… aku nggak bisa datang."
Alzam menatapnya lama.
"Kamu kenapa?"
Zahra menggeleng cepat. Air matanya jatuh sebelum ia sempat menahannya.
"Aku takut," lirihnya jujur. "Aku takut semuanya ketauan.
Alzam terdiam.
"Dia?" tanya Alzam, meski ia sudah tahu jawabannya.
Zahra mengangguk.
"Ada orang yang tau soal kita," sambung Zahra, napasnya memburu. "Kalau Abhizar sampai tau… Zam, dia bisa ngelakuin apa aja." Air mata Zahra semakin deras membayangkan ucapannya benar terjadi.
Alzam mengepalkan tangan di atas sandaran kursi roda.
"Kamu nggak seharusnya sendirian nanggung ini. Maafin aku ra, aku laki laki nggak berguna" ucapnya lirih sambil menunduk menatap kedua kakinya.
Zahra menggeleng lalu menangkup wajah Alzam untuk menatapnya.
"Kamu nggak salah apa apa zam. Semua yang terjadi bukan salah kamu." Ucap Zahra menenangkan Alzam. "Jika ada yang salah, itu hanya Abhizar. Lelaki itu iblis. Monster" Sambung Zahra dengan raut wajah penuh kebencian mengingat wajah Abhizar.
Zahra lantas membantu Alzam bersiap untuk pergi terapi, tangannya cekatan seperti biasa menyiapkan keperluan Alzam. Namun kali ini, setiap gerakannya diselimuti kecemasan.
Tanpa sepengetahuan Zahra. Diluar sana. Dari arah seberang jalan, di dalam mobil hitam yang terparkir rapi. Sebuah kamera mengarah tepat ke rumah itu. Seorang pria mengenakan topi menarik ponselnya, menekan tombol rekam.
"Target datang," ucapnya singkat melalui telepon.
"Iya, Nona. Sama seperti dugaan Anda."
Di tempat lain, Viona tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
"Bagus," gumamnya puas. "Sekarang tinggal nunggu waktu yang tepat."
Karena permainan ini…baru saja dimulai.
💞💞💞
Gimana gimana,, part ini makin gereget nggak. Pantengin terus update-an anak² othor ya🤗
Ets,, jangan lupa vote & komen utk mancing othor rajin upload😠. Othor suka di pancing² soalnya🤭
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Romance"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
