Bab 49

617 64 10
                                        

Sudah tiga hari Abhizar tidak menginjakkan kaki di rumah sakit. Dan malah menjadi penghuni tidak resmi apartemen Raja. Hal yang tentu saja sangat mengganggu bagi Raja, sang pemilik apartemen.

"Kalau bukan karena lo sahabat gue, sumpah udah gue lempar lo dari balkon." Ucap Raja yang tentu saja itu tidak serius.

Mana mungkin Raja berani melakukan itu pada Abhizar. Dia juga tidak akan sanggup mengangkat tubuh lelaki itu. Ukuran tubuh mereka sangat berbeda. Abhizar dengan tinggi 198cm sementara dirinya hanya 168cm. Yang ada, bukan dirinya yang melempar Abhizar. Tapi Abhizar lah yang akan melempar Raja dari balkon hanya dengan satu tangan. Seketika Raja merinding membayangkannya.

Sementara Abhizar, hanya rebahan disofa panjang ruang tamu. Dengan kedua mata lurus menatap TV yang menyala didepannya. Namun tatapannya kosong. Tampak jelas bahwa lelaki besar itu tengah melamun. Abhizar bahkan tidak menanggapi ocehan Raja.

Raja menghela napas lalu berjalan menuju meja makan. Disana sudah ada Fadlan dan Azlee yang duduk sambil menikmati sarapan mereka. Mereka sudah mendengar permasalahan Abhizar dari Raja. Tak lupa Fadlan menambahkan perihal Zahra.

"Gue masih nggak percaya." Fadlan memecah keheningan. Dokter kandungan itu menyandarkan tubuh pada kursi sambil mengusap wajah lelahnya. "Gue pikir masalah terbesar hidup dia cuma Zahra. Ternyata masalahnya banyak banget" Sambung Fadlan.

Suasana hening. Pandangan Fadlan mengarah pada Abhizar yang masih termenung dalam lamunan.

"Gue marah banget sama Abhizar waktu pertama kali liat kondisi Zahra. Gue bahkan sempet nonjok dia" Ucap Fadlan kembali yang membuat Azlee dan Raja terkejut saat mendengar kalimat terakhir Fadlan.

Raja bertepuk tangan dengan raut penuh kagum.

"Wuaah...Gila, berani banget lo"

Fadlan mendengus pelan.
"Bukannya berani. Refleks."

"Refleks?" Raja mengangkat sebelah alis. "Refleks lo mahal juga ya. Yang lo pukul CEO rumah sakit." Ucap Raja dengan senyum miring. "Lagian... dia nggak bales?" Sambung Raja sambil menatap kearah Abhizar.

Fadlan menggeleng sebagai jawaban.

"Nggak ngelawan sama sekali?" Tanya Raja.

"...Nggak" Jawab Fadlan. Fadlan menghela napas panjang. "Waktu itu... dia cuma berdiri. Gue pukul sekali, dia tetap diam. Gue tanya kenapa Zahra bisa sampai kayak gitu, dia malah cuma bilang makasih. Katanya dia juga pengen mukul dirinya sendiri. Dan gue tau dia udah lakuin itu. Terbukti dari buku buku jarinya yang lecet dan berdarah" Sambung Fadlan menceritakan kepada kedua sahabatnya, Raja dan Azlee.

Sementara Raja dan Azlee mendengarkan dengan khidmat. Lalu ketiganya kembali melirik kearah sahabat mereka yang bertubuh besar itu yaitu Abhizar.

Abhizar masih dalam posisi yang sama. Tidak bergerak. Tidak bereaksi. Seolah pembicaraan itu bukan tentang dirinya.

"Kayaknya otaknya si Abhi lagi rusak sekarang" Celetuk Raja.

"Bukan otaknya yang rusak. Tapi hatinya yang hancur" Sambung Azlee.

Suasana kembali tenggelam dalam keheningan. Tidak ada candaan. Tidak ada ejekan. Ketiga lelaki itu sama-sama memandangi sosok Abhizar dari kejauhan. Sahabat mereka yang selama ini selalu berdiri paling depan ketika mereka mengalami masalah. Sahabat yang selalu tampak paling kuat. Meski
menyimpan kehidupan yang paling berantakan.

Tak lama kemudian, ponsel Fadlan bergetar. Dokter itu langsung melihat layar ponselnya. Pesan dari salah satu perawat ruang VIP.

Dok, pasien atas nama Ny. Zahra Albirru masih menolak vitamin hamil pagi ini. Setelah dibujuk cukup lama akhirnya mau minum, tapi kembali muntah setelahnya.

Fadlan membaca pesan itu perlahan. Lalu tanpa sadar mengembuskan napas panjang.

"Ada apa?" Tanya Azlee.

"Zahra." Ucap Fadlan.

Abhizar yang sejak tadi diam, akhirnya sedikit menggerakkan kepalanya. Namun tidak menoleh meski telinganya mulai mencuri dengar.

"Dia masih nolak vitamin." Ucap Fadlan.

Jemari Abhizar perlahan mengepal mendengar ucapan Fadlan.

"Masih muntah juga." Sambung Fadlan.

Sunyi.
Fadlan kembali membaca pesan berikutnya.

Bu Mita juga datang lagi pagi ini. Beliau sempat duduk cukup lama di samping pasien. Sebelum pulang beliau hanya bilang, Kalau Abhizar datang, bilang saya mau ketemu dia.

Dada Abhizar kembali terasa sesak mendengar Fadlan membacakan pesan dari perawatnya. Wanita itu, ibu kandungnya ingin bertemu dengannya.

Abhizar perlahan memejamkan mata. Bayangan Mita yang menangis di depan makam Jihan ibutirinya yang sebenarnya kembali memenuhi kepalanya.

"Maaf... Mama nggak bisa mempertahankan kamu waktu itu..."

Suara itu masih terngiang jelas.

Raja memperhatikan perubahan ekspresi sahabatnya itu dan berjalan mendekat.

"Lo mau ngumpet sampai kapan?" Tanya Raja.

Tidak ada jawaban.

"Sehari?" Tanya Raja kembali namun Abhizar masih diam. "Seminggu? Atau sebulan?"

Abhizar akhirnya mengangkat pandangan. Tatapannya tampak lelah.

"Gue nggak tahu." Jawab Abhizar lirih.

Jawaban itu membuat Raja kehilangan kata-kata. Karena selama mereka bersahabat, baru kali ini Abhizar mengucapkan kalimat tersebut. Lelaki yang selalu punya rencana. Selalu punya keputusan, namun kini bahkan tidak tahu harus melangkah ke mana.

Raja menghela napas pelan.
"Lari itu capek, Bhi. Dan secepat apa pun lo lari..." Raja menunjuk dada sahabatnya. "...yang ada di sini bakal tetap ikut."

Abhizar menunduk. Benar. Ia bisa meninggalkan rumah. Meninggalkan rumah sakit. Meninggalkan Zahra.
Namun dia tidak bisa meninggalkan rasa bersalahnya. Dia tidak bisa selamanya kabur dari masalahnya. Cepat atau lambat, dia harus menghadapinya. Menghadapi Zahra. Menghadapi Mita, ibu kandungnya. Serta menghadapi Zaki Albirru, lelaki yang teramat sangat dirinya benci.

Di luar apartemen, langit perlahan berubah jingga. Sore mulai datang, dan malam juga pasti akan menjelang. Hari akan berganti, begitulah waktu bekerja. Terus berjalan, tidak ada yang bisa menghentikan.

💞💞💞

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang