Bab 32

948 59 8
                                        

Seminggu berlalu sejak pesta ulang tahun Uwais. Namun bagi Zahra, waktu justru terasa berhenti di malam itu. Setiap hari ia terbangun dengan dada sesak, seakan bisikan Viona masih bergema di telinganya. “Alzam. Lelaki lumpuh yang kamu rawat di belakang Abhizar, dia kekasih kamukan

Zahra duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Tangannya dingin, keringat membasahi pelipis meski pendingin ruangan menyala. Sejak hari itu, tidurnya tak pernah benar-benar nyenyak. Selalu ada mimpi buruk wajah Abhizar yang gelap, rahangnya mengeras, mata itu… mata yang sama seperti malam ketika hidupnya direnggut tanpa ampun.

Ia menelan ludah.

Abhizar belum berubah.
Masih perhatian.
Masih pulang tepat waktu.
Masih menyentuhnya dengan sikap posesif yang dibungkus kata “istriku”.

Dan justru itulah yang membuat Zahra semakin takut.

Karena Zahra tahu, cinta Abhizar bukan cinta yang penuh kasih.
Cinta lelaki itu adalah jenis kepemilikan mutlak, seperti obsesi yang mengikat dan membelengu, menyakitkan.

Pagi itu Zahra berada di dapur, tangannya gemetar saat menuang air panas ke dalam cangkir. Ponselnya bergetar di meja. Satu pesan masuk.

Alzam.

Zahra langsung mematung.

Tangannya reflek ingin mengambil, tapi ingatannya menjerit lebih dulu. Wajah Viona. Senyum licik itu. Ancaman yang tak diucapkan, tapi terasa sangat nyata.

Ia menutup mata.

Ya Allah…

Zahra akhirnya membuka pesan itu dengan jantung berdegup tak beraturan.

Alzam:
“Zahra… kamu nggak datang dua hari ini. Aku cuma mau pastiin kamu baik-baik aja.”

Air mata Zahra langsung jatuh. Ia ingin membalas. Ingin mengatakan ia baik-baik saja. Ingin meminta maaf karena menghilang tanpa penjelasan. Tapi jemarinya tak bergerak. Karena di kepalanya, satu bayangan terus berulang.

Abhizar tahu.

Dan Zahra tahu betul apa yang akan terjadi jika itu terjadi. Ia pernah melihat sisi tergelap lelaki itu. Bukan hanya kasar. Bukan hanya memaksa.

Abhizar adalah tipe lelaki yang menghancurkan apa pun yang dianggapnya ancaman. Dan Alzam..
Lelaki yang bahkan tak bisa berdiri dari kursi rodanya.

Zahra menggigit bibirnya hingga terasa perih.

“Kalau Abhizar tahu…” bisiknya gemetar, “dia nggak cuma akan marah.”

Ia membayangkan Abhizar mendatangi Alzam. Suaranya dingin. Senyumnya kosong. Cara lelaki itu menyakiti tanpa harus berteriak.

Zahra tahu, Abhizar bisa melakukan apa saja. Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.

Ponsel itu ia genggam erat, lalu diletakkan terbalik di meja. Seolah dengan begitu, dunia masa lalunya bisa berhenti memanggilnya.

Langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah.

“Sayang?”

Suara Abhizar.

Tubuh Zahra menegang seketika.

“Iya,” jawabnya cepat, terlalu cepat.

Abhizar muncul di ambang pintu dapur, menatapnya lama. Tatapan yang membuat Zahra merasa telanjang, seolah setiap kebohongan di tubuhnya bisa terbaca jelas.

“Kamu kenapa akhir-akhir ini sering melamun?” tanya Abhizar dengan kening berkerut.

Zahra memaksa tersenyum. Senyum yang terasa palsu bahkan di lidahnya sendiri.
“Nggak apa-apa mas. Cuma capek aja”

Abhizar melangkah mendekat. Tangannya terulur, menyentuh dagu Zahra, mengangkat wajahnya agar menatap lurus ke arahnya.

“Jangan bohong sama mas” ucap Abhizar pelan.

Meski terlihat penuh kelembutan. Bagi Zahra semua itu seperti sebuah tipu muslihat yang siap menghancurkannya kapan saja.

Napas Zahra tercekat. Ia menatap mata suaminya, mata lelaki yang dulu memaksanya menjadi istri. Lelaki yang kini berdiri di hadapannya dengan status halal, tapi tetap menyisakan trauma yang tak pernah sembuh.

“Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari mas kan” lanjut Abhizar, ibu jarinya mengusap dagu Zahra perlahan. Yang justru membuat jantung Zahra semakin berdetak kencang. Bukan karena debar sebuah romansa, melainkan debar ketakutan bak seekor kelinci kecil yang siap dimangsa oleh sang pemangsa.

Zahra menahan air matanya.

“Kalau sayang macam-macam di belakang mas,” Suara Abhizar menurun, nyaris seperti bisikan, “Sayang tau sendiri akibatnyakan" Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada ancaman. Namun justru itulah yang membuat Zahra gemetar.

Zahra mengangguk pelan.
“Iya.”

Abhizar tersenyum tipis, lalu melepaskan sentuhannya seolah tak terjadi apa-apa. Tapi Zahra tahu Ia sedang berdiri di tepi jurang. Dan Viona…Adalah tangan yang siap mendorongnya kapan saja.

💞💞💞
Hai hai haiii.... othor update pagi² demi kalian yang setia nungguin anak² othor🤗. Jadi jangan lupa vote sama komennya yaa😚

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang