Beberapa saat setelah Zahra dan motor maticnya keluar dari pekarangan rumah milik orang tua Alzam.
"Abah itu ngapain sih nanyak kenapa Zahra nggak pulang?" Tanya umi Lya dengan nada kesal dan kedua tangan berada dipinggang.
"Loh memangnya salah, abah nanyak kayak gitu?"
"Salah" Jawab umi Lya dengan cepat. "Seharusnya biarin aja Zahra lebih lama disini, bahkan nginap sekalian" Sambung umi Lya.
"Nggak boleh gitu lah umi. Zahra itu sudah menikah" Ucap abah Malik. "Lagian nggak seharusnya Zahra datang kesini untuk merawat Alzam. Tanpa sepengetahuan suaminya lagi. Hubungan antara Alzam dan Zahra itu sudah selesai" Sambung abah Malik.
"Hallah, dari awal itu Alzam sama Zahra yang harusnya menikah. Tapi si dokter dokter itu malah datang ngerusak rencana mereka" Tutur umi Lya. "Lagian, Zahra kelihatan masih suka kok sama Alzam. Buktinya, Zahra sendiri yang datang dan menawarkan diri untuk merawat Alzam kan" Sambung wanita dengan jilbab panjang berbaju gamis berwarna pink muda itu.
"Memang Zahra yang datang sendiri. Tapi Zahra menawarkan diri untuk merawat Alzam karena umi menjual kesedihan mengenai Alzam yang selalu mencari Zahra"
"Umi sama sekali tidak menjual kesedihan!!" Ucap umi Lya sedikit membentak. Membuat abah Malik dan Mala terkejut. "Alzam memang selalu mencari Zahrakan. Bahkan dia berteriak, mengamuk dan tidak segan menyakiti dirinya sendiri" Sambung wanita itu.
"Tapi ini tidak benar umi. Bagaimana kalau nanti suami Zahra yang memiliki kekuasaan besar itu tau. Abah sama sekali tidak bisa membayangkan seberapa marah suami Zahra nantinya" Ucap abah Malik masih mencoba menyadarkan sang istri. "Lagipula, bukannya dulu umi sendiri yang bilang kalau Zahra tidak pantas untuk Alzam. Kenapa sekarang umi malah biasa saja?" Tanya abah Malik yang bingung dengan sikap sang istri.
"Umi akan lakukan apapun, asalkan Alzam bisa kembali sembuh kayak dulu. Sekalipun harus jilat ludah umi sendiri" Jawab umi Lya dengan tegas. Tidak salah bukan jika seorang ibu mengusahakan apapun untuk kesembuhan putra semata wayangnya. Dia hanya seorang ibu yang tidak akan bisa melihat sang buah hati menderita.
"Tapi umi, gimana kalau orang tua Zahra tau. Rumah kita cuma beda beberapa rumah aja dari mereka. Belum lagi kalau sampai tetangga ngegosipin yang aneh aneh" Kembali abah Malik mengingatkan kepada sang istri.
"Umi nggak peduli, yang penting Alzam harus sembuh. Abah dengar sendirikan, dokter bilang sekarang kondisi Alzam jauh lebih baik. Peduli banget sama omongan orang, mau mereka ngomong apa itu terserah mereka" Ucap umi Lya. "Dan untuk orang tua Zahra, umi yakin nanti kalaupun mereka tau, mereka pasti bakal setuju setuju aja" Sambung wanita paruh baya itu dengan percaya diri. Malas berdebat dengan sang suami, umi Lya memilih untuk masuk kedalam rumah melaksanakan idabah sholat maghrib.
Mala yang melihat perdepatan diantara kedua orang tuanya hanya bisa diam. Sebenarnya dia setuju dengan yang dikatakan uminya. Zahra memang seharusnya menjadi istri sang abang. Mala dapat melihat dengan jelas bahwa masih ada cinta dikedua mata Alzam dan Zahra. Namun, dia juga sadar bahwa yang dikatakan abahnya memang benar. Seorang wanita yang sudah memiliki suami tidak sepantasnya merawat mantan kekasihnya. Tapi karena Mala yang sangat teringin Zahra menjadi kakak iparnya terpaksa abai dengan kebenaran yang disampaikan sang abah.
Sementara abah Malik yang kembali nasehatnya tidak pernah didengarkan meski notabenenya dia adalah kepala keluarga hanya bisa menghela nafas. Istrinya itu adalah wanita yang keras kepala dan tidak bisa dibantah. Sedangkan dirinya, entah karena terlalu cinta pada sang istri atau terlalu bodoh untuk bertindak tegas sebagai seorang suami.
---
Disisi lain, Zahra tengah menyusun makanan hasil masakannya dimeja makan. Beruntung saat dirinya pulang tadi Abhizar belum ada dirumah. Dan setelah dirinya selesai sholat maghrib, lelaki itu kembali menghubunginya dan mengatakan lelaki itu akan pulang sedikit telat lantaran ada 1 pasien yang harus dirinya operasi. Abhizar juga sempat bertanya kenapa Zahra tidak mengangkat telfonnya siang tadi, dan Zahra beralasan bahwa dirinya baru sampai rumah pukul 2 siang, dan tertidur akibat kelelahan. Sekali lagi keburuntungan berada dipihaknya, karena tanpa pikir panjang Abhizar langsung percaya pada perkataannya dan menyuruh Zahra untuk perbanyak istirahat. Namun Zahra beralasan ingin memasak makan malam untuk mereka dan berkata akan menunggu Abhizar sampai pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Romance"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
