Mesin Pajero hitam milik Abhizar meraung kasar saat melesat keluar dari halaman rumah. Ban berdecit memekakkan malam yang seharusnya sunyi. Lampu depan membelah jalan seperti dua mata buas yang tak sabar menerkam.
Sementara Zahra terbaring lemah di kursi belakang. Dresnya bernoda merah, hasil dari darah yang terus mengalir. Napasnya tipis, terlalu tipis.
"Zahra... Zahra, sayang," Suara Abhizar bergetar untuk pertama kalinya. Tangannya yang satu menggenggam setir begitu keras sampai buku-buku jarinya memutih, sementara tangan lainnya berulang kali mencoba meraih tubuh istrinya dari jok depan.
Meski berulang kali Abhizar memanggil. Tidak ada jawaban sama sekali. Pemilik nama masih setia dengan kedua mata yang tertutup, serta wajah yang semakin pucat.
Lampu merah diterobos. Klakson kendaraan lain bersahutan marah, tapi Abhizar tak peduli. Yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri. Keras, menghantam telinga. Dan bayangan darah itu...terlalu banyak.
"Bertahan" Gumamnya setengah memerintah, setengah memohon.
"Kamu dengar saya? Bertahan."
Mobil berhenti mendadak di depan pintu IGD. Bahkan belum sepenuhnya berhenti saat Abhizar meloncat turun dan membuka pintu belakang dengan kasar.
"Zahra"
Tubuh perempuan itu sama sekali tak bereaksi ketika Abhizar mengangkatnya. Terasa ringan. Sangat ringkih.
Pintu IGD terbuka dengan benturan keras.
"BRANKAR! CEPAT!" Teriak Abhizar.
Suara Abhizar menggema, membelah udara rumah sakit yang dingin. Beberapa perawat terkejut, lalu segera berlari mendorong brankar ke arahnya. Bukan hanya karena ada pasien gawat darurat, tapi juga karena yang berteriak adalah pemilik rumah sakit yaitu bos mereka.
"Tekanan darah drop, Dok!" Ucap salah satu perawat melapor.
Insting medis Abhizar langsung aktif. Matanya cepat menilai warna kulit Zahra. Bibir pucat. Keringat dingin. Napas tidak stabil. Abhizar tahu ini serius. Sangat serius. Dan justru itu yang membuat dadanya terasa seperti ditusuk.
Brankar bergerak cepat menyusuri lorong yang selama ini Abhizar lewati dengan langkah percaya diri. Malam ini langkahnya tidak stabil. Tangannya gemetar meski Abhizar berusaha menyembunyikannya di balik kemeja mahalnya yang kini terkena noda darah.
"Abhizar"
Panggilan itu membuat Abhizar menoleh.
Fadlan. Pemilik suara yang barusan memanggilnya. Dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakit itu, sekaligus sahabatnya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Fadlan sambil melihat kearah Zahra yang terbaring tidak sadarkan diri diatas brankar yang didorong oleh Abhizar dan para perawat.
"Pendarahan. Tangani segera," Jawab Abhizar tegas dan serius. Bukan sebagai sahabat tapi sebagai pemilik dari rumah sakit besar itu. Nadanya penuh perintah, bukan permohonan.
Namun Fadlan tidak langsung menurut.
"Tunggu" Ucap Fadlan sambil menghentikan laju brankar.
"Apa yang kamu lakukan?" Suara Abhizar berubah tajam. "Dia harus dibawa ke ruang operasi sekarang!" Sambung Abhizar dengan nada suara meninggi.
"Aku perlu memastikan sesuatu" Jawab Fadlan datar, mencoba untuk tidak terintimidasi oleh lelaki yang merupakan sahabat sekaligus atasannya itu.
Beberapa perawat hanya diam dan tidak ingin ikut campur dalam perdebatan kedua lelaki itu. Memang selama ini tidak ada yang berani membantah Abhizar di rumah sakit ini. Namun Fadlan adalah pengecualian. Karena lelaki itu adalah sahabat karib dari sang penguasa rumah sakit besar itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Romance"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
