Bab 35

1K 56 16
                                        

Kafe itu tidak terlalu ramai. Sudut ruangan adalah tempat yang dipilih Viona karena tersembunyi, jauh dari lalu-lalang, cukup privat untuk percakapan yang tak boleh didengar siapa pun.

Zahra datang dengan wajah yang pucat. Semalaman dirinya tidak bisa tidur karena memikirkan pertemuannya dengan Viona. Belum lagi rasa mual yang tiba tiba saja dialaminya pagi tadi. Sepertinya dirinya masuk angin karena kemarin malam dia sama sekali tidak memasukkan makanan kedalam perutnya. Perasaan dilema merasuki pikiran Zahra, apakah harus menceritakan semua kepada Viona atau tidak. Viona adalah teman sekaligus wanita yang menggilai Abhizar, bukan tidak mungkin untuk wanita itu membeberkan semua kepada Abhizar.

Tangan Zahra dingin meski cangkir teh di depannya masih mengepul. Sejak duduk, ia tak berani mengangkat kepala terlalu lama.

Sementara Viona bersandar santai di kursinya, kaki disilangkan anggun. Ponselnya diletakkan di atas meja dengan layar menghadap Zahra. Menampilkan gambar gambar Zahra bersama Alzam. Satu sentuhan saja, semuanya bisa berakhir.

"Oke..Saya tidak suka buang waktu" Ucap Viona dingin membuat Zahra yang mendengar menelan ludah.

Viona membuka tasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di antara mereka. Kening Zahra mengernyit saat melihat amplop cokelat tersebut. Penasaran dengan apa yang ada didalamnya.

"Seratus juta" ucap Viona datar. "Ambil. Dan pergi dari hidup Abhizar."

Mata Zahra membesar. Berpikir apa maksud wanita yang ada didepannya ini.

"Apa.." Suara Zahra nyaris tak terdengar.

“Jangan pura-pura kaget,” lanjut Viona dingin. “Saya tahu..inikan alasan kamu menikahi Abhizar. Meski saya tidak tahu cara licik apa yang kamu pakai. Tapi saya tidak butuh penjelasan apa-apa dari kamu. Saya cuma mau kamu menghilang. Cerai. Pergi. Ke mana pun. Asal bukan di sisi Abhizar.” Sambung Viona dengan tegas.

Zahra menatap amplop itu lama. Lalu perlahan, ia mendorongnya kembali ke arah Viona.

"Saya nggak butuh uang kamu mbak" Ucap Zahra.

"Tidak perlu sok suci" Dengus Viona sambil tersenyum miring meremehkan. "Semua orang butuh uang" Sambung Viona.

Hening sejenak.

"Oh saya tahu...kamu merasa kurangkan. Ayo katakan.. saya akan berikan berapapun yang kamu mau. Asal...enyah dari kehidupan Abhizar" Sambung Viona dengan tatapan yang tidak ingin dibantah.

"Mbak salah paham sama saya. Saya sama sekali tidak menginginkan uang itu" Balas Zahra dengan perasaan terhina. Dirinya memang miskin tapi tidak serendah itu untuk melakukan segala cara demi mendapatkan uang.

"Masih tidak mau ya. Sebegitu tergiurnya kamu dengan harta Abhizar" Ucap Viona semakin merendahkan Zahra.

"Cukup mbak. Saya punya harga diri. Mbak pikir saya mau hidup seperti sekarang. Kalau saya bisa pergi dengan aman, saya sudah pergi dari dulu" Bantah Zahra.

"Alasan" Potong Viona tajam. "Wanita seperti kamu itu tipikal main polos, tapi licik. Pasti kamu dulu menjebak Abhizarkan supaya Abhizar nikahin kamu. Berharap dengan menikahi Abhizar kamu bisa mengusai semua hartanya. Jangan mimpi kamu Zahra" Tuduh Viona semakin kejam.

Zahra terdiam. Dadanya sesak. Tangannya mengepal di atas meja. Menundukkan wajah untuk menekan rasa sesak yang dirinya rasakan kemudian Zahra mengangkat wajahnya kembali. Matanya basah, tapi sorot matanya penuh kelelahan. Zahra menarik napas dalam-dalam. Ini bukan hal yang mudah. Bahkan mengucapkannya saja membuat tubuhnya gemetar.

"Saya nggak pernah menjebak Abhizar" Ucap Zahra lirih. "Saya… dipaksa menikah dengannya." Sambung Zahra.

Wajah Viona mengeras dengan kening yang mengerut. "Apa maksud kamu?" Tanya Viona.

Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang