"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
Viona berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah anggun. Tatapan setiap orang tidak lepas tertuju kearahnya. Viona menjelma menjadi sebuah keindahan yang tak pernah luput dari perhatian.
Tubuhnya terbingkai dalam siluet yang mempesona, proporsional, anggun, terawat dan nyaris sempurna. Bahunya tegak tanpa kesan kaku, pinggangnya membentuk lengkung halus yang mempertegas siluet feminim. Sementara setiap langkah yang dia ayunkan memancarkan keyakinan diri. Namun sayang, fisik yang begitu indah itu, seakan tidak terlihat oleh sosok lelaki bertubuh besar pemilik rumah sakit itu.
Tanpa perlu meminta izin pada wanita yang berprofesi sebagai sekertaris dari Abhizar. Viona langsung memasuki ruangan yang berada dilantai paling atas rumah sakit tersebut. Sementara Nilam, sekertaris Abhizar sama sekali tidak menghentikan sikap Viona, karena sudah terbiasa dengan perangai wanita itu. Lagipula Abhizar, atasannya, sudah menginfokan mengenai kedatangan wanita itu hari ini.
**
Abhizar tengah fokus dengan komputer serta beberapa dokumen dimeja kerjanya saat Viona memasuki ruangannya. Abhizar hanya melirik sekilas dan kembali melanjutkan menatap layar komputernya.
"Hai Bhi" Sapa Viona dengan nada lembut dan manja, meski sama sekali tidak mendapat respon.
Meletakkan tasnya di sofa lalu berjalan mendekati Abhizar. Melingkarkan kedua tangannya di leher Abhizar. Tidak lupa kecupan hangat Viona berikan dipipi kiri Abhizar.
Namun respon dari Abhizar membuat Viona terkejut. Dengan kasar Abhizar melepaskan kedua tangan Viona dan berdiri. Abhizar mencengkram tangan Viona dengan kuat, membuat wanita itu merintih kesakitan.
"Akh..Abhizar, sakit" Ucap Viona.
Tatapan Abhizar menyorot tajam pada wajah Viona.
"Katakan yang ingin kamu katakan." Ucap Abhizar dengan nada datar masih dengan sorot yang sama.
"Apa begini cara kamu menyambut tamu?" Tanya Viona sambil melirik tangannya yang masih dalam cengkraman Abhizar. "Paling tidak biarkan aku duduk. Dan kalau kamu baik hati, mungkin kopi bisa menjadi teman mengobrol kita" Sambung Viona dengan santai.
Meski tahu telah menyulut emosi Abhizar, tapi Viona tidak gentar. Mungkin karena sudah terlalu kebal menghadapi sikap Abhizar. Walau rasa takut tetap ada. Bagaimana tidak, tubuh lelaki itu tinggi dan besar, jangan lupakan rambutnya yang sedikit memanjang. Siapapun pasti akan terintimidasi dengan sosok itu.
Abhizar lantas melepaskan cengkramannya dan berjalan menuju sofa berbentuk leter L yang ada diruangan itu.
Sementara Viona memegang lengannya, merasakan sakit yang masih tertinggal akibat cengkraman Abhizar. Lengannya terlihat memerah, dadanya kembali sesak. Menarik nafas, dan kembali menyemangati dirinya, sebentar lagi, sebentar lagi Abhizar akan ada dalam dekapannya, batin Viona.
**
Ruang kerja itu sunyi. Hanya detik jam dinding yang terdengar pelan, menambah berat suasana. Abhizar duduk dengan kedua lengan bertumpu pada paha dan tangan yang memegang ponsel Viona. Buku tangannya mengepal, wajahnya dingin, namun matanya tajam mengawasi layar ponsel dengan logo apel tergigit itu.
"Lihat sendiri," suara Viona pelan, penuh racun halus. "Itu bukan cerita yang kubuat-buat." Sambung Viona dengan senyum kecil diujung bibirnya.
Bukan hanya gambar, namun juga beberapa rekaman video. Dengan tangan gemetar, Abhizar memutar video tersebut. Suara tawa lirih terdengar, tawa Zahra, istrinya. Di layar, dengan jelas terlihat Zahra sedang menyuapi Alzam yang duduk di kursi roda. Senyum mereka… terlalu tulus, terlalu intim. Senyum yang seharusnya hanya miliknya.
Hening. Dunia lelaki itu seakan runtuh. Suara wanita itu terngiang berulang kali di kepalanya. Dada Abhizar bergemuruh. Rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk menahan amarah. Sorot matanya menyorot begitu tajam pada wajah Zahra yang tersenyum. Perlahan, api menyala di dadanya, membakar habis kepercayaannya. Alzam, lelaki itu bahkan berani menyentuh pipi Zahra. Sepertinya membuat lelaki itu berada dikursi roda masih belum cukup menyadarkannya seberapa bahayanya Abhizar.
Viona menggenggam jemari Abhizar dengan lembut.
"Dia tidak pernah benar-benar mencintai kamu Abhizar. Semua yang dia lakukan hanya untuk mempermainkan kamu." Ucap Viona yang semakin memprovokasi.
Nafas Abhizar memburu, wajahnya memerah. Matanya masih menatap nyalang pada ponsel yang bak menampilkan sebuah adegan drama romansa yang salah satu tokohnya adalah istrinya sendiri. Kali ini layar menampilkan adegan dimana zahra memeluk Alzam yang duduk dikursi roda.
Brak
Aaaaaa
Suara ponsel yang beradu dengan lantai, serta suara teriakan Viona yang terkejut melihat reaksi Abhizar. Viona sama sekali tidak menyayangkan ponselnya yang kini hancur berantakan dilantai, dirinya bisa dengan mudah membeli yang baru lagi. Viona justru suka dengan respon Abhizar. Amarah lelaki itu begitu kentara, sangat menakutkan. Viona yakin Zahra pasti akan hancur berhadapan dengan Abhizar dengan mode semengerikan ini.
"Zahra…" desis Abhizar rendah, hampir tak terdengar, tapi penuh bara. "Berani kamu… main-main di belakang saya."
Viona menatapnya, pura-pura prihatin padahal matanya berkilat puas. "Aku cuma nggak tega melihat kamu dibohongi, Abhizar. Zahra nggak pantas untuk kamu."
Brakk
Abhizar menghantam meja dengan tinjunya, membuat meja kaca itu pecah. Nafasnya terengah, tatapannya liar. Darah mengalir dari buku jemarinya.
Viona yang khawatir mencoba memegang tangan Abhizar, namun langsung ditepis. Lelaki itu berjalan meninggalkan Viona diruangannya. Tidak peduli dengan darah yang menetes, serta tatapan penasaran dari orang orang yang dirinya lewati.
Tujuannya hanya satu. Zahra.
Sementara Viona, tersenyum puas dengan hasil rencananya.
"Selamat menikmati perjumpaan dengan malaikat kematianmu Zahra" Ucap Viona dengan senyum manis tersungging dibibirnya.
💞💞💞
Segini dulu🤭
Vote komen Vote komen Vote komen
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.