Zahra menatap dirinya dari pantulan cermin. Saat ini dia sedang berada dikamar mandi, setelah beberapa jam yang lalu Abhizar kembali menjamah tubuhnya.
Belum hilang bekas merah keunguan yang ditinggalkan lelaki itu kemarin malam. Beberapa jam yang lalu lelaki itu kembali membuat karyanya pada tubuh Zahra. Namun kali ini, kegiatan itu terjadi karena Zahra secara sadar menyerahkan dirinya pada Abhizar.
Flashback
Abhizar mengangkat tubuh Zahra dan menurunkannya secara perlahan diatas ranjang. Menempatkan dirinya diatas tubuh sang wanita dengan mata saling menatap. Kali ini bukan hanya jantung Zahra yang berdetak begitu keras dan cepat, namun itu juga terjadi pada milik Abhizar. Jantungnya berdetak begitu cepat ketika melihat respon Zahra yang kali ini dengan sukarela menyerahkan dirinya pada Abhizar. Tanpa ada penolakan, tanpa perlawanan.
Sementara Zahra, jantungnya berdetak begitu kencang karena harus bertarung melawan rasa trauma dan rasa ingin balas dendam yang teramat besar. Setiap sentuhan yang ditinggalkan Abhizar pada tubuhnya menimbulkan gelenyar menjijikkan hingga membuatnya ingin muntah. Namun saat dirinya mengingat kembali akan rencana yang sudah Zahra susun, seakan memberi kekuatan untuk menahan semua rasa itu. Berpura pura seakan menikmati setiap sentuhan dari lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu.
Melihat Zahra menikmati rangsangan yang dia berikan. Dari bibir, Abhizar berpindah menyusuri rahang sang istri hingga keceruk leher. Menghisap dan meninggalkan bekas merah keunguan disana. Kedua tangannya tentu saja tidak tinggal diam, Abhizar memainkan kedua payudara Zahra seperti sebuah adonan. Tidak puas hanya menyentuh dari luar, lantas membuat Abhizar menegakkan tubuhnya dan membuka seluruh kain yang menempel pada tubuh Zahra. Membuatnya kembali terperangah dengan pemandangan yang kali ini sama sekali tidak berusaha ditutupi oleh pemiliknya.
Meski malu tubuh polosnya ditatap oleh Abhizar, namun Zahra berusaha untuk abai. Dia justru dengan berani menuntun tangan Abhizar untuk kembali menyentuh payudaranya. Jika ada yang mengatakan dirinya gila, Zahra tidak keberatan. Karena sejak menyusun rencananya, Zahra sudah menutup rapat kewarasannya terlebih dahulu.
Sebuah tangan menyentuh dan masuk secara perlahan kedalam daerah paling sensitifnya, menimbulkan sengatan yang terasa menggelikan. Namun anehnya, meski logikanya menolak, nyatanya tubuh Zahra tidak bisa berbohong. Sesuatu keluar dari miliknya, dan Zahra tidak bodoh untuk mengetahui bahwa saat ini tubuhnya telah
siap menerima Abhizar.
Sementara Abhizar secara tergesa membuka seluruh pakaiannya, membuat dirinya sama polosnya dengan Zahra.
"Saya sudah tidak tahan. Boleh,, saya masukan sekarang?" Tanya Abhizar saat hendak melakukan penyatuan. Berbeda dari sebelumnya, kali ini Abhizar merasa perlu minta izin pada Zahra. Bukankah mereka sudah setuju untuk memulai dari awal? Jadi Abhizar rasa hal ini perlu dilakukan agar Zahra merasa dihargai. Meski seandainya Zahra menolak, Abhizar pasti akan memaksa untuk masuk. Karena untuk yang satu ini, Abhizar benar benar tidak suka ditolak.
Merasa sudah tidak mampu lagi berbicara, Zahra hanya memberikan anggukan sebagai jawabannya pada Abhizar. Saat milik Abhizar sedikit menyentuh miliknya, Zahra merasa seperti tersengat. Rasa sakit bercampur nikmat seketika mendatanginya. Semakin dalam Abhizar memasukinya, maka rasa sakit yang tadinya Zahra rasakan berganti dengan nikmat yang begitu besar.
Suara kulit yang saling bertemu, suara desahan yang saling bersahut, menambah keintiman didalam kamar itu. Keringat mereka menyatu, tubuh mereka saling merengkuh. Abhizar menggila, tidak pernah dia merasakan kenikmatan seperti ini pada malam malam mereka sebelumnya. Kali ini dia diterima, dia direngkuh.
Sementara Zahra, entah mengapa kali ini dia percaya bahwa surga dunia yang orang orang katakan itu memang benar adanya. Padahal jelas ini bukan kali pertama untuk mereka, tapi baru kali ini Zahra bisa merasakan kenikmatan itu. Zahra tidak bisa memungkiri, bahwa seluruh tubuhnya mendambakan sentuhan Abhizar. Hanya sementara. Zahra benar benar mencamkan itu pada dirinya. Hanya sampai rencananya berhasil. Setelah itu, mungkin Zahra akan menguliti dirinya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Romance"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
