Bab 39

1.1K 68 10
                                        

Suasana malam begitu tenang, hanya suara jangkrik yang terdengar di kejauhan.

Zahra sedang duduk di tepi ranjang, wajahnya lelah. Dirinya baru saja memuntahkan cairan dari dalam perutnya. Entah mengapa akhir akhir ini mual menjadi rutinitasnya. Awalnya, Zahra berpikir mungkin dirinya masuk angin. Namun bertanya tanya, apa mual karena masuk angin bisa sampai berminggu minggu, bahkan hampir sebulan. Dan ada kalanya penciumannya sedikit terganggu pada beberapa aroma makanan. Membuatnya tidak berselera makan.

Tiba tiba saja Zahra teringat sesuatu. Periode bulanannya. Zahra lantas mengambil ponsel dan membuka aplikasi kalender yang selalu dirinya tandai setiap bulan. Betapa terkejutnya Zahra saat menyadari kalau dirinya sudah terlambat datang bulan. Menyentuh perutnya, sesuatu melintas dibenaknya. Zahra mulai panik.

BRAAKK

Disela sela kepanikannya, suara pintu terhempas dengan keras mengejutkan Zahra.

Abhizar berdiri di ambang pintu kamar, wajahnya gelap, matanya menyala penuh murka. Urat dilehernya terlihat, dengan tangan mengepal. Zahra dapat melihat ada emosi yang sedang ditahan lelaki itu dan seperti siap untuk dilepaskan. Namun pada siapa? Dirinyakah? Kenapa?. Pertanyaan itu memenuhi isi kepala Zahra.

Abhizar berjalan masuk perlahan, setiap langkahnya berat dan mengancam. Tangannya masih berlumur darah dari benturan sebelumnya. Sementara Zahra, terdiam kaku pada posisinya. Jantungnya berdebar, ketakutan menghampiri. Zahra sama sekali tidak tahu apa yang membuat Abhizar menjadi semengerikan ini. Walau pada dasarnya memang begitulah lelaki itu. Namun bukankah akhir akhir ini Abhizar berubah. Lebih lembut. Lebih mudah dikendalikan. Atau mungkin dibodohi.

Saat Zahra sedang berpacu dengan pemikirannya. Tubuh besar Abhizar telah berada tepat didepannya. Menjulang. Mengintimidasi. Dan secara tiba tiba tangan Abhizar meraih dagu Zahra dengan kasar, mengangkat wajahnya hingga menatap matanya langsung serta memberikan tekanan tepat dilehernya. Zahra terkejut, panik dan ketakutan, berusaha melepaskan tangan Abhizar yang mencengkram dagunya. Namun semakin Zahra berusaha melepas, semakin kuat tekanan yang Abhizar berikan. Rasanya begitu menyakitkan, lelaki besar itu seakan ingin menghancurkan rahangnya. Belum lagi tekanan dilehernya yang berhasil menghambat jalan nafasnya.

"Ma..as" Ucap Zahra dengan susah payah. Dirinya hampir kehabisan nafas. Abhizar seakan ingin membunuhnya.

"Alzam. Kamu menemuinya." Ucap Abhizar dengan penuh penekanan. Matanya menatap tajam kearah Zahra. Giginya mengatup.

Begitu mendengar kalimat Abhizar, jantung Zahra seperti genderang yang berdetak terlalu kencang dan menyakitkan. Nyawanya seakan hendak meninggalkan tubuhnya saat mendapat kenyataan sesuatu yang telah dirinya sembunyikan dengan rapat, kini berhasil diketahui oleh Abhizar. Bagaimana lelaki itu bisa tahu, pikir Zahra.

Zahra sama sekali tidak diberi waktu untuk menemukan jawaban itu. Pasokan udara yang semakin menipis, membuat pikiran Zahra buntu.

Saat sadar wanita mungil kecintaannya itu hampir kehilangan kesadaran. Abhizar melepaskan cengkramannya dengan kasar. Membuat Zahra lemas dan terjatuh, beruntung tempat mendaratnya adalah ranjang empuk dikamar mereka. Dengan rakus Zahra kembali mengalirkan oksigen keparu parunya meski sambil terbatuk batuk.

PRAANGG
Bruukk
BUK
BUK

Belum pulih dari rasa kritisnya. Zahra kembali dikejutkan oleh suara pecahan kaca. Bagai kerasukan Abhizar  memecahkan kaca pada meja hias. Menendang lemari. Dan menjadikan dinding sebagai samsak tinjunya.

Pemandangan didepannya begitu mengerikan. Meski dalam benaknya Zahra selalu menganggap Abhizar sebagai monster. Tapi lelaki itu tidak pernah berprilaku bringas seperti saat ini. Zahra merinding. Keringatnya mengucur. Air matanya menetes. Ketakutannya membuat suaranya menghilang.

Abhizar berbalik, matanya memerah. Urat urat ditubuhnya menonjol. Dia abaikan darah yang menetes dari buku buku jarinya.

"Katakan. Kamu anggap apa saya selama ini?" Tanya Abhizar pada Zahra  yang sedanh duduk di atas ranjang sambil memeluk dirinya dengan tubuh bergetar ketakutan.

"KATAKAN"
PRANG

Suara teriakan Abhizar beradu dengan suara vas kaca yang menghantam dinding yang dilempar oleh lelaki itu.

Zahra semakin kencang memeluk dirinya sendiri. Berharap pelukannya dapat melindunginya. Meski kenyataannya tentu saja tidak. Kemarahan dan fisik Abhizar nyata ada didepan matanya.

Dengan langkah cepat Abhizar menghampiri Zahra. Meraup rambut wanita itu dan menariknya.

"Saaakkiiitt hiks hiks" Ucap Zahra sambil terisak.

"Sakit? Kamu bilang sakit?" Ucap Abhizar dengan datar. "LANTAS KAMU PIKIR SAYA TIDAK SAKIT HAH. KAMU PIKIR SAYA TIDAK SAKIT SAAT TAHU KAMU BERMAIN GILA DIBELAKANG SAYA" Sambung Abhizar dengan teriakan tepat ditelinga Zahra. Lalu menghempaskan tubuh ringkih itu kelantai.

Bruk

Lututnya tepat mendarat dilantai keramik yang keras. Ngilu langsung terasa sampai kekepalanya. Belum lagi gendang telinganya yang seperti akan pecah akibat teriakan lelaki itu.

"Saya berikan kepercayaan saya ke kamu. Saya percaya saat kamu bilang ingin memulai semua dari awal" Ucap Abhizar sambil berdiri menjulang diatas Zahra. "TAPI KENYATAANNYA KAMU JUSTRU MEMBOHONGI SAYA ZAHRA" Bentak Abhizar.

Dengan susah payah Zahra mencoba berdiri. Menahan rasa sakit dilututnya. Setelah berhasil zahra lantas mendongak menatap Abhizar.

"Iya..saya memang membohongi kamu. Alzam. Saya memang menemui dia. Saya memang..menemui lelaki yang saya cintai dibelakang kamu. Memulai semua dari awal dengan kamu..tidak akan pernah menjadi pilihan saya" Ucap Zahra berusaha berani, meski dengan keringat dingin yang mengalir dipelipisnya serta tubuh yang bergetar. Tangannya mengepal disisi sisi tubuhnya. Mencoba menutupi ketakutannya.

Mendengar ucapan Zahra semakin menampik api kemarahan dalam diri Abhizar. Nafasnya memburu. Tatapannya semakin menajam.

"Jadi..semua senyummu..semua kata kata cinta kamu pada saya...hanya sandiwara?" Tanya Abhizar. Ada sorot kepedihan terlintas dimata lelaki itu, namun Zahra tidak perduli. Dengan tegas wanita itu menjawab "YA".

💞💞💞

Segini dulu🤭
Sayang sayang othor, yg punya toktok othor minta tolong klik kan link dibawah ini ya.. untuk promo belanja, maklum irt🤭🤭. Kalau nggak bisa diklik yg bawah, othor udah sematkan dikomen juga ya. Begitu berhasil othor langsung up lanjutannya plisssss⬇️⬇️

https://vt.tiktok.com/ZSHouynXDB9nn-FiowM/



Aku yang kau paksa hancurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang