Mobil Pajero hitam itu akhirnya memasuki pelataran rumah sakit. Mesin dimatikan, namun Abhizar masih duduk diam di balik kemudi. Kedua tangannya menggenggam setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pandangannya lurus menembus kaca depan, tetapi pikirannya sama sekali tidak berada di sana.
Sudah tiga hari. Tiga hari ia memilih menghilang. Bukan karena tidak peduli pada Zahra. Justru karena terlalu banyak yang harus ia hadapi sekaligus.
Kehamilan Zahra. Perbuatannya sendiri. Dan kenyataan mengenai ibu kandungnya. Abhizar mengembuskan napas panjang.
"Hadapi." Suara itu keluar lirih dari bibirnya sendiri. "Mau sampai kapan lari?" Sambungnya.
Perlahan Abhizar membuka pintu mobil dan melangkah memasuki rumah sakit miliknya. Seperti biasa, para dokter, perawat, dan karyawan yang berpapasan langsung menundukkan kepala.
"Selamat siang, Dok."
"Selamat siang, Pak Direktur."
Abhizar hanya mengangguk singkat membalas setiap sapaan dari perawat atau dokter yang lewat. Wajahnya tetap dingin. Tidak ada yang tahu bahwa CEO rumah sakit yang terlihat begitu tenang itu sebenarnya sedang hancur berantakan dari dalam.
**
Di ruang rawat VIP.
Zahra baru saja selesai merapikan beberapa pakaian ke dalam tas kecilnya. Dokter sudah mengizinkannya pulang pagi tadi. Dan saat ini ditinya hanya tinggal menunggu administrasi selesai.
Wanita itu menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Entah kenapa...
Hari ini terasa begitu sunyi. Sudah tiga hari Abhizar tidak datang. Biasanya lelaki itu selalu muncul, meski hanya untuk berdiri beberapa menit tanpa banyak bicara.
Kehadirannya memang selalu membuat Zahra sesak. Namun...
Ketidakhadirannya justru terasa aneh.
"Kenapa aku mikirin dia?" Tanya Zahra pada dirinya sendiri. Zahra lantas menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir semua bayangan Abhizar dibenaknya.
"Terserah dia mau datang atau nggak. Bukan urusanku. Dia tidak datang justru bagus untuk kesehatanku" Sambung Zahra bermonolog.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu diketuk pelan.
"Masuk." Ucap Zahra sambil menoleh kearah pintu. Zahra mengira itu pasti perawat yang akan memberikan surat administrasinya.
Gagang pintu bergerak perlahan. Dan sosok tinggi besar itu akhirnya muncul.
Abhizar.
Zahra sedikit tertegun. Bukan karena senang. Melainkan karena tidak menyangka lelaki itu akhirnya datang juga. Tatapan mereka bertemu sesaat. Namun Zahra segera mengalihkan pandangan. Seolah Abhizar hanyalah orang asing yang kebetulan berada di ruangan yang sama.
Sementara Abhizar berdiri beberapa detik di dekat pintu. Menatap wajah istrinya. Wanita itu tampak jauh lebih sehat dibanding beberapa hari lalu. Pipinya mulai berwarna meski tubuhnya masih terlihat kurus.
"Fadlan bilang kamu sudah boleh pulang." Suara Abhizar terdengar rendah. Tidak sedingin biasanya.
Zahra hanya mengangguk. Keheningan sejenak menyelimuti mereka sampai akhirnya Abhizar melangkah mendekati Zahra yang secara otomatis membuat wanita itu tanpa sadar justru melangkah mundur dengan raut wajah kaku. Abhizar yang melihat reaksi Zahra sedikit terkejut, namun akhirnya sadar dan berpikir bahwa normal jika wanita itu takut padanya setelah apa yang dirinya lakukan pada Zahra.
"Saya cuma mau membawakan tas kamu" Ucap Abhizar agar Zahra tidak salah paham.
"Nggak usah. Saya bisa bawa sendiri." Ucap Zahra yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Abhizar. Lelaki besar itu tetap mengambil tas berisi pakaian Zahra begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Romance"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
