Pintu ruang rawat tertutup pelan setelah Abhizar keluar. Ia memilih pergi. Bukan untuk menyerah pada perdebatan itu, tapi karena Abhizar tahu jika dirinya tetap berada di sana lebih lama, sesuatu yang lebih buruk mungkin akan terjadi. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Abhizar takut pada emosinya sendiri.
Langkah kakinya panjang menyusuri koridor rumah sakit. Para perawat dan dokter yang berpapasan langsung menunduk hormat, namun lelaki itu bahkan tidak melihat mereka. Wajahnya dingin. Pikirannya penuh.
Tentang Zahra
Tentang calon anak mereka
Tentang kalimat-kalimat tajam Zahra yang terus terngiang di kepala Abhizar.
"Bayi ini akan mati. Itu yang saya mau"
"Ini anakmu. Bukan anak yang saya inginkan"
Tangannya mencengkeram kunci mobil lebih erat. Beberapa menit kemudian Pajero hitam milik Abhizar melaju membelah jalanan siang yang sedikit lenggang. Pendingin mobil menyala dingin, namun kepala Abhizar terasa panas. Abhizar menyetir tanpa tujuan pasti. Lampu merah. Gedung-gedung tinggi. Suara samar klakson. Semuanya terasa jauh.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Abhizar kembali dihantui sesuatu yang pernah dirinya alami...kemungkinan untuk kehilangan. Dulu ia kehilangan bundanya. Dan sekarang…apakah ia juga akan kehilangan Zahra dan anak mereka?
Rahangnya mengeras. Cengkraman pada stir mobil mengencang. Abhizar tidak suka merasa lemah seperti ini.
Setelah hampir tiga puluh menit berkendara tanpa arah, tangan Abhizar refleks membelokkan stir ke jalan yang begitu familiar. Jalan menuju pemakaman umum. Rumah abadi perempuan yang paling ia rindukan. Bundanya.
Mobil berhenti perlahan. Abhizar turun sambil menghembuskan napas berat. Angin siang berhembus pelan membawa aroma tanah dan dedaunan kering. Langkahnya menyusuri deretan nisan. Dan anehnya…Abhizar merasa dadanya sedikit lebih ringan setiap kali datang ke tempat ini.
Tiba tiba Abhizar memperlambat langkahnya. Dari kejauhan, tepat di depan pusara bundanya, terlihat sosok seorang wanita yang tengah berjongkok. Meski hanya melihat bagian belakang, namun anehnya Abhizar tetap mampu mengenali wanita itu. Mita, ibu tirinya. Dahi Abhizar langsung berkerut dengan tangan mengepal. Apa yang wanita itu lakukan di makam bundanya?
Abhizar berdiri diam beberapa langkah di belakang, memperhatikan tanpa suara. Mita tampak membersihkan daun-daun kering di sekitar nisan dengan tangan pelan dan hati-hati. Sebuah bucket bunga putih diletakkan disampingnya.
Tatapan Abhizar menggelap. Sinis. Apa wanita itu datang untuk mengejek nasib malang bundanya? Atau untuk memamerkan kemenangannya? Karena pada akhirnya dialah yang hidup mendampingi papanya sementara bundanya berakhir sendiri di bawah tanah ini?
Meski selama ini ibu tirinya selalu bersikap baik padanya…bahkan terlalu baik, Abhizar tetap tidak bisa sepenuhnya menghilangkan kebencian dalam dirinya.
Karena bagi Abhizar kecil dulu..kehadiran Mita adalah bukti bahwa posisi ibunya telah digantikan. Wanita itu mengkhianati bundanya.
"Maaf ya… aku baru datang lagi." Suara Mita terdengar lirih. Hampir seperti bisikan yang dibawa angin sore. Wanita itu mengusap pelan batu nisan dihadapannya. Jemarinya bergetar samar.
"Abhizar lagi banyak masalah sekarang," lanjutnya pelan. "Dan aku… aku bahkan nggak bisa nenangin dia seperti dulu." Sambung Mita sendu.
Abhizar yang berdiri dibelakangnya mengernyit. Seperti dulu? Maksudnya seperti saat wanita itu menenangkannya ketika selesai mendapat hukuman dari sang papa?, pikir Abhizar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku yang kau paksa hancur
Romansa"Katanya cinta tak harus memiliki. Omong kosong. Bagi saya mencintai berarti harus memiliki. Sejak pertama saya melihat kamu, sejak saat itu kamu milik saya. Akan saya lakukan segala cara, sekalipun itu membuatmu membenci saya". Abhizar Albirru
