HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesampainya di restoran, Bryan dan Bian keluar dari mobil. Tanpa terlalu memikirkan barang-barangnya, Bian membiarkannya tertinggal di dalam. Mereka memasuki restoran dan segera mencari tempat duduk yang nyaman, memilih duduk bersampingan di sudut yang tenang.
Tak lama kemudian, seorang pelayan mendekat dengan buku menu di tangannya. “Selamat pagi, mau pesan apa?” tanyanya sambil tersenyum.
Bryan dan Bian saling bertukar pandang, lalu mulai membolak-balik buku menu.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Bryan sambil melirik Bian.
“Hm, aku pesan es lemon tea, tapi es batunya yang banyak, ya,” jawab Bian sambil tersenyum dan menatap pelayan agar mencatat pesanan.
“Cuma itu aja? Nggak pesan makanan?”
“Iya, itu aja, Om.”
Bryan terkekeh. “Pilih aja, nanti saya yang bayar.”
“Ehm... kalau gitu, spaghetti satu, deh.”
“Buat saya, es lemon tea juga, sama spaghetti dua, ya. Samaan aja,” ujar Bryan dengan senyum ramah ke arah pelayan.
“Baik, ditunggu sebentar, ya,” balas si pelayan, meninggalkan mereka dengan senyuman.
Bian tersenyum kecil. “Makasih ya, Om.”
“Iya, sama-sama. Oh, iya, nama kamu siapa?”
“Nama saya Bian, Om.”
Deg.
Bryan terhenyak. Nama itu, “Bian.” Ada getar halus di hatinya. Bayangan masa lalu menyeruak—ia teringat Alesha, dan janji kecil mereka untuk memberi nama "Bian" jika kelak anak mereka lahir sebagai laki-laki. Tapi semua rencana itu musnah di tengah jarak dan perpisahan.
Bryan menarik napas panjang. Sejak Alesha menghilang, ia telah melakukan segala cara untuk menemukannya, menyuruh bodyguard untuk melacak, mencari... tapi hingga kini tak ada kabar. Pada akhirnya, ia memilih untuk melupakan segalanya, memaksa dirinya melanjutkan hidup tanpa jejak masa lalu.
Namun, kehadiran Bian di depannya seolah membawa kembali kenangan yang dulu ia coba kubur dalam-dalam.
***
Di rumah, Alesha dan Raka gelisah menunggu Bian yang belum juga pulang. Alesha tampak cemas, perasaan tidak enak menyelinap di hatinya. Ia duduk menemani Raka yang sibuk menonton TV, tetapi pandangannya sering beralih ke jam dinding.
“Bun, Bian kok belum pulang-pulang, ya? Padahal udah Dari tadi. Memangnya Bunda nyuruh beli apa aja sih? Banyak banget, ya?” tanya Raka sambil tiduran di sofa, pandangannya tetap tertuju ke layar TV.
“Enggak, cuma sedikit, kok. Coba kamu telepon.”
Raka menghela napas. “Udah dari tadi aku coba, tapi nggak diangkat.”
Alesha mulai menggigit bibir, tatapannya khawatir. “Kemana ya? Apa Bian mampir ke rumah temannya? Aduh.. Raka, coba kamu cek ke supermarket sekarang, gih!”
Raka mengangkat alis, terlihat sedikit malas. “Sekarang?”
Alesha memutar matanya dan menjawab dengan nada sedikit kesal, “Nggak, tapi tahun depan!”
Raka tertawa kecil, meski terlihat menggerutu. “Yaah, Bunda ih... Oke, aku berangkat sekarang.” Ia pun beranjak dari sofa, mengambil kunci motor, dan bersiap untuk mencari Bian di luar.
***
18/1/2023
Hai trima kasih bnyak yg udh baca cerita aku, ngak bisa berkata kata pokoknya trima kasih banyak, gomawo.
Crita wattpad favorit kalian apa nii?
Tungguin up selanjutnya yaaa... Jangan bosen-bosen nunggu Author up, hehe..
Jangan lupa vote, follow dan komen dan jangan lupa tinggalkan jejak..
Byeee.
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
