45: Segalanya terlalu mendadak

221 14 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

(KALO ADA TYPO, KOMEN YA!)

"Tanyakan ke Bunda kamu, Raka."

Suara Bryan terdengar pelan, tapi setiap katanya seperti palu godam.
Tatapannya tak bergeser sedikit pun dari Alesha-menembus diam yang mencekam, menyayat tanpa suara

"Tanyakan... kenapa selama ini kamu nggak pernah tahu siapa aku sebenarnya."

Dahi Raka mengernyit. Napasnya tercekat, pikirannya berputar tak tentu arah, kacau.

"Tanyakan kenapa kamu tumbuh besar dengan percaya... kalau ayah kandungmu sudah mati dalam kecelakaan."

Bryan menarik napas panjang, senyum getir menyungging di sudut bibirnya, lebih mirip luka daripada ekspresi manusia.

"Cukup!" Suara Alesha menekan. Tegas, namun bergetar di ujungnya.

"Jangan diteruskan... aku mohon kepadamu... pergilah. Pergi sebelum aku benar-benar panggil security!" Suaranya lirih. Mata Alesha kini penuh air, menggantung di ujung kelopak, namun belum jatuh.

Di lain sisi.
Raka berdiri mematung. Ia mendengar semuanya, tapi tak satu pun benar-benar mampu ia cerna. Kepalanya mendadak pusing, semua ini-terasa berat, untuk sekedar dipahami.

Bryan melangkah selangkah lebih dekat.
"Kenapa?" tanyanya lirih. "Kenapa aku harus pergi, Alesha? Jawab Aku..."
Alisnya menurun, Matanya menajam, Tatapannya penuh luka-penuh kekecewaan.

"Kamu pergi tanpa jejak... tanpa pernah tahu kebenaran yang sebenarnya. Nggak ada kabar, nggak ada penjelasan, kamu hilang-"

Ia menahan diri sejenak, lalu menatap Raka. Sekilas saja, sebelum kembali menatap Alesha.
"...Kamu bawa pergi anak-anak, kamu rebut hak aku sebagai ayah, dan kamu pikir aku bakal diam? Kamu pikir aku nggak hancur? Kamu kira semua ini selesai cuma karena kamu memilih pergi?"

Alesha terdiam-bukan karena tak ingin bicara, tapi karena seolah tak di beri Ruang. Bryan berbicara tanpa henti-tanpa jeda.

Bryan melanjutkan-
"Dan sekarang..." Suara yang tadinya tenang kini mulai bergetar, tapi bukan karena lemah. Ada amarah yang ditahan, ada luka yang terlalu lama disimpan.

ia menghela napas, mencoba tetap berdiri tegak walau matanya mulai basah.
"...kamu berdiri di depanku, minta aku pergi?"
Bryan menatap Alesha dalam-dalam, seperti mencari sisa hati yang dulu ia kenal.

"Seolah semua ini... cuma masa lalu yang bisa kamu kubur begitu saja?" Bryan tersenyum miris,
rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Tapi matanya-mata itu sudah tak bisa bohong-penuh kecewa yang nyaris menjadi air mata.

Dan saat itu juga-
Raka menatap dalam dua orang di depannya, Langkah Raka perlahan mundur, seperti seseorang yang baru saja dihantam badai dari arah yang tak pernah ia duga.

Tak ada yang sadar ia mulai menjauh.
Tak ada yang menoleh.
Napasnya tak teratur. Dunia terasa melenceng dari porosnya.
Apa yang ia dengar barusan-
bukan sesuatu yang bisa diterima dalam sekali dengar.
Tidak hari ini. Tidak sekarang.

Ia menjauh, seperti seseorang yang takut jatuh di tengah panggung.
Dan akhirnya, ia lenyap di balik tikungan,
meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat ia jawab.

Menjauh dari kebisingan yang memekakkan dada, keluar dari kenyataan yang tak pernah ia duga akan datang secepat ini.

***

Raka berjalan lunglai, menyusuri lorong rumah sakit yang sunyi-seperti kehilangan arah.
Langkahnya gontai dan matanya kosong-seolah dunia baru saja runtuh tepat di hadapannya.

Kepalanya terasa penuh, tapi kosong. Seperti mendengar lagu asing yang terus diputar tanpa tahu kenapa. Kata-kata tadi seharusnya menjawab banyak hal, tapi justru membuat semuanya makin tak masuk akal.

Lamunannya buyar saat tubuhnya tanpa sengaja menabrak seseorang. Raka terhuyung sedikit, lalu menatap dengan bingung ke arah pria yang kini berdiri di hadapannya.

Pria itu tinggi, berkulit cerah, mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku, celana panjang hitam, dan jas hitam yang kini hanya ia jinjing di tangan. Sebuah kacamata putih bertengger rapi di wajahnya. Keduanya sama-sama terdiam sejenak.

Namun, ekspresi pria itu bukan sekadar karena kaget tertabrak-melainkan bingung karena melihat ekspresi wajah Raka yang seperti kehilangan arah dan bingung akan sesuatu.

"M-maaf," ucap Raka pelan, nyaris tak terdengar.

"Ah, iya... nggak apa-apa," jawab pria itu tenang, disertai senyum kecil yang ramah.

Sebelum melanjutkan langkahnya, Raka membungkuk sedikit sebagai tanda maaf. Lalu ia berjalan pergi, kembali menelusuri lorong yang sepi.

Pria itu masih berdiri di tempat, menatap punggung Raka yang perlahan menjauh-diam, tak bergeming. Entah siapa anak itu. Entah luka seperti apa yang sedang ia bawa hari ini.

Namun satu hal terasa jelas:
Punggung itu memikul beban yang terlalu berat untuk dipanggul sendiri.

Dan saat Raka benar-benar menghilang di balik tikungan lorong, pria itu bergumam pelan-lebih seperti doa yang ia selipkan ke udara.

"Semoga langkahmu tetap kuat... meski hatimu sedang lelah."

Next....













Aloo apa kabar semuanya, mudahan-mudahan kalian selalu dalam keadaan baik-baik saja yaa

Maaf yaa kalo aku update nya lamaaaa, maaf dan terimakasih karena sudah mau sabar menunggu.

Dan kalian harus sabar lagi nunggu aku up chapter selanjutnya lagi 😭🙏🏻 yayayayaaaaa

Kalo ada saran dan kritik, komen aja.

(Follow!!!)
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Dan akun Iniiii

Jangan lupa votmenfoll juga, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang