k40: Jendela Yang Memisahkan.

161 9 0
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Langkah Arvan terhenti di depan pintu ruangan Bian. Gagang pintu itu sudah berada dalam genggamannya, namun ia tak kunjung mendorongnya. Jantungnya berdebar kencang, seolah mengingatkan bahwa apa yang ada di balik pintu itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk dihadapi.

“Harus kuat,” bisiknya lirih, lebih seperti mantra yang ia ulang-ulang demi menenangkan diri. Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, lalu perlahan membuka pintu, membiarkan dunia yang menyesakkan itu menyapanya sekali lagi.

Cahaya redup dari lampu ruangan menyambutnya. Aroma khas rumah sakit—perpaduan antiseptik dan udara dingin—seolah menambah sesak di dadanya. Suara monitor detak jantung terdengar pelan namun stabil, menjadi melodi sunyi di antara harapan yang menggantung tipis.

Bian terbaring diam di atas ranjang, wajahnya pucat dengan berbagai selang yang terhubung ke tubuh kecilnya. Pemandangan itu seperti tikaman bagi Arvan. Kakinya lemas, namun ia memaksa dirinya mendekat.

“Cucuku...” suara itu keluar lirih, hampir seperti bisikan. Arvan duduk di kursi di samping ranjang. Tangannya yang kasar dan penuh keriput meraih tangan Bian yang dingin.

“Bangunlah, Nak... Kakek ada di sini. Kakek nggak akan kemana-mana,” ujarnya dengan suara bergetar. Namun, hanya keheningan yang menjawab.

Ia mengusap kepala Bian dengan lembut, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi dahinya. Sentuhannya penuh kehati-hatian, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh. Air matanya jatuh perlahan, membasahi pipinya yang berkerut.

“Kamu tau, Nak...” suaranya serak. “Kakek pernah cerita ke kamu, kan, kalau hidup itu keras? Tapi Kakek nggak pernah siap untuk ini. Melihat kamu begini...” Ia berhenti sejenak, mengusap matanya yang basah.

Kilasan kenangan melintas di pikirannya—wajah Bian kecil yang ceria, tawa riangnya saat bermain layangan di halaman belakang. Suara Bian memanggil dengan penuh semangat, “Kakek, aku menang!”

"Kamu menang karena curang, aku yang menang," balas Raka kecil dengan ekspresi tak terima.

Arvan tersenyum kecil mengingat itu. Tapi senyum itu segera memudar, digantikan rasa perih melihat kenyataan di depannya.

Dan sekarang, anak itu terbaring diam, jauh dari keceriaan yang dulu memenuhi rumah mereka.

“Kakek yang salah ya, Nak? Harusnya Kakek bisa melindungi kamu... Harusnya Kakek yang ada di posisi ini, bukan kamu.” Tangannya menggenggam erat jemari Bian, seolah ingin membagi semua kekuatannya pada cucunya itu.

“Kakek cuma ingin satu hal sekarang: lihat kamu bangun, lihat senyum kamu lagi. Itu saja cukup buat Kakek.” Suaranya kembali terdengar, kali ini lebih lembut.

Tangannya menggengam erat tangan Bian, matanya nanar menatap cucunya yang tak berdaya. Ia merasa tak berdaya menghadapi kenyataan pahit ini. “Kalau Kakek bisa, Kakek ingin mengambil semua rasa sakit ini darimu... Tanpa ragu. Tapi sekarang, yang bisa Kakek lakukan cuma duduk di sini, menunggu kamu bangun."

Ia terdiam sejenak, menarik napas panjang yang terasa berat. “Kalau saja ada cara untuk menukar tempat ini, Nak, Kakek akan melakukannya tanpa berpikir dua kali.” Suaranya bergetar penuh kepiluan. “Kalau Tuhan kasih pilihan buat ganti tempat, biarlah Kakek yang terbaring di sini. Bian nggak pantas dapat semua ini.”

Ia menyeka air mata dengan punggung tangannya. “Nak, hidupmu masih panjang... Kakek rela ngelakuin apa saja, demi kamu.”

Ia menunduk, mencium punggung tangan cucunya yang terasa dingin. “Kalau bisa, biar rasa sakitmu pindah ke Kakek, Nak. Kamu nggak pantas merasakan ini. Kakek yang lebih pantas.”

Doa lirih keluar dari bibirnya, “Tuhan, kalau Kau ingin mengambil seseorang, ambil saja aku. Jangan dia. Jangan anak ini...”

Suara monitor tetap berdetak monoton, menjadi satu-satunya tanda bahwa Bian masih berjuang.

Arvan menghela napas panjang, lalu berbisik lagi, “Kamu ingat nggak, Nak? Kamu pernah bilang kalau Kakek itu pahlawan. Tapi sekarang, pahlawan kamu cuma bisa duduk di sini, nangis, nggak bisa apa-apa. Maafin Kakek, ya...”

Ruangan terasa semakin sunyi. Hanya ada detak jantung di layar monitor, dan detak lain di dada Arvan yang penuh sesak.

Sesaat, Arvan terdiam. Lalu, ia merogoh sakunya, mengambil ponselnya. Tangannya gemetar saat menekan nomor di layar. Setelah beberapa nada sambung, suara di ujung sana terdengar.

Setelah itu,

Ia mengakhiri panggilannya dengan tarikan napas panjang. Tatapannya kembali pada wajah Bian. “Kami semua di sini untukmu, Nak. Jangan menyerah, ya.”

Waktu terus bergulir. Arvan tetap di sana, menggenggam tangan cucunya dengan kuat. Dalam hatinya, ia berbisik, "Kakek nggak peduli harus begadang berapa malam, berapa lama. Selama kamu di sini, Kakek juga di sini."

Malam semakin larut, namun Arvan tak bergeming. Rasa lelah fisik tak ada artinya dibandingkan dengan keteguhan hatinya untuk tetap berada di sisi Bian.

Tanpa disadari, Bryan sudah berdiri sejak tadi di balik kaca luar kamar Bian. Tubuhnya mematung, menatap ruang itu dengan pandangan nanar. Hatinya bergemuruh, tetapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Rasanya sulit dipercaya, tapi fakta itu begitu jelas di hadapannya.

Bryan mengepalkan tangannya, jemarinya bergetar hebat. Seolah tak sanggup menahan badai perasaan yang menggelegak di dalam dirinya. “Jadi selama ini, aku adalah ayah mereka? Bian dan… Raka?”

“Kenapa aku baru tau sekarang? Kenapa aku begitu bodoh sampai tidak menyadarinya?” Hatinya mencelos melihat tubuh BIAN yang terbaring lemah dari kejauhan, begitu ringkih dengan selang dan monitor yang menjadi saksi bisu perjuangan anaknya.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, mengalir perlahan di wajahnya.

“Tapi sekarang aku di sini. Aku tidak akan membiarkannya pergi. Aku janji…” Suara hatinya lirih, nyaris tenggelam.

Bryan melangkah mundur, masih dengan pandangan yang tak lepas dari anak yang pernah ia temui sebelumnya yang selama ini tak ia sadari adalah bagian dari hidupnya.

“Aku harus memperbaiki semuanya. Aku harus ada untuk mereka, apapun caranya.”





Next...

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang