k13: Lima Putaran

383 63 48
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Sudah lima putaran Raka dan Geo berlari mengelilingi lapangan yang luas. Lapangan itu terasa panas, seperti dikepung oleh terik matahari yang menyengat.

Keringat mereka mengucur deras, membasahi pelipis dan tubuh yang terasa semakin berat. Setiap langkah semakin terasa menyakitkan, dan napas mereka mulai tersengal-sengal.

"Hhhheehh, capek!" keluh Geo, tubuhnya terasa seperti dipenuhi beban. Rasanya seperti semua energi sudah habis terkuras.

Ia berhenti sejenak, menyeka keringat yang mengalir deras di wajahnya. Matanya menyipit, berusaha melawan silau sinar matahari yang menusuk tajam. Angin yang biasanya sejuk kini terasa seperti tiupan panas, semakin membuat tubuhnya kelelahan.

BRAK!

Geo terjatuh ke aspal yang kasar setelah terdorong oleh Raka dari belakang, yang masih melaju cepat tanpa sadar. Tubuh mereka jatuh bersamaan, menimbulkan suara benturan yang keras saat mereka terhempas ke tanah.

"AWWWW!" Geo menggerang, rasa sakit menyebar ke seluruh tubuhnya akibat aspal yang keras.

"LO BISA LIHAT GAK SIH?!" Geo berteriak kesal, wajahnya memerah karena marah. Napasnya terengah-engah, dan wajahnya terbakar oleh panas dan kemarahan yang membuncah.

"YA LU NGAPAIN BERHENTI BEGO, GUE KAN GAK TAU!" Raka membalas tak kalah keras dengan suara Geo, nada suaranya penuh emosi.

"Gue kan ngikutin lu dari belakang, gue pikir lu masih lari!" tambahnya, ekspresi wajahnya bingung namun kesal.

Geo melotot, wajahnya semakin merah. "GUE BENCI LO!" Ia menyumpah dengan penuh kebencian, bibirnya terkatup rapat, menunjukkan frustrasi yang luar biasa.

"SAMA! GUE JUGA BENCI LO!" bentaknya, otot-otot rahangnya menegang, menahan amarah yang hampir tak terkendali. "Ngapain sih lo sekolah di sini?!"

Geo balas menatap dengan tatapan tajam, sorot matanya penuh kebencian. "EMANG INI SEKOLAH PUNYA LO?" Ia menyindir, merasa dihina oleh sikap Raka.

"ENGGAK, TAPI GUE BISA BELI SEKOLAH INI!" Raka menyeringai angkuh, menatap Geo dengan tatapan meremehkan, seolah-olah dia yang paling berkuasa. "Lo gak tau siapa gue kan? Gue bisa beli semuanya yang ada di sini!"

"GUE JUGA BISA BELI SEKOLAH INI!" Geo membentak balik. Tatapannya semakin tajam, seakan ingin menantang Raka. "Dan gue gak butuh izin dari lo buat sekolah di sini!"

Suasana semakin menegang, udara di sekitar mereka terasa semakin panas, lebih panas dari sinar matahari yang membakar.

Mereka saling menatap dengan tatapan tajam, setiap kata yang keluar semakin memperburuk jarak di antara mereka.

Kemarahan mereka menyatu dengan panasnya lapangan yang seakan tidak lagi memberi ruang untuk kedamaian.

Kedua remaja itu berdiri, dikelilingi keheningan yang mencekam, Kemarahan mereka terus membara.

Raka akhirnya membalikkan badan dengan angkuh, berjalan meninggalkan Geo yang masih berdiri dengan tatapan penuh amarah.

Namun, langkah Raka terhenti. Ia menyadari sesuatu lalu berbalik badan, menghadap Geo.

Geo menatap dengan alis terangkat, merasa heran.

Raka melangkah mendekat ke Geo, ekspresinya sedikit lebih serius.

"Apa lo?" Geo menantang dengan nada penuh provokasi.

"Gak usah ge'er, ini kurang lima putaran," ujar Raka dengan sinis, menatap Geo dengan tatapan meremehkan.

Setelah itu, ia kembali berlari, meninggalkan Geo yang masih berdiri di tempat.

"Ngeselin lo!" teriak Geo dengan frustrasi, menendang tanah sebagai pelampiasan emosinya.


Next.


Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang