HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
(KALO ADA TYPO KASIH TAU YA! :))
Bryan menatap langit—tatapannya kosong, sendu, tak peduli dengan deras hujan yang mengguyur tubuhnya.
Ia berdiri, membiarkan air menetes dari rambut sampai ke ujung jasnya Dan tentunya, kini dirinya menarik perhatian banyak orang yang berlalu lalang.
'heyy apa yang sedang anda lakukan? Pulanglah ke rumah, cuaca sangat buruk! nanti kau bisa sakit.'
'cari lah tempat untuk berteduh, nak.'
'Di rumah mu pasti banyak orang yang sedang menunggumu, pulanglah! mereka pasti khawatir.'
Bryan tak menggubris satu pun, langkahnya tetap diam di tempat, matanya menatap kosong ke langit yang berkabut.
"Kenapa harus dipisahkan, kalau pada akhirnya dipertemukan lagi?" gumamnya lirih.
Suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan.
"Engkau mau aku berharap sampai sejauh apa lagi? Kenapa aku harus dibuat bingung... seperti ini?"
Ia mengangkat wajah, membiarkan hujan menampar pipinya—entah air hujan, entah air mata, keduanya sulit dibedakan.
***
Di rumah kediaman Alesha, suara dering telepon tiba-tiba memecah keheningan.
Drrttt-Drrttt.
Alesha yang sedang berada di dapur spontan menghentikan kegiatannya. Ia buru-buru mencuci tangan, lalu meraih telepon di meja. Entah kenapa, setiap kali mendengar dering itu, dirinya menjadi tidak tenang.
"Halo... iya, Ayah."
...
"Apa!?"
...
"Alesha akan ke sana sekarang."
Panggilan terputus.
Napas Alesha tercekat, wajahnya mendadak pucat.
Dari arah tangga, Raka turun sambil menenteng koper berisi pakaian ganti untuk Bian dan Kakek. Namun langkahnya terhenti saat melihat wajah bundanya yang panik dan gemetar.
"Bunda, ada apa?" tanyanya cemas.
Alesha menatap Raka—matanya berkaca, suaranya bergetar lalu akhirnya berkata, "Kita harus ke sana... Bian kritis."
.
.
.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Raka langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam, meninggalkan Alesha yang masih mencari tempat parkir.
Ia menemukan Kakek duduk sendirian di kursi tunggu, dengan tatapan kosong dan wajah lelah nya.
Raka segera menghampiri, lalu berlutut di depannya sambil menggenggam tangan sang kakek erat-erat.
"Kakek... gimana keadaan Bian? Bian kenapa?" tanyanya panik, suaranya nyaris bergetar.
Kakek Arvan menatap Raka lama, dan sejenak wajah itu membuatnya teringat pada Bian-mereka benar-benar mirip.
Ia mengelus rambut Raka pelan. "Bian masih ditangani dokter, semuanya bakal baik-baik aja, jangan mikir aneh-aneh," ucapnya lembut.
Raka berdiri tak berdaya lalu duduk disebelah Kakek, menatap lantai tanpa fokus, pikirannya sangat kacau, dadanya sesak.
Ia takut-takut kehilangan Bian.
Tak lama kemudian, Alesha datang. Langkahnya pelan dan langsung duduk di samping Arvan tanpa berkata apa pun, pandangannya kosong, separuh hidupnya seakan hilang. Hanya pasrah yang tersisa.
Arvan menatap wajah lelah putrinya, lalu memeluknya. Di pelukan sang ayah, tangisan Alesha pun pecah.
"Ayah... Bian pasti sembuh, kan? Bian gak akan ninggalin kita, kan?" suaranya lirih dan bergetar di sela isaknya.
"Iya... Bian anak yang kuat, Bian pasti pulih." jawab Arvan tenang, meskipun hati dan pikirannya tidak setenang itu.
Beberapa menit berlalu, Raka tak bisa duduk dengan tenang. Sejak tadi, ia berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang ICU, menatap setiap orang yang keluar masuk dengan tatapan cemas.
Beberapa kali Kakek dan Alesha menegurnya, meminta Raka untuk duduk dan tenang. Namun, setelah melihat wajah Raka yang gelisah tak karuan, akhirnya mereka menyerah.
Beberapa jam kemudian, pintu ruang ICU terbuka.
Seorang dokter keluar dengan wajah sedikit lelah.
Alesha, Arvan, dan Raka serempak berdiri, langkah mereka mendekat bersamaan.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Alesha cemas.
Dokter itu tersenyum kecil. "Anak Anda sudah melewati masa kritis dan sudah bisa di nyatakan Kalo pasien sudah melewati masa-masa koma," katanya. "Sekarang tinggal menunggu proses pemulihan. Pasien masih butuh banyak istirahat."
Alesha menutup mulutnya dengan tangan, menahan tangis lega.
Sementara Raka hanya bisa menatap pintu ruang itu dengan senyum dan mata berkaca, "Terimakasih... karena lo gak milih nyerah. Terimakasih udah mau bertahan, Bian Adiputra." gumamnya pelan.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia menarik napas panjang. Sedikit lebih tenang—meski hatinya masih bergetar.
NEXT...
Ig: wp_ayayti1
Tt: Ayayti | Penulis Pena 📚
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
