k24: Pertarungan Di Koridor

259 28 5
                                        

HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Koridor itu sunyi dalam gemuruh bisik bisik. Puluhan pasang mata menonton, tapi tak satu pun berani mendekat. Di tengah lingkaran itu, dua sosok saling melancarkan pukulan tanpa ampun: Geo dan Bian.

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Geo tersungkur. Darah mengalir di sudut bibirnya, tapi ia tetap bangkit dengan nafas terengah, matanya Tersirat penuh dendam. Ia menyerang balik, tinjunya menghantam rahang Bian keras, membuat tubuh saingannya limbung.

"Sialan!" umpat bian.

Bian kembali berdiri, tangannya mengepal, nafasnya terengah. Bian mendekat, tanpa aba-aba Bian langsung membalas pukulan itu, mereka saling memukul dan...

"BIAN!" Suara Raka memecah kerumunan. Nafasnya tersengal, wajahnya penuh kepanikan melihat saudaranya babak belur. Raka berlari, menerobos kerumunan di ikuti para antek-anteknya, mencoba melerai.

Raka menahan tangan Bian erat erat "Udah, Bi!"

"Lepasin gue, gue harus habisin dia" Bian memberontak, nafasnya berat.

Di sisi lain, Geo yang di tahan Gilang dan Riyan tak kalah panas. "Dasar pengecut!" Teriaknya, matanya menantang.

Seketika Gilang menoyor kepala Geo dengan asal. "Udahlah, diam!"

"Shibal!" Geo memaki. Menatap Gilang tajam. Wajah Gilang memucat, ia bergidik ngeri, mundur tanpa sadar. Namun, sebelum situasi mereda, Bian berhasil melepaskan diri dari genggaman Raka, ia menerjang Geo tanpa aba-aba.

Bugh!

Sekali lagi, Geo tersungkur. Raka segera menarik Bian menjauh. "Bi, cukup! Gue bilang cukup ya, CUKUP!" Ujar Raka, mulai terbawa emosi, nadanya cukup tinggi. Raka menarik kerah seragam Bian dan mendorongnya.

Raka mendekat, menatap Bian tajam. "Nanti kalo guru lihat gimana? lo mau dapat masalah, Hah!?" Lanjutnya, nadanya memohon.

Raka beralih menatap tajam Geo, "Dan lo-" belum sempat Raka melanjutkan perkataannya, suara berat menggema dari belakang.

Suasana yang sudah kacau semakin bertambah buruk ketika suara berat memotret dari belakang. "Ada apa ini?!" Pak Harto, kepala sekolah, muncul dengan wajah marah, di iringi Bu Rina dan beberapa guru lainnya.

Sontak semua murid berpencar. Atmosfer koridor yang sebelumnya penuh ketegangan langsung berubah senyap.

"Bian! Geo! Kenapa muka kalian babak belur?!" Seru Bu Rina, nadanya lembut tapi tegas.

Tak ada jawaban, hanya nafas berat dan tatapan kosong yang di berikan oleh kedua murid itu.

"Semuanya bubar! kalian berdua ikut saya!" Perintah pak harto, suaranya menggema di sepanjang koridor.

Mendengar itu, Geo langsung menepis tangan Gilang dan Riyan yang masih menahan lengannya. Gerakannya cepat, penuh emosi.

"Heh, santai, Sensei!" ledek Riyan, sambil pura-pura memasang kuda-kuda kungfu.

***

Di ruang kepala sekolah, suasana sunyi. Bian, Geo, Raka, Pak Harto, dan Bu Rina duduk dalam ketegangan yang menggantung. Awalnya, pak harto menolak Raka ikut masuk, tapi Bian bersikeras Tak mau melangkahkan kaki tanpa Raka. Dengan berat hati, Pak Harto mengalah.

Di luar. Gilang, riyan dan bima senantiasa menunggu dengan sedikit gelisah, sesekali mencoba menguping di balik pintu.

Pak Harto menghela napas panjang, tatapannya penuh kekecewaan, "Kalian ini sudah besar, masih saja berkelahi seperti anak kecil, gak malu apa?!" Suaranya tajam, menusuk seperti sembilu.

"Bian, Geo, bisa di jelaskan kenapa kalian bertengkar?" Bu Rina menambahkan, mencoba lebih lembut dan tenang.

Sementara bian dan geo yang sejak tadi menunduk sekali kali melirik satu sama lain dengan tajam.

Bian mengangkat wajahnya, sorot matanya penuh emosi. "Dia menjelek-jelekkan tentang mendiang ayah saya. Dia bilang... Ayah saya selingkuh dari bunda saya!" Katanya, suaranya bergetar.

Geo mengangkat alis, sebuah senyum sinis terbentuk di wajahnya. "Tapi itu fakta," balasnya, santai namun penuh duri.

Bian mendengus keras. "Ayah gue udah meninggal, BEGO! Gimana ceritanya dia bisa selingkuh? Gentayangan, hah?! Gak usah ikut campur urusan keluarga gue, lo tau apa tentang keluarga gue, emang lo siapa?" Katanya dengan nada tinggi, hampir berdiri, tapi Raka buru-buru menahan pundaknya.

"Jaga mulut kamu, Bian!" Tegur Pak Harto dengan nada tajam.

Bian mengepalkan tangan. "Maaf, Pak," katanya lirih, tapi emosinya belum mereda.

Pak Harto menatap keduanya dengan ekspresi lelah. "Saya akan memanggil orang tua kalian, mereka harus tau soal ini,"

Semua mata langsung menoleh, panik.

"obati luka kalian di uks, setelah ini kita bicara lagi," perintah pak Harto dengan suara tegas.

"Baik pak" jawab mereka serempak, nyaris berbisik.

Saat hendak keluar, Raka membuka pintu. Tanpa disangka, tubuh seseorang langsung ambruk ke lantai, membuat semua orang di dalam ruangan terkejut.

Rupanya, Gilang yang terlalu dekat dengan pintu saat menguping menjadi korban pertama. Belum sempat bangun, tubuh Riyan menyusul jatuh menimpanya, disusul Bima yang tersungkur terakhir, menutup "formasi" dengan sempurna.

Pak Harto menggelengkan kepala, memijat pelipisnya perlahan. "Luar biasa," ucapnya datar, namun sarat akan lelah.

Next...

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang