HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bryan menghela napas, mencoba menenangkan suasana. Namun, sebelum ia bisa mengatakan sesuatu, suara seorang perempuan memotong dengan tajam.
"Berhenti bicara seolah musibah ini salah kami!"
Aletta mendekat, berdiri di antara Bryan dan Raka. Ia menatap Raka dengan sorot penuh amarah. "Ini musibah! Siapa pun nggak ada yang mau ini terjadi. Jadi berhenti nyalahin kami!"
Raka membalas tatapannya dengan dingin. "Musibah?" Katanya pelan, tapi tegas.
"Anak kalian yang bikin Bian sampai kayak gini. Kalau aja Geo nggak ada di sana, Bian nggak harus jadi penyelamat, dan dia nggak bakal terbaring di ruang UGD sekarang!" Suaranya bergetar, tapi ia tetap mencoba menahan air mata.
Aletta terdiam sesaat, mencoba menguasai diri. Namun, kemarahannya tak terbendung lagi. Ia mendekat selangkah, kali ini suaranya lebih rendah tapi penuh kemarahan yang terpendam. "Geo juga korban... Jadi, Jangan bertingkah seolah cuma Bian yang paling menderita di sini!"
"Korban?" Raka tertawa kecil, getir. Ia melirik ke arah pintu UGD yang masih tertutup rapat di ujung lorong. "Geo cuma trauma. Sementara Bian? Dia sekarat. Anda pikir itu setara?!"
Bryan maju, mencoba menengahi. "Raka, cukup," katanya lembut, namun tegas.
Namun Raka tidak menggubris. Ia mendekat ke Aletta, tatapannya dingin seperti es. "Kalian ini terlalu banyak drama. Saya tidak butuh itu. Jangan kira saya tidak tau apa yang sebenarnya kalian rencanakan dan permainan busuk kalian!"
Bryan mengerutkan kening, bingung dengan tuduhan Raka. "Rencana? Permainan? Maksudmu apa?" tanyanya, mencoba memahami situasi.
Raka menyeringai kecil, getir, lalu menyapu pandangannya pada Bryan dan Aletta. "Jangan pura-pura nggak tau. Anda sengaja mendekati saya seolah olah menenangkan saya. Anda takut kalo saya libatkan Geo kepolisi. Anda hanya takut saya melaporkan Geo ke polisi. Anda takut anak Anda masuk penjara, kan?"
Bryan menggeleng cepat, ekspresinya menunjukkan ketidaksetujuan. "Apa? Tidak! Saya bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu, Raka!"
Bryan hendak ingin mendekati Raka, tapi Raka langsung menghindar. Bryan menghela nafas, memijat pelipis seolah tidak tau harus berbuat apa. saat hendak ingin berbicara, tiba tiba..
Aletta melangkah maju seolah tidak terima dengan ucapan Raka dan hendak ingin membalas. Aletta menunjuk Raka dengan jarinya "Kamu-" Tapi Raka langsung memotong.
"Dan satu lagi," ucap Raka, "berhenti tunjuk-tunjuk saya dengan tangan munafik dan licik itu."
Aletta tertegun. Kata-kata itu menusuk dalam, membuatnya tidak mampu berkata apa-apa lagi.
Kata-kata Raka seperti tamparan keras. Aletta terdiam, kaku di tempatnya. Bryan mencoba mengendalikan situasi, tapi suaranya tenggelam di antara ketegangan mereka. "Raka..."
Namun, Raka menatap Bryan sekilas sebelum pandangannya beralih.
Bryan mendekat, mencoba menenangkan Raka. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat perubahan di wajah pemuda itu. Dari tatapan tajam, mata Raka perlahan kosong, lalu berubah sendu.
Matanya tiba-tiba berubah, sorot dinginnya lenyap, digantikan oleh air mata yang tak bisa lagi ia tahan. Dari kejauhan Ia melihat seseorang berdiri memperhatikan dirinya.
Raka tersenyum kecil—lalu air matanya jatuh. "Kakek..." lirihnya.
Brian dan Aletta serentak menoleh ke belakang, mengikuti arah pandangan Raka.
Di ujung lorong, seorang pria tua berdiri dengan tenang. Wajahnya keriput, tenang, namun matanya menyiratkan luka yang dalam. tetapi seperti yang di lihat sorot matanya memancarkan kekuatan dan kasih sayang. Ia membuka kedua tangannya, seolah memanggil Raka.
Tanpa ragu, Raka berlari mendekati pria itu, memeluknya erat. Air matanya tumpah, terisak dalam pelukan sang kakek. Tangisnya pecah, sendu, seperti anak kecil yang menemukan perlindungannya kembali. "Kakek, Bian... Bian kecelakaan. Dia di sana, kek... dia kritis!"
Kakek Arvan mengusap kepala Raka lembut, menenangkan cucunya yang menangis. "Sudah, Raka. Jangan nangis terus, ya. Bian pasti sembuh. Kamu harus kuat. Anak laki-laki nggak boleh cengeng," ucapnya, suaranya penuh kasih sayang.
Bryan berdiri terpaku, menatap pria itu dengan mata tak percaya. "Ayah?" bisiknya nyaris tak terdengar. Matanya berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun ia mencari sosok ini—dan kini, sosok itu berdiri di hadapannya.
Dan yang lebih mengejutkan—kakek Arvan memeluk Raka.
Apa... Raka anaknya?
Kakek Arvan mengangkat wajah, matanya sekilas menatap Bryan dingin, tatapannya tajam penuh kebencian yang tidak bisa ia sembunyikan. Lalu kembali fokus pada Raka.
Aletta, yang berdiri di samping Bryan, menggenggam tangannya dengan gugup. Tapi Bryan menepisnya, membuat Aletta terkejut.
"Kenapa... kenapa dia ada di sini?" gumam Aletta dalam hati. Lalu mundur satu langkah. Muka nya pucat, cemas dan gelisah.
Raka tetap berada di pelukan kakeknya, merasa lebih tenang meski suasana di sekitarnya semakin tegang. Di tengah kerumitan itu, luka yang belum sembuh mulai terkuak, membawa kembali kenangan lama yang telah lama disembunyikan rapat-rapat..
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
