HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bandara ✈️
Pemberitahuan kepada seluruh penumpang penerbangan Indonesia menuju Amerika dengan nomor penerbangan 87******, harap segera berkumpul di area tunggu. Pesawat akan segera berangkat. Terima kasih.
Pengumuman itu menggema, seperti lonceng yang berdentang, mengingatkan semua orang bahwa perpisahan memang tidak pernah memberi waktu lebih. Alesha berdiri diam di tengah keramaian, menatap dua anaknya yang kini menjadi satu-satunya alasan hatinya terasa berat meninggalkan tempat ini.
Raka dan Bian berdiri di depannya. Mereka mencoba tersenyum, tetapi Alesha tau, senyum itu hanya kedok dari hati yang sedang memberontak.
"Bunda berangkat dulu, ya," ucapnya lirih, suaranya hampir tenggelam dalam riuh rendah bandara.
Raka melangkah mendekat, tubuhnya yang biasanya kokoh kini terasa rapuh dalam pelukan ibunya. "Bunda jaga diri, ya," bisiknya, nyaris seperti anak kecil yang tak ingin kehilangan mainan kesayangannya.
Bian menyusul, memeluk ibunya lebih erat, seolah ingin menahan waktu. "Bian pasti bakal kangen banget sama Bunda. Jangan lupa kasih kabar tiap hari ya, bun" katanya, mencoba terdengar ceria, tapi suaranya sedikit bergetar.
Alesha menatap keduanya dengan senyum kecil. "Kalian juga jaga diri, ya. Jangan berantem. Ingat, kalian cuma punya satu sama lain." Ia mengecup kening mereka, berharap kehangatan itu bisa menetap di hati anak-anaknya selama ia pergi.
Tatapannya kemudian beralih pada Arvan, ayahnya. "Titip Raka dan Bian ya, Ayah," katanya sambil menggenggam tangan ayahnya erat.
Arvan tersenyum penuh keyakinan. "Kamu nggak usah khawatir. Ayah akan jaga mereka. Kamu fokus aja di sana."
Alesha mengangguk pelan, lalu mengambil langkah pertama untuk beranjak pergi. Tapi setiap langkah terasa seperti duri yang menancap di hatinya. Dari balik pintu keberangkatan, ia masih melambaikan tangan, mencoba memberikan senyum terakhir yang penuh harapan.
Di belakangnya, Raka dan Bian hanya bisa berdiri terpaku.
Bian akhirnya melirik kearah Raka dengan senyum nakal. "Mau nangis, ya?" godanya.
Raka mendengus. "Kalau aku nangis, kamu juga bakal ikut nangis, kan?"
Bian tergelak pelan, lalu merangkul pundak Raka.
"Bener juga, sih. Kalau kamu nangis, nanti aku juga ikutan kayak anak kecil," ujarnya sambil berpura-pura berpikir.
Mereka tertawa kecil, meski rindu sudah mulai mengintip di sela-sela candaan. Dalam keheningan yang mengikuti, mereka berdiri berdampingan, menatap pintu keberangkatan yang sudah menutup, menyimpan rasa kehilangan yang perlahan-lahan menjadi cerita di hati mereka.
Rindu mungkin akan datang dengan diam-diam, tetapi mereka tau, cinta Bunda selalu ada di antara mereka, tak peduli seberapa jauh jaraknya.
"Kita nggak akan lihat Bunda tiap hari lagi, ya," gumam Raka pelan, nadanya hampir seperti anak kecil yang kehilangan arah.
Bian menoleh. "Bunda pergi buat sesuatu yang penting. Lagian, nanti kalo udah selesai sama urusannya, Bunda juga bakal pulang dan kita bisa kumpul bareng-bareng lagi."
"Tau, sih. Tapi tetep aja rasanya aneh."
Keheningan itu terpecah oleh suara berat dari belakang mereka.
"Apa kalian lupa kalau Kakek masih di sini? Atau Kakek sudah transparan sekarang?" suara itu membuat Raka dan Bian tersentak.
Serempak, mereka menoleh. Kakek Arvan berdiri dengan tangan bersedekap, alis terangkat, tapi ada senyum kecil yang terselip di wajahnya.
"Eh, Kakek!" seru Bian, nada canggungnya jelas terdengar.
"Jadi kalian lebih sibuk mikirin Bunda daripada Kakek yang udah pegal-pegal nungguin di sini?" goda Kakek Arvan.
Raka menggaruk kepalanya. "Hehe, maaf, Kek. Tapi emang sedih aja."
Kakek Arvan menghela napas panjang, lalu mendekat dan menepuk bahu keduanya dengan lembut. "Mikirin Bunda boleh, sedih juga wajar. Tapi jangan lupa bawa kakek pulang. kalian gak kasian sama kakek, lihat.. punggung Kakek hampir encok, tauk!"
Bian terkekeh kecil. "Oke-oke kita pulang sekarang ya kakek."
"Nah, itu baru cucu kakek."
Kakek Arvan kemudian menggandeng pundak kedua cucunya dan membawa mereka berjalan ke arah pintu keluar. "Ayo pulang. Jangan terlalu larut sama perasaan sedih. Bunda kalian nggak akan senang kalau tau kalian cemberut terus di sini."
"Kita kan laki-laki, nggak boleh cengeng."
"Bagus. Laki-laki memang harus kuat," sahut Kakek, menepuk bahu keduanya. "Tapi inget, jangan larut dalam sedih. Bunda kalian pasti nggak mau lihat kalian murung terus."
"Siap, Kek!" jawab Raka dan Bian serempak.
Senyum pelan mulai tersungging di bibir Raka dan Bian. Tapi suasana tenang itu tak bertahan lama.
sebelum mereka berjalan menuju pintu keluar, Raka tiba-tiba berhenti. "Kek, aku laper," katanya, nada polosnya membuat Bian menghela napas panjang.
"Makan mulu yang dipikirin," sahut Bian sambil melirik kesal.
"Sewot aja," balas Raka.
Kakek Arvan tertawa kecil melihat interaksi keduanya. "Ayo, kita makan. Kakek traktir. Anggap ini pengalihan rasa sedih kalian."
Mereka akhirnya melangkah bersama, meninggalkan rasa berat di belakang. Di sepanjang perjalanan, candaan kecil terus mengisi keheningan. Mereka tau rindu akan datang, tapi cinta seorang ibu yang selalu hadir dalam hati mereka akan menjadi alasan untuk tetap tersenyum, seberapa jauh pun jaraknya.
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
