HAPPY READING
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kringgggggg.
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, seolah membuka gerbang kebebasan. Anak-anak langsung berhamburan keluar, seperti burung yang dilepas dari sangkarnya. Di antara keramaian itu, terdengar percakapan ringan penuh rencana.
Nanti keluar?
Boleh,
Mumpung besok Minggu,
Gimana kalo Nanti malam?
Boleh-boleh,
Okee.
Seperti janji-janji remaja, singkat tapi penuh Makna.
Sepulang sekolah, Raka dan Bian merebahkan diri di sofa. Sebelum mandi dan bersiap-siap, mereka memberi waktu tubuh untuk sedikit bersantai.
Di luar, matahari sore menerobos jendela, menciptakan bayangan lembut di dinding rumah. Cahaya hangat itu memenuhi ruangan, membawa ketenangan yang jarang disadari.
Tak lama, mereka sudah mengganti pakaian, rapi dan wangi, siap untuk menghadapi malam yang panjang.
Di meja makan, Raka, Bian, dan Kakek Arvan menikmati roti dengan selai cokelat. Tapi tentu saja, perhatian Raka terpecah—antara gigitan roti dan layar ponselnya.
“Makan dulu, ponsel nya di taro,” tegur Kakek Arvan dengan nada tegas tapi lembut.
“Bentar, kek,” jawab Raka santai tanpa mengangkat pandangan dari layar.
Kakek Arvan hanya menggelengkan kepala sambil menyeruput teh hangatnya.
___________________________________________________
|Grup Chat – The Boys |
Hilang
| Udah pada siap belum, nih?
Yan Iyan
| Udahhhhhhhhhhhhhhh!
Masih Sarapan
(Sertakan foto roti dan teh hangat)
Hilang
| Kelihatannya enak tuh. Bagi dong.
Boleh|
Satu roti, satu miliar|
Hilang
| Mahal amat! Gak jadi, deh.
Bimaa
| Dasar miskin.
Yan Iyan
| Bima, kalau ngomong suka bener, ya. Wkwkwk.
Hilang
| Kata siapa gue miskin, hah?
Bimaa
| Kata siapa, yaa...
Biannnnnn
| Kalian ngomong apa sih? Gak jelas banget.
Sssss, lu gak diajak, Bi|
Gue habis ini otw|
Nanti kumpul di lokasi yang gue Sherlock|
___________________________________________________
Di garasi, Kakek Arvan berdiri bersama kedua cucunya, sedikit tersenyum.
“Kakek ikut boleh?” tanyanya, dengan raut penuh optimisme.
“Gak boleh!” jawab Raka dan Bian kompak, membuat Kakek Arvan terkejut, lalu tersenyum kecil.
“Serius, gak boleh ikut?” tanyanya lagi, masih menggantungkan harapan kecil.
“Gak boleh, Kek. Kapan-kapan aja ya,” kata Bian sambil mengenakan helmnya, nada suaranya tetap lembut.
“Soalnya ini tongkrongan anak muda SMA, Kek,” tambah Raka dengan senyuman nakal.
Kakek Arvan tertawa kecil, menggeleng pelan. “Dasar anak-anak nakal.”
Namun, sebelum mereka pergi, Kakek Arvan memeluk Raka dan Bian. Pelukan itu hangat, seperti matahari sore yang baru saja mereka tinggalkan di dalam rumah. Bahagia itu sederhana, kadang hanya sesederhana menyaksikan cucu-cucu tumbuh dewasa.
“Hati-hati di jalan. Jangan ngebut, pelan-pelan aja bawa motornya,” pesannya lembut.
Raka dan Bian tersenyum sambil mengangguk, masih dalam pelukan kakek mereka. Setelah beberapa saat, pelukan itu dilepaskan.
Raka mulai menyalakan motor, sedangkan Bian, dengan helm yang kacanya masih terbuka, melirik ke arah Kakek Arvan. Ia tersenyum tipis lalu melambaikan tangan.
Motor pun melaju, membawa mereka menjauh. Dari kejauhan, Kakek Arvan tetap berdiri, menatap punggung cucu-cucunya yang perlahan menghilang di ujung jalan. Ia tersenyum kecil sebelum kembali memasuki rumah.
Next...
Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti
Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Teen FictionCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
