44: Raka bingung. Pertemuan Bryan dan Alesha?

194 11 2
                                        

HAPPY READING

Kalo ada typo komen ya :)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Terdengar suara langkah kaki.

Raka dan Bryan, yang masih sibuk dalam ego masing-masing, tak menggubris suara itu. Mereka tetap terpaku dalam diam yang panas. Tapi suara langkah itu semakin dekat. Semakin jelas.

"Kalo bukan karena menyelamatkan anak Anda, Bian gak akan sampai terbaring di sini! Jelas?!"

Suara Raka melengking tajam.

Bryan tertegun. Terdiam.
Mulutnya terasa kelu, seolah seluruh kata yang selama ini ia simpan hilang begitu saja. Semua penjelasan, semua alasan, seketika terasa tak lagi berarti di hadapan Raka.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah kata-kata Raka.
Tapi bagaimana Raka mengucapkannya—nada suara itu, terasa menyakitkan untuknya.

Bryan tak pernah membayangkan akan berada di situasi seperti ini. Dihadapkan oleh anaknya sendiri yang kini menatapnya seolah ia adalah orang asing.

Sementara Raka hanya mendengus. Dalam hati, sebenarnya ia merasa tak enak hati telah berkata kasar kepada seseorang yang jauh lebih tua daripada—apalagi sampai membentak.
Tapi… apa boleh buat?
Di matanya, Bryan selalu saja membuatnya jengkel. Membuat emosi yang susah payah ia tahan kembali meledak.

Raka memalingkan wajah. Ia ingin mengalihkan pandangan, menjauh sejenak dari sosok yang kini membuat dadanya sesak.

Dan saat itulah—
Matanya menangkap sosok seseorang.

Seorang wanita, memakai jaket hijau, rambut sebahu, dan kacamata yang tak lepas dari wajahnya. Langkahnya cepat, seperti sengaja
berbalik arah untuk menghindar.

Tapi…

Kening Raka berkerut. Ada yang terasa tak asing. Pandangannya mengikuti gerak wanita itu dengan seksama.

Dia tidak memperhatikan Bryan lagi. Sosok pria itu kini seakan menghilang dari fokusnya.

Yang penting sekarang: wanita itu.

Ia tahu dia mengenalnya.

Namun wanita itu keburu pergi. Raka segera melangkah cepat, nyaris berlari, mengejarnya.

Bryan menatap heran, melihat Raka tiba-tiba berlari tanpa penjelasan. Ia memanggil namanya beberapa kali—
Tapi tak digubris.

“Bunda!!!” teriak Raka.

Langkahnya terhenti, ngos-ngosan karena berlari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Langkahnya terhenti, ngos-ngosan karena berlari. Suaranya nyaring, menggema di koridor itu.

Wanita itu pun ikut terhenti. Tubuhnya membeku. Ia masih membelakangi Raka.

Raka melangkah pelan, hati-hati, seolah takut sosok itu akan menghilang jika ia terburu-buru.

Saat sudah berada di hadapannya, Raka tersenyum lebar.
Di balik kacamata wanita itu, matanya membalas tatapan Raka—dalam diam, menyimpan sesuatu yang hangat dan rindu.

Ia tersentak saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk erat oleh Raka. ia pun segera membalas pelukan itu, memeluk putranya erat-erat, mengelus rambut dan punggungnya dengan lembut. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Bunda, ih… kenapa gak bilang kalau Bunda udah pulang? Dan kenapa gak nyamperin Raka tadi? Malah pergi begitu aja,” gerutu Raka manja, seperti anak kecil yang ngambek.

Alesha hanya terkekeh, lalu melepas kacamatanya.

Ia tak menjawab.
Tapi matanya berbicara banyak hal.

Tanpa mereka sadari—di belakang sana, Bryan berdiri diam.

Ia menyaksikan semuanya dari tadi.

Dua orang itu.
Pelukan itu.
Tawa kecil itu.
Tatapan yang hangat itu.

Ia tak bisa menahan—matanya mulai berkaca-kaca. Tapi tak ada suara, tak ada gerakan. Ia hanya berdiri diam, menatap dari kejauhan. Ada yang aneh di dadanya. Perasaan itu… tak seperti biasanya.

Wanita yang sangat ia cintai.
Wanita yang selama ini ia cari.
Wanita yang bertahun-tahun menghilang tanpa kabar… kini, ia melihatnya.

“Alesha…” gumamnya pelan.

Perlahan, Bryan melangkah.
Setiap langkah terasa berat. Tapi langkah itu seolah memaksa dirinya untuk maju.
Mendekati dua orang yang sangat berarti untuknya—Alesha dan Raka.

“Alesha,” panggilnya sekali lagi, kali ini lebih dekat. Tepat di belakang punggung wanita itu.

Alesha terdiam.
Tak menggubris.
Tak membalikkan badan.

Tapi Bryan tau, Alesha mendengarnya.

Alesha mengenali suara itu.
Suara yang mungkin sudah lama terkubur bersama masa lalu yang tak ingin diungkit.
Wajah Alesha pucat. Matanya kosong. Tapi hatinya… sakit.

Raka menoleh ke arah Bryan. Keningnya berkerut.
Matanya menatap pria itu dengan bingung.
‘Kenapa dia tahu nama Bunda?’ pikirnya.

Ia memalingkan wajah ke arah Bundanya.
Wajah itu terlihat seperti kehilangan warna. Pucat, tak seperti biasanya.

“Bunda?” panggil Raka pelan.

Alesha terdiam sejenak, matanya berkedip pelan, seolah berusaha menyembunyikan gejolak di dalam dada. Ia menghela napas, lalu menoleh sedikit—tanpa benar-benar melihat Bryan.

Dengan cepat, ia meraih tangan Raka, menggenggamnya erat. “Kita pergi dari sini,” ucapnya pelan tapi tegas.

Raka sempat menahan langkahnya. Ada keraguan di matanya, tapi ia tak berkata apa-apa. Meski pikirannya dipenuhi tanya, langkah kakinya tetap mengikuti arah Bundanya.

Namun sebelum benar-benar pergi, Raka sempat menoleh. Tatapannya jatuh ke pria yang tadi memanggil nama Bundanya—pandangan yang tak bisa ia artikan, campuran antara bingung dan curiga.

Siapa dia sebenarnya?
Kenapa dia tau nama Bunda?
Apa yang sebenarnya terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk dalam pikirannya, tapi ia memilih diam. Ia menghela napas, lalu mengalihkan pandang. Tak ingin menambah beban. Yang ia tahu pasti, Bundanya terlihat tidak baik-baik saja.

Tanpa banyak bicara, Raka merangkul pundak Alesha. Erat.
Karena saat ini, itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

Belum beberapa langkah mereka berjalan, langkah itu kembali terhenti.

Seseorang menahan mereka.

Bryan—dengan tangan gemetar—menyentuh lengan Alesha, seolah tak rela membiarkannya pergi begitu saja. Sentuhan yang pelan, tapi cukup untuk menghentikan segalanya.

Alesha menunduk, menatap tangan yang menggenggam lengannya.

Kemudian perlahan, ia mendongak. Menatap wajah itu.

Wajah yang dulu begitu ia cintai.
Wajah yang memberinya luka paling dalam—luka yang diam-diam ia rawat selama bertahun-tahun.
Wajah yang kini berdiri di hadapannya… dengan tatapan yang sama rapuhnya.

“Alesha… jangan pergi lagi.”

Alesha tak menjawab.
Ia hanya menatap.
Dan dalam tatapan itu, tersimpan begitu banyak kenangan yang tak bisa diucapkan.
Jarak di antara mereka begitu dekat, tapi rasanya seperti dunia membentang luas dan asing di antara keduanya.

Next...






Terimakasih yaa semuanya udah sabar nunggu aku up, di tunggu up selanjutnya yaaaa

Jaga diri, jaga kesehatan, dan jaga hati... Biar ga salah dalam mencintai eakkkk 🤣

Ig: wp_ayayti1
Tt: ayayti

Jangan lupa votmenfoll, terimakasih.

KARAFERNELIA Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang