HAPPY READING
Kalo ada typo komen ya :)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ada apa ini sebenarnya?"
Raka menjatuhkan diri ke kursi dengan kasar. Jantungnya berdetak tidak beraturan, nafasnya memburu, wajahnya menggambarkan kebingungan yang tak bisa disembunyikan. Ia menunduk sejenak, kedua tangannya mengepal erat di atas lututnya—seolah sedang menahan sesuatu yang bergemuruh di dalam dada, nyaris tak bisa dikendalikan.
"Apa yang baru aja gue denger tadi?! Gila.. benar-benar nggak masuk akal!" Serunya. Suaranya terdengar getir, matanya liar, dipenuhi kebingungan dan kemarahan yang bercampur jadi satu.
"Siapa dia, dan kenapa dia ngomong kayak gitu?!"
Ia mengacak-acak rambutnya frustasi, lalu menatap kosong ke depan—mencari jawaban yang bahkan belum ada bentuknya.
"Dengan kamu pergi jauh-—menghilang ke ujung dunia sekalipun, dan dengan sengaja menjauhkan aku dari anak anak ku, kamu rasa kamu bisa hidup dengan tenang?"
Kata-kata itu bergeming di kepalanya, apa maksud dari kata-kata itu? Dipikirannya ia mencoba menebak, Bunda pernah menikah dengan orang itu lalu bunda punya anak sebelum dirinya dan bian terus bunda pergi ninggalin orang itu dan bawa anak anak nya atau dulu bunda pernah jadi baby sitter anak anaknya dia terus bunda culik anak anaknya? Ah gak mungkin bunda kayak gitu, bunda udah berkecukupan dari kecil ngapain mau jadi baby sitter terus pake nyulik anak orang? Pemikiran macam apa ini.
Raka terdiam—tatapannya kosong, mencoba berusaha berpikir lebih keras tapi nyatanya ia malah frustasi sendiri.
"Raka.." suara dari samping itu menyadarkan lamunan nya, ia tau suara siapa itu tapi dirinya memiliki tidak menoleh tatapannya tetap menuju lantai.
"Bunda, asal bunda tau Raka benar-benar frustasi, tolong.. tolong jelaskan apa yang sudah terjadi, Raka tau Bunda sembunyikan sesuatu kan dari Raka? Kasih tau Raka semuanya jangan ada yang di tutup-tutupi, Raka udah besar bukan anak kecil lagi, yang bisa Bunda bohongi." Ujar Raka sembari menggenggam tangan Alesha, tatapannya sendu seperti anak kecil yang sedih karena tidak di belikan ice cream.
Mendengar itu Alesha melepaskan genggaman tangan Raka dari tangannya ia bersandar di kursi—terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu entah ia harus memberitahu Raka atau tidak, ia benar-benar bingung.
"Kalo kamu mau tau apa yang sudah terjadi, berarti kamu Juga harus siapa menerima kenyataan ini, apa kamu yakin bisa menerima ini semua?"
Deg!
Mendengar itu jantung Raka berdetak begitu cepat ia penasaran tapi dirinya juga takut akan kenyataan yang bunda maksud itu, apa semenyeramkan itu? Pikirnya.
"Iya!" Jawab Raka dengan lantang, ia begitu yakin, tidak peduli semenyeramkan apa kenyataan itu, itu bisa di atasi belakangan, yang terpenting dirinya tidak penasaran lagi.
"Dia ayah kamu."
Dan saat itu senyum Raka luntur, bagaikan petir yang menyambar ia tidak bergeming rasanya mulut terasa kaku membisu.
"Ayah?" Batinnya.
Kenyataan macam apa ini?
"Ayah?" Tanyanya pelan ke arah Alesha, dirinya berharap ia salah mendengar pernyataan itu.
Alesha mengangguk.
Raka menggenggam kuat ujung kursi, mencoba menenangkan dirinya, Raka masih benar-benar tidak percaya akan kenyataan ini, ini semua seperti mimpi—jika memang benar ini adalah sebuah mimpi maka Raka berharap dirinya segera bangun dari mimpi buruk ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARAFERNELIA
Roman pour AdolescentsCerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu...
